
Lena diam melamun. Pandangannya lurus menatap laut biru yang terbentang luas dihadapannya. Lena sama sekali tak menyadari kalau Firman sudah berdiri tegap dari tadi dibelakangnya.
Tiba-tiba,
"Huh! Semangat, Lena. Kamu harus bisa! Jangan cuma gara-gara cinta kamu jadi lemah. Move on, beib. Pokoknya kamu harus kuat. Semangatttt!!!" Lena mengepalkan tangannya ke atas, memberi motivasi tuk dirinya sendiri dengan penuh semangat.
Firman terkekeh. Dimatanya, tingkah Lena begitu lucu. Melihat Lena yang berusaha menghibur dirinya sendiri membuat Firman gemas setengah mampus.
"Kenapa kak Len jadi keliatan imut gini ya? Huh! Pengen gue gigit rasanya nih!" batin Firman menggeram gemas.
Lena menoleh, dan terkejut dengan kehadiran Firman dibelakangnya.
"Loh, bang... udah dari tadi?" Lena berbalik menghadap Firman yang tingginya menjulang. Otomatis Lena mendongak menatap pria tampan itu.
Tinggi Lena yang 158 hanya sebatas dada Firman yang berpostur tinggi 181.
"Yang lainnya mana?" tanya Lena lagi saat tidak melihat teman-teman Firman yang tadi pergi bersama mereka.
"Udah pada mojok. Kan mereka pergi sama pacar masing-masing." kata Firman sambil melangkah duduk di sebuah batu.
"Nah... lu kenapa ngajak gue ikutan? Kenapa gak ngajak pacar..."
"Gue gak punya pacar." jawab Firman cepat. Lena diam, lalu ikut duduk di sebelah Firman.
"Dulu... ada seseorang yang gue suka."
Lena menoleh, melirik pria yang ada di sebelahnya.
"Terus?"
"Tapi saat itu dia sudah punya seseorang yang gak mudah untuk gue singkirkan. Dan mereka sangat serasi." Firman tampak lesu. Lena terus memperhatikan ekspresi Firman yang tampak sangat terluka.
"Apa lu patah hati saat itu makanya gak mau pacaran?" tebak Lena sok tau.
Firman tertawa dan menoleh. Sesaat pandangan mereka bertemu. Firman merasa jantungnya berdetak kencang. Entah reaksi apa itu, Firman juga tidak mengerti.
"Jadi cewek jangan sotoy, lo. " Firman menyentil kening Lena, hingga gadis itu manyun sambil mengelus-elus jidatnya.
"Sakit, bang. Tulah lu sentil jidat gue. Minta maaf cepat!" Lena ngedumel, kesal.
__ADS_1
Firman terkekeh geli.
"Ogah. Kan lo tadi yang sotoy." ujar Firman, santai. Dengan tangan di belakang bertahan dengan batu yang didudukinya, ia membuang pandangannya ke laut.
"Gue kan cuma nebak, bang. Kali aja bener tebakan gue kalo lu patah hati gara-gara tau cewek inceran lu udah punya cowok." Lena membela diri.
"Gue gak patah hati saat itu, kak. Gue malahan minder karna tau cowoknya itu perfect banget." ujar Firman lagi.
"Terus?" tanya Lena penasaran.
"Gue patah hati pas tau cewek idaman gue mau nikah."
"Nah loh?!"
Lena menatap Firman bingung plus kepo. Bingung karena tadi Firman bilang tidak patah hati gara-gara cewek itu sudah punya pacar. Tapi nyatanya? Firman broken heart karna cewek itu mau nikah?
"Emang tuh cewek bukan nikah sama pacarnya? Gue jadi penasaran sama cewek yang sudah bikin cowok dingin dan pendiam ini fall in love sekaligus broken heart." batin Lena kepo.
"Gue bener-bener sedih, kecewa, dan sakit hati saat tau dia akan menikah. Gue terpuruk. Dan yang bikin gue kecewa setengah mati, cewek itu menikah dengan orang yang gak oke sama sekali."
"Hah?" Lena garuk-garuk kepala. Tambah bingung dia. Rasa penasarannya makin menjadi.
Firman terkekeh lagi.
"Gak seumur hidup juga kali, kak. Gue cuma belum nemu yang pas aja." ralatnya.
"Kan belum di coba belum tau, bang?!"
"Coba apanya?" Firman mengernyit bingung dengan maksud perkataan Lena.
"Coba lu buka hati untuk gadis lain, kali aja lu bisa move on dari tuh cewek." saran Lena.
"Gue aja belajar melupakan mantan dan coba buka hati buat cowok lain. Siapa tau gue bisa dapet cowok yang lebih baik dari mantan gue kayak yang lu bilang tadi." sambungnya lagi.
Firman diam, mencoba mencerna ucapan Lena. Lalu ia pun mengangguk, membenarkan apa yang Lena katakan menurutnya ada benarnya juga.
"Lo bener, kak. Gue harus bisa move on dan melupakan dia, karna gak mungkin kan gue harus memendam perasaan buat istri saudara kembar gue sendiri?" ujarnya tanpa sadar sudah membuka rahasianya sendiri.
Mata Lena membelalak bulat. Pendengarannya seakan budeg seketika.
__ADS_1
"Bang... cewek itu... Raya?!" seru Lena tertahan, dan spontan menutup mulutnya. Matanya pun refleks menoleh kiri-kanan takut ada yang mendengar pembicaraan mereka.
Firman tersentak, kaku, lalu mengangguk lesu.
Lena melipat bibirnya, menahan senyum. Ia sungguh tidak menyangka kalau pesona sahabatnya yang satu itu begitu memikat hingga menarik hati dua saudara kembar, juga seorang pria yang dulu menjadi pacarnya dan kini malah menjadi Abang iparnya.
"Lucu ya, kak?" tanya Firman melihat senyum tertahan Lena.
Lena terkekeh.
"Maaf, bang. Gue gak bermaksud menertawakan lu. Gue cuma penasaran sama Raya. Pake pelet apa dia sampai bikin lu, Dian, dan Aji klepek-klepek." ujar Lena, sambil menahan geli di hati sekaligus takjub.
Firman ikut tertawa.
"Kak Ray itu cewek limited edition, kak. Baik, perhatian, rajin ibadah, juga setia. Kalo aja gak ada insiden di grebek massa malam sialan itu, pasti Dian gak akan seberuntung itu bisa mendapatkan kak Ray." curhat Firman.
Lena mengangguk setuju dengan ucapan Firman.
"Tapi, bang... kalo pun bukan Dian yang dapetin Raya, pasti Aji yang nikah sama Raya. Kan waktu itu Raya statusnya pacar Aji."
"Gue malah ikhlas kalo bang Aji nikah sama kak Ray daripada sama Dian. Mereka kan pasangan sempurna, pas banget. Gak kayak Dian, yang alay dan manja." dengus Firman.
Lena terkekeh.
"Udah takdir, bang. Kalo udah jodohnya Dian sama Raya, gak ada yang bisa nolak. Rejekinya Dian dapetin Raya tanpa harus susah payah mendapatkan Raya." kata Lena, bijak.
Firman mengangguk.
"Dan mudah-mudahan Dian bisa menjaga dan mencintai kak Ray yang didapatnya dengan mudah. Dan tidak akan melepaskannya dengan mudah juga." ujar Firman penuh harap.
"Aamiin." sambung Lena.
Firman mengangguk dan tersenyum.
"Apa... sampai detik ini masih ada nama Raya di hati lu, bang?"
Firman menatap dalam mata Lena. Jantungnya kembali berdetak cepat.
"Ada apa dengan jantungku? Apakah ini gejala stroke?"
__ADS_1
🤦🤦🤦