Kamulah Takdirku, Suami Brondongku

Kamulah Takdirku, Suami Brondongku
Aku Pengen Juga, Mel


__ADS_3

"Gimana kandungan lu, Mel? Sehat kan?" tanya Raya sambil mengusap perut Mel yang mulai membuncit.


"Alhamdulillah, Ray. Baby sehat... meski baru segede pisang sih."


"Emang udah berapa bulan?"


"Jalan empat bulan."


Wajah Mel berubah sendu. Matanya berair menatap Aji dengan penuh rasa bersalah.


"Maaf ya, Ji. Gara-gara gue lu harus berkorban banyak. Andai saja Ardi..."


Aji langsung menutup mulut Mel dengan satu jari telunjuknya, menggenggam tangan Mel dan mengusap air mata yang mengalir di pipi wanita yang ia nikahi tanpa sengaja itu.


"Udah. Kenanglah yang baik, buang yang buruk. Jangan banyak berpikir yang memicu stress. Ingat pesan dokter, kamu gak boleh stress." ujar Aji dengan senyum lembut terukir di bibirnya.


Mel mengangguk dan ikut tersenyum manis.


"Aduhh... babang Aji co cuiiittt! Bungkus satu dong buat dedek emesh ini, ya Allah!" mata Raya berbinar melihat keuwuan Mel dan Aji.


"Eh, Yank?! Emang babangmu ini gak sweet apa?" Dian merajuk, cemburu.


Raya nyengir, cengengesan. Mel dan Aji tergelak, geli.


"Kamu bukan babangnya Raya, dek. Kamu tuh dedek emeshnya. Ya gak, Ray?" ledek Mel yang makin terbahak melihat Raya mengedip-kedipkan matanya memberi kode agar Mel diam.


"Yank?!"


Raya menoleh ke arah Dian, dan meringis kecut saat mendapati wajah cemberut sang suami.


"Mamp*s gue. Laki gue ngamuk!" batin Raya kecut.


"Kan tadi sudah aku bilang, jangan pancing-pancing aku. Sekarang terima hukumanmu." Dian menarik tangan Raya, berjalan masuk ke kamarnya.


"Eh, Bib. Aku..."


Ceklek!


Bunyi pintu kamar terkunci.


Mel dan Aji melongo melihat tingkah ajaib sepasang suami istri itu.


"Ji, itu... si Ray gak diapa-apain kan sama Dian?" tanya Mel, cemas.


"Gak. Kamu tenang aja."


"Gimana mau tenang, Dian kayaknya ngamuk mau makan si Ray." Mel benar-benar khawatir adiknya akan menyakiti Raya.


Aji terkekeh.


"Gak pa-pa kan? Malah bagus..."


"Bagus apanya?" sahut Mel cepat, memotong ucapan Aji.


"Iya, bagus. Biar Dian junior cepet otw." jawab Aji kalem.


Mel diam, mencoba mencerna apa yang Aji katakan. Beberapa detik kemudian,


Hahahaha. Tawa keras Mel pun pecah.


"Gokil tuh adek gue. Kepikiran darimana dia bisa ngomong kayak gitu? wkwkkkk." Mel ngakak sambil memegang perutnya menahan geli yang tiada tara, membayangkan hukuman yang Dian berikan untuk Raya.


Aji ikutan tertawa.


Di dalam kamar Dian,


"Bib, aku minta maaf. Bukan maksudku..."


"Apa?"

__ADS_1


Tajam dan dingin tatapan Dian membuat Raya bergidik ngeri.


Perlahan Dian mendekati Raya yang berdiri bersandar di lemari dengan tubuh gemetar.


"Kan tadi aku sudah wanti-wanti sama kamu, Yank. Jangan pernah mancing kecemburuan aku."


"Maaf!" Raya diam menunduk, tak berani menatap wajah tampan dihadapannya.


Dian meraih dagu sang istri dengan lembut agar menatapnya.


"Sekarang terima konsekuensinya. Aku akan menghukummu."


"Kamu... mmfh." Raya terdiam karna Dian sudah membungkam mulutnya dengan lum**an lembut. Mata Raya pun terpejam menikmati ciuman sang suami.


"Aku cinta sama kamu, Yank. Aku gak suka kamu mengagumi dan memuji pria lain. Apalagi dia mantan kamu. Hanya aku yang berhak kamu kagumi dan kamu puji. Karena, aku yang akan membahagiakanmu, mencurahkan seluruh perhatian dan cintaku buat kamu. Kamu mengerti?"


Raya mengangguk.


Dian tersenyum menatap istrinya yang terus menunduk, merasa bersalah. Dibelainya lembut pipi sang istri dan mengecup kembali bibirnya yang sudah menjadi candu bagi Dian.


"Mumu udah gak sabar tunggu malam. Apakah Juju siap mendapatkan hukumannya sekarang?" bisik Dian disertai kedipan mata genit, merayu.


Raya tersipu malu.


Dan terjadilah yang seharusnya terjadi di panas terik siang bolong itu. Desah nafas yang terengah-engah penuh hasrat dalam cinta terdengar, seakan tak peduli pada sepasang suami istri yang mereka tinggalkan tadi tanpa permisi.


Di ruang tengah, Mel nampak kikuk saat menyadari bahwa Aji tengah menatapnya, dalam.


"Kamu... kamu... kenapa liatin aku... kayak gitu, Ji? Ada yang aneh?" tanya Mel gugup.


Aji menggeleng tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah sahabat mantan pacarnya, sekaligus pacar sahabatnya yang sekarang sudah menjadi istrinya. (bingung ya? 😜)


"Emang gak boleh aku menatap wajah istriku sendiri? Ada yang larang?" tanyanya polos.


"Ehm... bukannya gitu..." Mel makin salah tingkah saat Aji menggenggam tangannya lembut.


"Eh?!" Mel terkejut mendengar permintaan Aji.


Semburat kecewa nampak di wajah tampan pria itu.


"Gak mau ya? Maaf ya aku udah keterlaluan minta yang enggak-enggak..."


"Shuuuttt!" Mel menaruh telunjuknya di bibir Aji.


"Aku belum ngomong apa-apa loh. Kok kamu udah ngeper duluan?" Mel mengerucutkan bibirnya tanda protes.


Aji langsung sumringah mendengarnya. Tanpa permisi dikecupnya cepat bibir mungil yang tengah cemberut itu.


Cup.


Mel tersipu malu. Wajahnya yang merona memerah karena menahan malu membuat Aji makin gemas melihatnya.


"Akhh! Kamu mau ngapain, Ji?!" Mel nyaris berteriak kaget saat Aji tiba-tiba menggendongnya dan membawanya masuk ke kamar mereka, lalu mengunci pintunya.


Tanpa menjawab pertanyaan Mel, Aji membaringkan tubuh istrinya pelan-pelan di atas tempat tidur. Kemudian ia pun ikut berbaring menyamping di sebelah sang istri dengan tangan menahan kepalanya agar bisa memandang wajah cantik istrinya.


"Kamu sudah siap aku hukum?" tanya Aji dengan nada berbisik, serak, menahan gejolak hasrat yang sudah memuncak.


Tangan Aji membelai lembut pipi dan bibir Mel.


"Apa kamu... sudah bisa menerimaku, Ji?" pelan Mel bertanya.


Tangan Aji yang membelai wajah Mel dan berniat menjelajah seluruh tubuh sang istri, seketika berhenti berkelana.


"Apa... sikapku selama ini meragukanmu, Mel?" Aji menatap kecewa sang istri. Ia tak menyangka Mel masih berpikiran kalau Aji belum menerimanya sebagai seorang istri dan terpaksa menikahinya karena janjinya pada almarhum sahabatnya.


"Maaf!" ucap Mel pelan. "Aku tau kamu masih mencintai..."


"Bukannya kamu yang masih mikirin Ardi?" potong Aji, cepat. Pria itu pun kembali berbaring, menatap langit-langit kamar.

__ADS_1


"Maaf."


Aji menghela nafas berat mendengar suara lirih Mel.


"Sebaiknya kita memang harus menata hati kita dulu. Maaf kalo aku udah minta..."


Cup.


"Maaf kalo aku masih meragukanmu. Kamu sekarang berhak atas diriku." Mel menatap tepat manik hitam mata Aji.


"Lakukanlah, Ji. Itu hakmu. Dan kewajiban ku untuk melayanimu, suamiku." Mel memegang lengan Aji sambil terus menatapnya.


"Gak usah, Mel. Aku tunggu sampai kamu siap..."


"Aku siap, Ji. Dan ikhlas!" jawab Mel, yakin. Senyum tulus ia berikan pada sang suami.


"Benarkah, Mel?" senyum cerah menghias wajah tampan Aji.


Mel mengangguk mantap.


Aji pun langsung menarik tubuh Mel hingga posisi gadis itu sudah berada di atas tubuhnya. Keduanya pun saling bertatapan penuh makna. Aji melingkarkan tangannya di pinggang berisi gadis itu, memeluknya erat.


"Sejak aku menikahimu, aku sudah berjanji akan membuka hatiku untuk mencintai dan membahagiakanmu, Melati istriku."


"Mudah-mudahan kita berdua bisa saling menerima ya, Ji?"


Aji pun ******* lembut bibir Mel. Lalu membawanya ke pelukannya seolah menunjukkan bahwa Mel adalah satu-satunya prioritasnya sekarang.


"Mari sekarang kita sama-sama membuka hati, Mel. Kita lupakan masa lalu dan fokus ke masa depan kita. Fokus pada si kecil yang tak lama lagi hadir di keluarga kecil kita." ujar Aji sambil membelai perut Mel yang mulai membuncit.


"Ini anak kita, Mel. Kita akan mengasuh dan membesarkannya sama-sama. Ya?" kata Aji lagi. Diciumnya lembut perut istrinya dengan penuh perasaan.


Mel tersipu dan mengangguk malu. Hatinya berdesir hangat menerima perlakuan Aji padanya.


"Makasih, Ji. Kamu udah mau nerima aku apa adanya. Aku sadar, aku bukan wanita yang baik. Aku..."


"Sssttt. Kamu punya hati yang baik, Mel. Aku tau itu." Aji menatap lembut sang istri. Senyum tampan ia suguhkan pada wanita yang kini berstatus sebagai istrinya.


Mel membalas senyum suaminya dengan tak kalah manis.


"Terima kasih ya Allah. Engkau sudah memberikan suami pengganti yang baik dan bertanggung jawab seperti Aji. Aku benar-benar sangat beruntung."


Keduanya pun kembali berciuman. Saling bertukar saliva, mengul*m dan membelit lidah, mencurahkan segala rasa yang mulai merajai hati mereka.


Perlakuan lembut dan penuh perhatian Aji mengetuk hati Mel yang rapuh karena ditinggal meninggal sang calon suami yang juga meninggalkan benih di perutnya.


Aji yang merasa tidak punya harapan lagi atas cintanya pada Raya, sang kekasih, yang sudah jadi milik pria lain, mencoba dan berusaha membuka hati untuk wanita yang sekarang menjadi istrinya.


"Gue gak akan mengecewakan lo, Ar. Doakan gue agar bisa menjaga amanah lo dengan baik."


Aji memeluk erat Mel yang berbaring dengan berbantalkan lengannya. Lalu mencium kening istrinya dengan lembut. Mel memejamkan matanya. Ia bisa merasakan kasih sayang yang Aji tunjukkan padanya.


"Tidurlah. Belum saatnya kita untuk melakukan itu." ujar Aji, sambil membeli pipi Mel, lembut.


"Kamu masih marah?" Mel mendongak, menatap sang suami, cemas.


Aji tersenyum. Dikecupnya sekilas hidung Mel.


"Gak. Aku cuma agak takut gak bisa berhenti. Kita gak cukup waktu kalo di siang hari." Aji mengedip-kedipkan matanya, menggoda Mel yang tergelak.


"Dasar suami mesum." ledeknya.


"Gak pa-pa. Sama istri sendiri kok." Aji memeluk kembali tubuh sintal Mel.


"Udah. Tidur. Atau... aku gak jamin kalo kamu bisa bangun buat solat asar nanti." Aji mengingatkan Mel yang langsung menutup matanya rapat-rapat.


Aji tertawa melihat tingkah spontan sang istri. Ia pun memeluk Mel lebih erat dan mencium pucuk kepala yang wangi aroma favorit dari sampo yang dipakainya.


"Aku rasa, aku mulai menyukai Mel. Dan akan ku pastikan kalo rasa suka ini akan menjadi cinta." tekad Aji.

__ADS_1


__ADS_2