Kamulah Takdirku, Suami Brondongku

Kamulah Takdirku, Suami Brondongku
3. Disaat Dian Tersakiti


__ADS_3

"Sayang, ntar malem kita jalan, yuk!" Laura bergelayut manja di bahu Dian, saat keduanya bertemu di depan ruang UKS.


"Tumben ngajak jalan, emang kamu gak sibuk?" tanya Dian, setengah menyindir Laura yang biasanya selalu menolak bila Dian mengajaknya jalan.


"Malam ini aku free. Kita nonton, yuk!" mata Laura mengerling, menggoda.. Senyum imut pun ia luncurkan, membuat Dian serasa terbang melayang jauh menembus planetnya Chai Xiaoqi. (Lebay.🙄)


Dan selesai sholat magrib, Dian sudah siap pergi menjemput pujaan hatinya.


"Mau kemana, Yan? Rapi banget." tanya Firman saat melihat Dian asik menghirup aroma tubuhnya, dari tangan, bahu, juga keteknya. ( takut bau asem ya, Yan?🤭)


"Ngapel, dong. Emang lu... jomblo." Dian meledek Firman sambil memeletkan lidahnya.👅


"Ciih! Mending gue jomblo daripada punya pacar tukang selingkuh!" sindir Firman, pedas.


Dian merengut, tersinggung.


"Laura gak selingkuh, Man. Gue aja yang salah paham waktu itu. Ternyata Laura lagi sama sepupunya." bela Dian.


Firman tersenyum, sinis. "Baru liat gue ada sepupu ciuman ama sepupunya. Pasti tuh sepupu Laura dari Hongkong ya?" ejek Firman.


"Mereka cuma lagi berbisik, Man, bukan ciuman." ralat Dian, yang terus saja membela pacarnya.


"Serah lu dah, Yan. Emang dasar lu yang beg*, mau aja percaya ama mulut manis Laura. Nyesel gue kembaran ama lu!" Firman ngedumel, kesel.


Dian cuek bebek.


"Bodo ah! Ngeladenin lu bisa-bisa gue gak jadi pergi. Gue pergi ya?" pamit Dian.


”Bodo amat!"


* * * *


Dian mengusap wajah tampannya dengan kasar. Ia tak habis pikir mengapa ini harus berkali-kali terjadi padanya.


"Lu harus buka mata lu, bro. Pacar lu bukan cewek baik. Lu jangan mau dibegoin. Tinggalin Laura. Cari cewek lain yang jauh lebih baik dari Laura. Lu berhak bahagia, bro."


Kata-kata para sahabatnya kembali terngiang di telinga Dian, membuat Dian pun berpikir ulang untuk meneruskan kisah cintanya bersama Laura.


"Assalamualaikum."


"Eh... e... Yan! Aku..." Laura nampak kikuk melihat Dian memergokinya sedang bermesraan dengan cowok lain, yang tak lain adalah sahabat Dian sendiri, Evan.


Dian tersenyum kecut.


"Bisa bicara sebentar?"


Laura melirik pria yang tadi memeluknya. Pria itu tersenyum sinis.


"Lu mau marah, ngamuk atau nangis, Yan?" ejek Evan.


Dian tak menyangka kalau sahabatnya sendiri yang ternyata sudah menusuknya dari belakang. Evan sudah berselingkuh dengan Laura tanpa sepengetahuan Dian.


Dian menatap tajam ke arah Evan. "Diem, lu! Gue gak ngomong ama lu!" bentak Dian.


Evan menyeringai, sinis. Lalu menoleh ke Laura.


"Sayang, tolong bilang ke cowok bucin ini kalau kamu pacar aku sekarang!" ujar Evan penuh penekanan saat mengaku sebagai pacarnya Laura. Dipeluknya pinggang Laura, ketat.

__ADS_1


Dian kembali menatap Evan, tajam. Lalu beralih menoleh ke Laura.


"Ada apa kamu dengan dia?"


Laura diam menunduk, tak berani menentang mata elang Dian.


"Tolong jawab aku, Laura!" bentak Dian, keras. "Jika memang kau membagi cintamu, masih pantaskah kujaga hatiku?"


Laura mendongak, menatap Dian. Lalu kembali menunduk takut.


"Ingatkah semua kata yang kau ucap dulu, Laura? Kau berjanji untuk setia.


Kini aku tanya sama kamu, ke mana janji itu kau buang?"


"Sayang, aku..."


"Mulai malam ini jangan panggil aku sayang. Dan jangan pernah menemui ku lagi. Detik ini juga kita sudah tidak punya hubungan. Dan kita sekarang orang asing. Selamat tinggal!"


Dian pun pergi meninggalkan rumah Laura, pacar yang kini sudah berganti status jadi mantan. Tak dipedulikannya Laura yang berteriak keras, memanggilnya.


"Bodoh! Bodoh! Bodoh!" Dian memukul-mukul kepalanya, kesal.


"Kenapa gue sebodoh ini? Kemana perginya otak brillian gue sampe gak bisa mikir kalo gue bisa dibegoin tuh cewek bobrok. Siaaaaalllll!" Dian terus mengumpat, menyalahi dirinya sendiri.


Dengan kecepatan diluar batas maksimal, Dian melarikan motornya membelah keramaian kota.


Tit tit tit tiiiiiiiitttttttt


Suara nyaring klakson motor yang bertubi-tubi membuat Dian menoleh kesal ke arah belakangnya.


Dian pun berhenti mendadak disebuah jalanan sepi. Motor yang tadi membunyikan klakson pun ikut berhenti mendadak dan nyaris menabrak bagian belakang motor Dian.


Dian turun dari motornya dan berdiri tegak, seolah menantang pengendara motor yang sudah mengganggu perjalanannya.


"Mau cari mamp*s nih orang!"


"Kenapa lu ikutin gue?!" Dian berkacak pinggang menantang pengendara motor yang tadi mengganggunya.


Si pengendara motor membuka helmnya. "Lu kenapa, Dek? Ini jalanan umum bukan sirkuit!"


"Kak Ray!"


Wajah tampan Dian yang tadi nampak garang perlahan kusut. Dan tanpa Raya duga Dian terduduk dan tertunduk. Bahunya naik turun, menandakan bahwa Dian sedang menangis.


"Dek! Lu kenapa, Dek?" tanya Raya, cemas. Bergegas ia turun dari motornya dan jongkok di sebelah Dian.


"Kak... gue... gue... Huaaaaaa!!!" Dian menjerit sejadi-jadinya. Untung suasana disekeliling mereka sepi, karna mereka berada dipinggiran kota.


"Tenang, Dek. Jangan jejeritan gitu. Malu ah!" Raya membelai lembut rambut Dian.


Dian menengadah, menatap Raya, dalam. Pipinya basah. Raya jadi tak tega.


"Kak, gue putus ama Laura."


Raya diam.


"Tadi gue mergokin dia lagi ciuman sama Evan, temen gue. Dan langsung gue putusin dia."

__ADS_1


Raya menutup mulutnya, kaget mendengar cerita Dian.


"Gue bener-bener beg*, Kak. Selama tiga tahun gue dibohongin terus sama Laura. Dan bodohnya, gue anggap itu hanya ujian kesetiaan cinta gue buat dia. Seharusnya gue mati aja daripada harus menahan malu, Kak."


"Hush!" Raya menutup mulut Dian dengan jari telunjuknya.


"Gak boleh ngomong gitu. Dibalik masalah pasti ada hikmahnya. Dan lu udah mendapat hikmah dari kebeg*an lu. Sampai lu berani memutuskan Laura. Secara lu kan cinta mati ama dia, Dek!" ujar Raya.


Dian mengangguk.


"Semoga ini jadi pelajaran buat lu, Dek. Dan semoga saja lu cepetan ketemu penggantinya Laura, yang jauh lebih cantik dan lebih baik bahkan lebih segalanya dari Laura." ucap Raya, tulus.


"Aamiin, Kak. Makasih. Semoga gue dapet jodoh cewek baik secepatnya."


"Eh?!" Raya menatap Dian, bingung. "Cepet amat do'a minta ketemu jodoh, Dek. Baru juga putus."


"Gue kan harus move on, Kak. Gak maulah gue menangisi sesuatu yang gak ada harganya."


Raya mengangguk, setuju.


"Bener kata lu, Dek. Lupakan yang lalu, mari sambut yang baru!"


"Mantap!!!"


Dian kembali terdiam, menunduk.


"Dek?"


Dian menoleh ke Raya yang jongkok disebelahnya.


"Boleh gak gue peluk lu, Kak?"


Raya mengernyitkan dahinya.


"Gue masih sedih, Kak!"


Raut sedih Dian membuat Raya tak tega menolak keinginan Dian. "Mungkin Dian butuh teman untuk mereda sakit hatinya." pikir Raya.


"Sini... gue peluk!"


Raya merentangkan kedua tangannya, dan Dian pun segera menghambur ke dalam pelukannya. Dian terisak dipelukan Raya.


"Menangislah, Dek. Selama itu bisa buat lu lega. Gak usah gengsi. Mungkin dengan menangis hati lu jadi plong. Menangislah!"


Tangis Dian pun pecah. Menumpahkan segala kegalauan hatinya yang selama ini ia pendam sendiri. Raya membelai lembut rambut Dian. Membuat jiwa cowok tampan itu menjadi tenang dan damai.


"Makasih ya, Kak. Lu mau dengar curhat gue yang beg* ini." ucap Dian, sendu, masih dengan memeluk Raya. Pelukan Raya sungguh membuatnya nyaman.


Otor : Iyalah nyaman. Lu nempel ketat gitu di bempernya Raya. 😒😤


Dian : Tau aja lu, Thor! 🤭🤭


Otor : Dasar Playboy cap ubi bakar.😜


Dian : 🤫🤫 Gue mau bobo ah. Empuk banget ini. 😜🤭


Otor : 😤😤😤

__ADS_1


__ADS_2