Kamulah Takdirku, Suami Brondongku

Kamulah Takdirku, Suami Brondongku
Aji Dan Mel


__ADS_3

Tiga jam perjalanan, akhirnya sampai juga tempat yang dituju. Firman, Aji dan Dian membawa barang-barang yang mereka bawa, masuk ke dalam vila yang sudah Aji siapkan.


"Wahh. Udaranya segar sekali. Jauh dari polusi." Raya menghirup penuh udara sejuk yang susah untuk didapat di kota.


Lena dan Mel mengangguk setuju.


"Iya. Makanya Aji mengajak kita ke sini untuk refreshing ngilangin suntuk." sambung Mel.


"Biar lu lebih rileks menghadapi HPL si baby, Mel." ujar Lena diangguki Raya.


Mel juga mengangguk.


"Aji juga bilang gitu. Dia juga udah nyiapin segala perlengkapan gue di sini. Itu tas yang berisi baju si baby dibawa terus di mobil kemana pun dia pergi. Katanya biar gak ketinggalan kalo tiba-tiba gue mau lahiran." kata Mel sambil tertawa mengingat kelakuan lucu sang suami.


Raya dan Lena ikut tertawa geli.


"Sweet banget si Aji. Beruntung lu dapet suami perhatian kayak Aji, Mel." ujar Lena.


"Bener tuh." sambung Raya seraya mengacungkan jempolnya.


Mel menatap Raya lekat.


"Ray, lu... masih ada perasaan gak sama Aji?" tanya Mel pelan takut menyinggung perasaan Raya. Juga takut sahabatnya itu masih memendam perasaan cinta pada Aji, suaminya.


"Gila aja lu, Mel. Sejak gue nikah sama adek lu yang tengil tapi ngangenin itu, gue udah buang jauh perasaan suka gue sama Aji. Sekarang bagi gue Dian selamanya." ucap Raya jujur.


Lena dan Mel tergelak mendengar Raya menyebut suaminya tengil tapi ngangenin.


"Aji hanya teman, gak lebih. Lu yang lebih berhak dicintai Aji sekarang." kata Raya sambil menepuk pelan punggung tangan Mel, berusaha meyakinkan sahabatnya itu.


"Gue gak mau ada kesalahpahaman di antara kita karena masalah ini. Gue harap lu berdua paham dan bisa melihat kalau gue sudah menjaga jarak dengan Aji... dan Firman."


Lena dan Raya saling bertatapan. Mel menatap bingung keduanya.


"Apa Raya tau Firman menyukainya? Apa Firman pernah mengungkapkan perasaannya pada Raya?" Lena bertanya-tanya dalam hati.


"Apa Abang juga..."


"Gue gak secantik itu, Mel. Lu kira gue secantik Song Hye Kyo yang dikagumi banyak cowok? Sama mbok Pur aja cantikan mbok Pur." Raya nyerocos bak gas bocor.


Lena terkekeh. Sedangkan Mel nyengir geli.


"Hati lu cantik, Ray. Inner beauty lu bersinar membuat para pria kagum ama pesona lu." sahut Lena.


"He-eh. Betul." Mel menjentikkan jarinya, setuju.


"Inner beauty apaan? Ini perut yang ada, udah demo dari tadi minta di isi." sungut Raya, malas mendengar pujian dua sahabatnya. Ditepuk-tepuknya perutnya yang keroncongan.


Kedua sahabatnya tersenyum geli.


"Kalo gitu langsung ke dapur aja, masak. Para suami kita pasti udah laper juga." ajak Mel. Yang langsung disoraki Raya, setuju!!!

__ADS_1


Lena cemberut. "Gue belum kawin ya? Gue masih perawan." protesnya.


"Gak usah manyun gitu. Ntar juga lu diperawanin sama adek gue. Yakin gue." sahut Mel, cepat.


"Hush!" Raya mencubit bibir lemes Mel. Lena cemberut masam.


"Maksud gue dinikahi, Len." ralat Mel seraya nyengir.


"Iya, Len. Lu sabar aja. Pasti indah pada waktunya." sambung Raya.


"Cihh. Depe, dong." Lena mencibir geli.


"Paan?" Raya dan Mel saling bertatapan bingung.


"Dewi Persik, indah pada waktunya." sahut Lena, gokil.


"Sa ae lu, Jaura." ujar Raya sambil terkekeh geli.


"Dasar mantannya Saipul Jamil." ledek Mel.


Ketiganya pun ngakak dengan serunya.


Setelah makan, saatnya mereka beristirahat. Mel-suami, dan Raya-suami, masuk ke dalam kamar yang sudah di siapkan. Kecuali Firman dan Lena yang tidur di kamar terpisah. (Ya, kan belum muhrim. Jadi belum boleh bobo bareng, apalagi ngasih DP. Bukan Dewi Persik loh ya?! 💃)


💞💞💞


Dikamar Mel dan Aji.


"Gak pa-pa. Cuma perjalanan tiga jam gak ngaruh apapun. Dedek enjoy aja tuh. Tangguh dia." kata Mel yang duduk bersandar di kepala tempat tidur.


"Mel." panggil Aji.


"Hem."


"Kemarin aku ketemu om Danu."


Mel menatap Aji, menunggu kelanjutan ucapannya. Aji juga menatap Mel, lekat.


"Om Danu tanya tentang kamu dan dedek."


Mel masih diam.


"Mel?!"


"Mau apa dia tanya tentang aku dan dedek?" datar suara Mel sedatar ekspresinya.


"Mel..." Aji menggenggam lembut tangan Mel. "Bagaimanapun, dedek cucu om Danu. Darah dagingnya juga."


"Gak!" Mel menarik kuat tangannya dari genggaman Aji.


"Dedek hanya cucu papa bukan cucu orang lain." sentak Mel.

__ADS_1


"Bukan cucu ayah juga?" tanya Aji dengan nada lembut, berusaha meredam emosi Mel yang tinggi. Ayah yang dimaksud adalah ayahnya Aji.


Aji mengusap-usap bahu Mel saat istrinya itu terdiam.


"Dulu dia tidak mau mengakui dedek, Ji. Dia malah menyuruh aku dan Ardi menggugurkan dedek Dia katakan tidak mau ambil tau soal aku juga dedek. Kenapa sekarang dia menjilat ludahnya sendiri?" keluh Mel, kesal.


"Mungkin beliau baru menyadari kesalahannya, sayang."


Mel menggeleng.


"Aku tau maksud dia, Ji. Dia mau mengambil anakku."


"Gak boleh su'udzon. Dosa."


"Pokoknya sampai kapan pun aku tidak mau mendengar nama orang tua yang mau membunuh calon anakku."


Aji memeluk istrinya, erat dan membelai lembut rambutnya.


"Belajarlah memaafkan, Mel. Biar tenang hatimu. Ikhlaskan Ardi. Kirim doa biar dia tenang di sisiNya." bisik Aji membuat tangis Mel pecah, sedih mengingat sang kekasih yang sudah pergi menghadap ilahi. Meninggalkan benih yang kini tumbuh subur diperutnya.


"Aku... gak bisa..."


"Belum. Belum, Mel. Cobalah untuk mengikhlaskannya." Aji makin mempererat pelukannya. Tangis Mel makin keras.


"Aku di sini, Mel. Di sisi kamu. Aku akan terus berusaha membantumu melupakan kenangan pahitmu. Kita sama-sama berusaha ya?"


Mel mengangguk pelan di sela senggukannya. Aji mencium lembut pucuk kepala sang istri.


Aji melepaskan pelukannya. Keduanya pun saling bertatapan mesra.


"Sekarang ayah mau jengukin dedek. Boleh?" tanya Aji seraya mengedipkan matanya, genit. Mel tersenyum lalu mengangguk malu-malu. Pipinya merona merah.


"Masih aja malu-malu. Gemas Abang, Beib!" Aji mengecup gemas bibir sang istri.


Dan walhasil, makin merona wajah Mel, membuat Aji langsung menerkamnya saking gemasnya.


"Pelan-pelan, Ji. Ingat dedek." Mel mengingatkan di sela desahannya yang terdengar seksi di telinga Aji.


"Hm. Panggil aku, Beib. Aku mau kita saling panggil Beib. Mau, Beib?" suara serak Aji dan hembusan napasnya membuat Mel mengangguk lemas. Gairahnya pun meningkat.


"I love you, Beib."


"I love you too, Beib."


Dan di iringi desah napas penuh hasrat dari keduanya, terjadilah pergulatan indah idaman para pasangan sedunia.


*Otor juga mau dong??? Tapi bang suami lagi kerja. Gimana dong?


Hah?! Otor jadinya cuma bisa ngehalu dulu. 🙈


Ada yang pengen juga??? 😜*

__ADS_1


__ADS_2