
Dian menyikut pelan sang istri yang duduk disebelahnya.
"Paan?" tanya Raya dengan nada berbisik.
"Itu... dua jomblo beneran udah jadian?" Dian memberi kode dengan lirikan matanya menarik hati oh senyuman mu manis sekali (lahh... malah nyanyi.🤦) pada dua makhluk kasat mata yang duduk di kursi bagian belakang.
Raya hanya mengangguk.
"Dek, lu mau lanjut kuliah di kampus kakak ya?" tanya Mel yang duduk di sebelah sang supir yang tak lain suaminya, Aji.
"Hm."
"Ambil jurusan tehnik mesin?"
"Hm."
"Udah daftar?" Aji yang nanya.
"Udah. Raya yang daftar."
"Lu, bang? Jadi Minggu depan berangkatnya?" gantian Firman yang ditanya.
"Jadi."
Lena melirik Firman. Dari tadi keduanya hanya diam dan terlihat sama-sama canggung. Firman juga menoleh ke sang pacar.
"Aku lulus masuk Akpol. Minggu depan berangkat untuk pelatihan." Firman memberitahu Lena.
Lena hanya mengangguk canggung. Firman tersenyum. Digenggam dan direm*snya lembut tangan Lena.
"Kamu tunggu aku ya, Hon?! Aku mau mengejar cita-citaku dulu, baru melamar kamu." bisik Firman di telinga Lena.
Lena hanya diam, datar. Firman memicingkan mata, menatap dalam sang kekasih.
"Kok diem? Kamu gak mau nunggu aku, Hon?"
tanya Firman, tidak suka melihat sikap datar Lena.
"Ntar aja ngomongnya. Ada laler ijo lagi nguping." gumam Lena. Dengan dagunya ia menunjuk ke arah Dian yang bersandar alay di jok hingga kepalanya menengadah ke depan mereka.
Firman menjitak keras kening Dian hingga pria tampan itu mengaduh kesakitan.
"Aduhh!!!" Dian menegakkan kepalanya sambil mengusap-usap jidatnya.
"Kenapa, Bib?" tanya Raya kaget.
__ADS_1
"Sakit, Yank. Firman jitak ini aku tadi. Tiup dong?!" rengek Dian manja. Raya pun langsung membelai dan meniup kening Dian yang memerah.
"Cihh! Jijik gue. Ada ya laki alay gitu? Lebay!" cibir Firman sambil bergidik geli. "Mau-maunya kak Ray punya laki manja gitu. Kalo gue sih mending gak punya laki." cemoohnya lagi.
"Dihh. Elo laki, bro. Emang lo suka sama laki juga... aduuuuhh!!!" Dian mengaduh panjang saat Raya mencubit perutnya diiringi tatapan mata tajam dan bibir yang menyat-menyot mengumpat sang suami yang doyan nyablak.
"Sukurin lu! Makanya jangan judes jadi laki." umpat Firman yang tergelak menertawakannya.
Dan suasana di dalam mobil pun ramai gelak tawa karena Mel, Aji dan Lena ikutan tertawa ngakak.
"Jangan ganggu Abang, dek. Waktu dia mepet. Biarin dia puas-puasin waktu terakhirnya." Mel memberi Dian nasehat.
Dian mengangguk mengerti.
🎵Malam ini...
malam terakhir bagi kita
untuk mencurahkan
rasa rindu di dada...
"Aduhh!" Dian mengaduh lagi. Ia pun menoleh pada sang istri dengan wajah masam.
"Jangan dijitak terus dong, bang. Kasian kan suami aku. Kalo gegar otak, gimana?" Raya menegur Firman. Dian tersenyum girang mendengar istrinya membelanya.
"Lain kali kamu geprak aja, bang. Tuman ini bibir demen banget nyinyir." sambung Raya sambil mencubit gemas bibir mas suami.
Dian cemberut masam. Dan yang lain ngakak menertawakannya.
"Kak Ray tenang saja. Ntar kalo Dian gegar otak dan amnesia, aku bisa bantu kak Ray cari suami baru, yang jauh lebih keren dari si Dian." ujar Firman sengaja memprovokasi Raya, membuat Dian mendidih, kesal.
"Sialan lo, Man. Sebelum lo cari suami baru buat bini gue, lo duluan yang gue geprek. Awas aja kalo berani!" ancam Dian dengan wajah garang.
"Biasa aja mukanya. Itu biji mata udah mau copot, tau gak?!" Raya meraup wajah tampan mas suami.
"Yank. Jangan bully aku dong. Jatuh harga diriku kamu bully di depan mereka." rengek Dian lagi.
"Becanda ihh, Bib. Gitu aja ngambek." Raya menoel dagu sang suami. Dian pun langsung memeluk istrinya dengan manja.
"Bang Aji." panggil Firman.
"Iya."
"Jijik gak sih lihat cowok manja? Gue eneg tau gak lihat Dian. Alay banget." sindir Firman pura-pura bergidik geli.
__ADS_1
Aji tertawa.
"Gak pa-pa lah, Man. Manjanya juga sama istri sendiri." ujar Aji, bijak.
"Denger tuh, Man. Wajar itu namanya. Lo kalo iri, manja aja sama kak Len... eh, belum muhrim ya?" Dian yang merasa Aji dipihaknya, balik menyindir Firman.
Firman pun terdiam. Dia memang selalu kalah kalau beradu kata dengan Dian.
"Makanya bang, cepat halalin si Lena. Ntar direbut sama Sena lagi." Mel ikutan menyerang Firman. Sedangkan Raya dan Aji hanya menahan senyum gelinya.
Firman melirik Lena yang membuang pandangannya keluar jendela.
"Sialan. Gue dikeroyok sama dua saudara lakn*t." sungut Firman dalam hati.
"Untuk sekarang... gue belum bisa. Gue masih harus mengejar cita-cita gue dulu." ujar Firman.
"Kamu mau tunggu aku kan, Hon?" tanya Firman. Tangannya menggenggam lembut tangan Lena.
"Cieee... Hon. Honta!" ledek Dian. Sedetik kemudian ia pun meringis kesakitan saat kebilan maut mister crab kembali mampir diperutnya. Mel dan Aji cekikikan menahan tawa.
"Hon?!" panggil Firman tanpa menggubris ledekan Dian.
"He-eh!"
Tanpa banyak bicara lagi Firman merengkuh tubuh mungil Lena dan mengusap lembut rambut panjangnya. Firman tau apa yang gadisnya pikirkan.
"Give me trust. Please!" bisik Firman, lirih.
Lena mengangguk. Disandarkan kepalanya di dada bidang Firman.
"I love you, Honey."
"I love you too, Bee."
"Yaaah... jadi obat nyamuk dah kita." celutuk Dian, mengacaukan suasana romantis antara Firman dan Lena.
Refleks Raya mengkebil suaminya lagi. Dian pun memegang tangan Raya sambil meringis.
"Kita? Lu aja kali, dek. Ntar malem siap-siap aja lu jadi udang goreng." Mel meledek si bungsu.
Dian meringis lagi saat mendapati tatapan seram dari sang istri.
"Peace, Yank." Dian mengacungkan kedua jari tangannya seraya nyengir.
Raya melengos. Semua pun kembali ngakak melihat Dian dikacangin sang istri.
__ADS_1