
"Yank, gimana kalo kita ngontrak rumah aja. Belajar hidup mandiri, Yank!"
Dian tengkurap diatas ranjang sambil memperhatikan Raya yang sedang menyetrika baju.
"Bayar kontrakannya pake daun?" ceplos Raya tanpa menoleh ke arah suaminya.
"Aku punya duit kok, Yank. Kita cari kontrakan yang murah aja. Biar kecil asal ada kamar mandinya didalam."
Raya berbalik menghadap Dian.
"Lu dapet duit darimana, Dek? Uang saku?" tanya Raya ingin tau.
"Aku kerja, Yank. Aku punya bengkel kecil-kecilan. Teman-teman sekolah yang jadi pelanggan bengkelku. Cukuplah untuk makan kita satu bulan."
"Kok gue baru tau lu punya usaha, Dek. Apa mama sama papa tau?"
Dian menggeleng.
"Hanya Firman yang tau tentang usaha bengkel aku, Yank. Makanya aku berani waktu disuruh nikahi kamu, karna aku yakin aku bisa menafkahimu. Meski cuma sedikit sih!" Dian meringis, malu sambil mengusap-usap tengkuknya.
Raya tersenyum. Dalam hatinya ia tidak menyangka kalau bocah sableng yang kini jadi suaminya ini memiliki usaha yang tidak bisa dianggap remeh dan ingin menafkahinya dengan hasil keringatnya sendiri.
"Bengkel tempat lu itu ngontrak atau..."
"Masih ngontrak, Yank. Saat ini aku lagi nabung buat beli ruko."
"Tempatnya besar apa kecil? Ada kamarnya gak? Kamar mandinya gimana? Kalo ada, kita tinggal dibengkel lu aja, Dek. Lumayan. Ngirit biaya."
Dian menatap takjub wajah mungil istrinya. Ia tidak menyangka Raya akan berpikir seperti itu. Dikiranya Raya akan menolak untuk tinggal terpisah dari keluarganya.
"Ntar kamu liat sendiri aja, Yank. Besok kita kesana, ya?"
"Hm." Raya mengangguk setuju.
Keesokan harinya, Raya dan Dian pergi ke bengkel. Raya mengamati setiap sudut bengkel. Mulai dari tempat istirahat Dian, kamar mandi, dan dapur kecil yang ada di ruko tersebut.
"Gimana, Yank? Apa tempat ini cocok untuk kita tinggal?"
"Lumayanlah, Dek. Daripada kita harus mencari kontrakan lagi, bisa ngirit biaya."
Dian manggut-manggut, mengerti.
"Assalamualaikum." Seorang pria seumuran Aji, datang mengucap salam.
"Wa'alaikumsalam."
Dian menghampiri pria tersebut. "Bang, kenalin ini istri gue. Yank, ini bang Rio. Yang kerja dibengkel aku."
Dian memperkenalkan pegawainya pada Raya. Dan mereka pun bersalaman.
"Bang Rio ini tinggalnya di kontrakan depan situ, Yank. Sama istri dan anaknya."
__ADS_1
"Oh ya? Anaknya ada berapa, bang?" tanya Raya, antusias. Soalnya dia suka anak kecil.
"Satu, Bu."
"Kok panggilnya Bu? Gak sekalian Nek?" Raya manyun. Dian tersenyum geli melihat istrinya kesal dipanggil ibu.
"Apa mau saya panggil Nyah?" tanya Rio, polos. Dian tersedak menahan tawanya.
"Panggil Inem aja, biar puas!" cetus Raya, cepat.
Hahahaaa. Dian pun ngakak, lepas. Rio tersenyum, geli.
"Aku panggilnya adek aja, ya. Kamu kayaknya seumuran adikku di kampung." kata Rio, akhirnya.
"Serah, bang Rio. Asal jangan dipanggil doggy aja." sahut Raya, kalem.
Rio terkekeh geli. Sedangkan Dian ngakak sampai terbatuk-batuk melihat tingkah istrinya.
"Yan, boleh Abang nanya, gak?" Rio yang penasaran melihat Dian sudah menikah segera bertanya setelah Raya pamit membeli peralatan rumah tangga.
"Mau tanya kenapa gue nikah muda?" tebak Dian. Rio mengangguk.
"Rejeki gue, bang. Gara-gara warga salah sangka, jadi kita dipaksa nikah deh."
"Beneran nih, dipaksa?" Rio menggoda Dian.
"Sebenarnya sih enggak, bang. Gue malah bersyukur bisa nikah sama kak Ray. Secara dia orangnya baik banget." ujar Dian, jujur.
"Istri gue itu sahabatnya kak Mel, kakak gue. Dia sebenarnya udah punya cowok. Kembaran gue, si Firman juga naksir ama dia. Beruntung kan gue yang malah bisa nikahin dia, bang?"
Rio mengangguk.
"Terus... sekolah lu gimana, Yan?"
"Yang tau pernikahan kami hanya keluarga saja, bang. Kecuali elu, bang Aji sama kak Lena."
"Aji?"
"Dia pacarnya istri gue."
Rio mengangguk paham.
"Lalu, Laura?"
"Justru karena dia gue menikah dengan Kak Ray, bang. Malam itu gue mergoki Laura lagi. Dan detik itu juga gue putusin dia. Malam itu gue ngebut di jalanan, meluapkan perasaan marah gue yang baru sadar kalo selama ini Laura udah bikin gue jadi makhluk terbodoh di dunia."
Rio tersenyum mendengar curahan hati Dian. Ia tau semuanya tentang Laura karna Dian selalu curhat padanya.
βMalam itu gue ketemu Kak Ray. Dia yang nenangin gue. Hingga akhirnya gak sadar gue tertidur dipelukan kak Ray. Warga yang melihat itu mengira kita sedang berbuat mesum. Padahal sumpah, bang, kita cuma pelukan doang. Itu juga gue yang minta karna saat itu gue benar-benar lagi sedih."
"Beneran cuma pelukan? Gak lebih?"
__ADS_1
" Beneran, bang. Ya kali, gue mau berbuat mesum di jalanan. Gue masih waras kali, bang!"
Rio tertawa geli.
"Terus? Kalian dipaksa menikah, dan lu menerimanya?"
Dian mengangguk.
"Biar semua orang lega, mama dan papa juga gak malu. Lagi pula Kak Ray lumayan cantik. Dia juga baik dan rajin ibadahnya. Semua orang menyukainya. Apalagi mama. Paling sayang sama Kak Ray dibanding Kak Mel."
"Semoga pernikahan kalian lancar ya, Yan. Percayalah, perasaan cinta akan tumbuh seiring kalian menjalani pernikahan kalian. Ingat, pacaran setelah menikah lebih nikmat dibanding pacaran sebelum menikah. Karna sudah sah. Paham?"
Dian mengangguk
* * * *
Dian sedang membantu Rio dibengkel ketika melihat Raya datang dengan membawa banyak barang.
Dian langsung membantu Raya membawa sebagian barang tersebut.
"Apa kita langsung pindah hari ini, Yank?"
"Gak. Kita bersih-bersih dulu. Setelah ngomong sama orang rumah baru kita pamit dan pindah."
"Baiklah. Aku akan bantu kamu bersih-bersih."
"Gak usah. Lu bantu bang Rio aja. Gue bisa sendiri, kok."
"Beneran?"
Raya mengangguk, pasti.
"Dek!" panggil Raya ketika Dian hendak keluar, kembali ke bengkel.
"Kenapa, Yank?"
"Nanti kita beli peralatan lain lagi, ya? Masih ada beberapa yang belum gue beli."
"Iya."
Rio menggeleng-gelengkan kepalanya melihat pasangan di depannya.
"Ini beneran laki bini gak sih? Kok aku yang bingung, ya?" tanya Rio dalam hati.
Otor rese : Jangankan elu, bang. Gue yang bikin cerita aja bingung.
mpok neti : πππ Gue maklum, sih. Kan otornya dodol. π
Otor rese : π€π€π€
Mpok neti : πππ**
__ADS_1
Rio : π€π€π€