
Kamis pagi, Raya yang sudah selesai memasak sarapan dan langsung mandi. Saat masuk ke kamar, dilihatnya sang suami masih asik tidur sambil memeluk guling.
"Bib! Bangun! Udah siang." Raya menepuk-nepuk kaki Dian.
"Hm." Dian hanya menggeliat sebentar, lalu kembali tidur.
"Bangun, Bib. Katanya hari ini pengumuman kelulusan. Ntar kesiangan loh." Raya menarik selimut yang menutupi tubuh suaminya.
"Ups! Lupa aku kalo bibibku masih polos, alias belum pake baju." Raya terkekeh sambil menutupi kembali tubuh polos sang suami. Wajahnya pun merona mengingat pergelutan mereka semalam.
"Gak nyangka gue yang udah dewasa ini diajari sama bocah soal Mumu dan Juju. Ternyata berudu lebih pandai dari katak berenangnya. Wkwkwkw." Raya tergelak karena pikirannya sendiri.
"Kenapa ketawa-ketawa sendiri, Yank? Pasti inget semalem ya?!" goda Dian yang rupanya sudah bangun dari tidurnya.
Raya nyengir lucu, bikin Dian mesem-mesem, mesum.
"Pengen lagi ya?" godanya lagi. "Yuk! Mumu selalu siap sedia, kapan saja dan dimana saja kalo buat Juju mah." sahutnya lagi, gokil. Alisnya yang turun-naik sengaja dimainkannya untuk menggoda sang istri.
"Apaan sih, Bib?! Bangun cepetan. Mandi." dengan usil Raya mencabut bulu kaki Dian.
"Aww! Sakit, Yank. Ihh!" Dian pun terbangun dan duduk sambil mengusap-usap betisnya yang nyeri.
"Cepetan, Bib. Aku mau berangkat kuliah ini." Raya menarik tubuh sexy sang suami secara paksa.
Tap. Brukk!
"Adduhh!"
Cup.
Raya mendelik sewot saat Dian menariknya balik hingga tubuhnya oleng dan terjatuh menimpa sang suami yang langsung memeluknya dan mengecup bibirnya.
Cup.
Kecupan kedua Raya dapatkan lagi. Ia pun berusaha bangun. Tapi Dian malah mempererat pelukannya.
"Mumu masih pengen lagi. Juju mau ya sparing lagi sama Mumu? Dua ronde aja." rayu Dian. Tangannya membelai nakal tubuh sang istri.
"Mesum, ihh!" Raya menepis pelan tangan jahil sang suami.
"Ayolah, Yank. Sebentar aja." rayuan maut pun Dian kerahkan demi kesejahteraan Mumunya. Diciumnya gemas seluruh wajah Raya sambil menggelitiknya.
"Hahahaha. Geli, Bib. Udah, ah. Nanti kamu terlambat ke sekolah. Hahahaha." seru Raya sembari tertawa dan menggeliat geli.
"Mau ya?" Dian menatap istrinya penuh harap dengan wajah polosnya.
Hufh.
"Iya, deh. Ayo." mau gak mau Raya pun menuruti kemauan suami brondongnya.
"Bisa ngambek gak mau ke sekolah nih bocah kalo gak dituruti maunya. Nasib gue gini amat yak punya laki bocah!" Raya menggumam pasrah.
Dian langsung memberi luma*an lembut di bibir sang istri. Dan ciuman itu pun semakin dalam dan menggairahkan hingga Raya tanpa sadar mendesah saat lidah Dian bermain di leher mulusnya.
"Aku mau kamu yang di atas." bisik Dian dengan suara serak yang menambah point sexy dalam dirinya.
Dengan wajah merah merona Raya pun melaksanakan tugasnya. Malu ia rasakan saat melihat senyum tampan sang suami ketika keduanya bertatapan penuh gairah.
Dian membelai lembut wajah sang istri, kemudian menciumnya lagi. Bibir yang membuatnya candu itu terasa manis dan ingin terus ia nikmati.
Tangan nakal Dian sudah menyusuri tubuh sang istri, dan berakhir di dua squishy kembar milik Raya.
Tiba-tiba Raya bangun dari atas tubuh Dian, membuat pria tampan itu mengernyitkan dahinya.
"Loh, Yank..."
"Udah siang, Bib. Ntar malem lagi aja sparingnya. Gak enak sama mama-papa kalo kita terlambat." Raya berkata sambil menarik handuknya dan masuk ke kamar mandi.
Dian pun melompat dari tempat tidur dan berlari mengejar sang istri.
"Yaaaankkk! Ikuuuuutttt!!!" Dian menghambur masuk ke kamar mandi sebelum Raya sempat mengunci pintunya.
Dan sudah bisa dipastikan, mandi mereka bukanlah mandi biasa. Dian takkan pernah melepaskan sang istri sebelum misinya tercapai.
>>>
otor imut : "Dasar laki mesum. Gak bisa liat bininya anteng dikit. Kasian tuh bini lo!"
Raya : π€ͺπ€ͺπ€ͺ
Dian : π€π€
otor imut : "Emang dasar mesum. Siapa sih yang ngajarin?"π€¦ββοΈπ€π€
Raya : "Pura-pura gak tau lagi lu, thor?!" π π π
otor imut : "Please jangan liat otor kayak gitu. Jadi serem otor liatnya. π₯Άπ₯Ά
Kasihanilah otor yang polos ini, Ray!"
ππβοΈ
Dian : π€£π€£π€£π€£π€£
otor imut : "Bahagia lu yee!!!" πππ
Dian : "Of course, dong." π€£π€£π€£πΊπΊπΊ
otor imut : π€π€π€¦ββοΈ
>>>
Dengan langkah mantap dan tangan menggenggam erat tangan sang istri, Dian berjalan dengan wajah angkuh dan dingin.
Tak peduli dengan tatapan penuh kekaguman, mendamba dan penuh tanya dari siswa-siswi yang berpapasan dengan mereka di koridor sekolah, Dian terus melangkah mantap.
"Bib, bisa pelan-pelan gak jalannya. Aku capek kamu seret-seret kayak gini." ujar Raya dengan napas ngos-ngosan. Dian menghentikan langkahnya, memberi jeda untuk istrinya istirahat.
"Kita udah telat, Yank. Bentar lagi perform bandnya Firman." kata Dian. Diliriknya jam di tangannya dengan tak sabar.
"Telat juga gara-gara siapa?!" tatapan tajam plus bibir yang mengerucut, manyun, Raya berikan pada mas suami. (mas? ππ³ eh?! dek!!! π€¦ββοΈπ€)
Dian meringis sambil mengusap-usap tengkuknya. "Maaf, Yank." katanya seraya cengar-cengir.
__ADS_1
"Bibirnya biasa aja dong, Yank.
Abang kan jadi pengen cium ayank lagi. Jangan pancing-pancing Mumu, deh. Ini tempat umum, Yank." sahut Dian yang kumat lagi mesumnya. π€¦ββοΈ
Raya mencibir kesal. "Itu sih emang maunya kamu, Bib!" dengus Raya ketus.
Dian nyengir kuda.
"Aah, udah ah! Buruan masuk. Band Firman udah mau tampil tuh!" kata Raya saat terdengar nama band Firman dkk disebut.
Dian dan Raya pun bergegas masuk ke gedung tempat pertemuan.
"Baru datang, Ray?" tanya mama saat Raya dan Dian menghampiri, lalu salim, dan duduk di dekat mama dan papa yang juga datang ke sekolah untuk menghadiri kelulusan Dian dan Firman.
"Iya, ma. Tadi ke kampusnya Raya dulu, makanya telat." Dian yang menjawab sebelum Raya mengatakan bahwa Dian lah penyebab mereka terlambat datang.
Mereka pun kembali fokus ke atas panggung dimana Firman dan teman-teman bandnya sudah berdiri di posisinya masing-masing.
"Selamat siang semua. Sebagai band pembuka, izinkan saya memperkenalkan diri. Saya Firman, sebagai lead vokal dan gitar. Basist Joe, drummer Zio dan di keyboard Sammy. Kami akan mempersembahkan satu dua buah lagu. Semoga anda semua terhibur." Firman sebagai leader band memberikan sepatah dua patah kata.
Tepuk tangan pun bergemuruh menyambutnya.
jreeennggg
>>>
π΅ Mungkin sekarang aku mulai merasa
Merasa salah aku putuskan cintamu
Kini aku sepi sendiri
Tak pernah kau di sisiku lagi
Tak pernah aku temui
Seseorang yang bisa gantikan dirimu
Lelah aku mencari-cari
Tak pernah kau kutemui lagi
Andai ku bisa 'tuk memutar waktu
Takkan pernah kuputuskan cintamu
Tak ada yang lain
Andai ku bisa 'tuk memutar waktu
Takkan pernah kuputuskan cintamu
Tak ada yang lain
Oh, tak pernah aku temui
Seseorang yang bisa gantikan dirimu
Lelah aku mencari-cari
Tak pernah kau kutemui lagi
Andai ku bisa 'tuk memutar waktu
Takkan pernah kuputuskan cintamu
Tak ada yang lain
Andai ku bisa 'tuk memutar waktu
Takkan pernah kuputuskan cintamu
Tak ada yang lain, oh-oh
(Tiba-tiba Lena muncul dari balik panggung dan ikut bernyanyi. Tepuk tangan pun makin bergemuruh riuh, bercampur siulan dan sorakan mendukung dari para siswa.)
π€ Lena
Jangan kau sesali keputusanmu
Aku takkan kembali kepadamu
Kau sakiti aku, kau lukai aku
Hancurnya hatiku
Jangan pernah kembali kepadaku
Aku tak ingin bertemu denganmu
Kau sakiti aku, kau lukai aku
Sakitnya hatiku...
back to π€ Firman
Andai ku bisa 'tuk memutar waktu
Takkan pernah kuputuskan cintamu
Tak ada yang lain
Andai ku bisa 'tuk memutar waktu
Takkan pernah kuputuskan cintamu
Tak ada yang lain, ho-ohπΆ
>>>
Applaus heboh diterima Firman dan teman-teman dengan senang hati dan wajah berbinar-binar. Lena hanya tersenyum malu-malu, tak menyangka bahwa niatnya membantu Firman mengisi acara di kelulusan cowok itu diterima dengan baik oleh semua orang.
"Sekarang kami akan menyajikan lagu yang kedua. Semoga anda semua suka."
__ADS_1
π΅ π€Lena
Kasih mengapa aku di cinta
Mengapa aku di manja
Bila untuk di sakiti
π€Firman
Maafkanlah diriku ini
Yang tak mampu melawan Rayuan menggoda
Hingga membuatmu tersakiti
Kerana sikapku yang masih meragu
π€ Lena
Jika ku tak di inginkan lagi
Biarlah aku mengalah
Walaupun harus kecewa
π€ Firman
Sayang tetaplah di sini
Tuk selalu bersamaku
Jangan pergi
Ku berjanji Berjanji padamu
Ku mohon jangan pergi
π€Lena
Hatiku menangis batinku merintih
Di saat dirimu tiada peduli
π€ Firman
Ku mohon padamu
Maafkan khilafku
Takkan ku ulangi lagi
π€Lena
Untuk apa lagi Ku harus bertahan
Cintamu di sini Sayangmu di sana
π€ Firman
Percayalah kasih Yakinlah padaku
Cintaku sayangku hanya kamu
Cintaku sayangku hanya kamu
π€ Lena
Jika ku tak di inginkan lagi
Biarlah aku mengalah
Walaupun harus kecewa
π€ Firman
Sayang tetaplah di sini
Tuk selalu bersamaku
Jangan pergi
Ku berjanji Berjanji padamu
Ku mohon jangan pergi
π€Lena
Hatiku menangis Batinku merintih
Di saat dirimu tiada peduli
π€ Firman
Ku mohon padamu Maafkan khilafku
Takkan ku ulangi lagi
π€ Lena
Untuk apa lagi Ku harus bertahan
Cintamu di sini Sayangmu di sana
π€ Firman
Percayalah kasih Yakinlah padaku
Cintaku sayangku hanya kamu
Cintaku sayangku hanya kamu
πΆ
__ADS_1
>>>
"Maafkan aku, honey!"