Kamulah Takdirku, Suami Brondongku

Kamulah Takdirku, Suami Brondongku
4. Kok Jadinya Gini?


__ADS_3

Sepuluh menit berlalu,


"Dek?"


Raya menunduk, melihat wajah Dian yang nampak tenang, sedang tertidur pulas.


"Haishh! Gue dari tadi nahan pegel, dia malah enak-enakan tidur. Dasar bocah tengil!"


Raya menghela napas panjang saat melihat Dian tertidur dipelukannya.


Tiba-tiba,


"Ngapain kalian pelukan disini? Mau berbuat mesum ya?"


Beberapa orang bapak-bapak menghampiri Raya dan Dian.


"Eh... e... anu... bukan, Pak. Kami cuma lagi istirahat." Raya menjawab dengan gugup. Tangannya refleks menepuk-nepuk pipi Dian yang sedang tertidur.


"Dek!" Bangun, Dek!" panggil Raya, pelan.


"Hm."


Dian hanya berdehem tanpa membuka matanya. Nampaknya dia benar-benar terlelap.


"Jangan bohong! Kalian pasti sedang pacaran dan mau berbuat yang tidak-tidak."


"Astaghfirullah, Pak. Enggak! Ini adiknya teman saya. Dia tadi..."


" Gak usah mengelak lagi. Lihat posisi kalian berdua sekarang! Menurut kamu apa kami akan percaya dengan apa yang kamu katakan tadi?"


Raya menepuk jidatnya, pelan. Posisi wajah Dian yang menempel di dadanya jelas membuat orang salah tafsir.


"Pak, ini bisa saya jelaskan..."


"Sebaiknya kalian berdua ikut kami kerumah Pak RT. Kalian harus di sidang!"


Raya spontan berdiri tegak, bangun dari duduknya. Dan itu membuat Dian jatuh dan terantuk aspal.


"Pak, beneran... sumpah! Kami gak..."


"Ini kenapa rame-rame, Kak?" tanya Dian dengan mata setengah merem (baru 5 watt terang tuh mata) yang akhirnya terbangun dari tidurnya. Tangannya mengusap-usap keningnya yang benjol akibat jatuh tadi.


" Kalian akan kami bawa kerumah Pak RT. Kalian harus menikah secepatnya."


"Hah?!"


Antara kaget bercampur bingung Dian menatap Raya penuh tanda tanya. Sedangkan yang ditatap, balik menatapnya dengan wajah kesal.


"Ini semua gara-gara lu, Dek!" tuduh Raya, geram.


"Loh? Emang gue kenapa?"


Raya melengos, kesal. Rasa marah, malu, dan takut bergumul di dadanya. Dengan terpaksa ia mengikuti bapak-bapak yang menyeret Dian dengan paksa. Dian hanya pasrah, meski bingung masih melanda.


Keduanya tertunduk diam saat mata para orang tua menatap tajam ke mereka berdua.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Ay? Apa benar kalian sudah berbuat salah?"


"Kita gak berbuat salah apapun, Om! Tapi saya siap nikahi Kak Ray kalo kalian tetap memaksa." sahut Dian, membuat Raya melotot marah.


"Kalo ngomong, dipikir dulu napa?!" sungut Raya, kesal pada bocah tengil disebelahnya.

__ADS_1


"Gak ada jalan lain, Kak. Kalo memang ini jalan terbaik, gue siap nikahi elu sekarang juga. Aduh!!!"


Dian mengaduh sambil mengusap-usap kepalanya yang terkena jitakan keras dari Raya, disertai tatapan tajamnya. Dian pun nyengir. Raya cemberut.


"Demi kebaikan semua dan agar tidak menjadi buah bibir orang, kita sebagai orang tua sepakat untuk menikahkan kalian besok." Papa Dian berujar mantap.


Raya tertunduk lesu, sedangkan Dian menatapnya pasrah.


"Baiklah. Karna orangtua kalian sudah setuju untuk menikahkan kalian, maka malam ini kalian boleh pulang. Besok kami akan hadir untuk melihat pernikahan kalian." kata pak RT.


Dian dan Raya saling pandang.


"Semua gara-gara lu, Dek! Kalo lu gak meluk-meluk gue kayak tadi, gak mungkin mereka salah paham." Raya menyalahkan Dian sebagai biang dari permasalahan mereka.


"Kok gue sih, Kak?"


"Emang lu yang bikin masalah! Coba kalo lu gak meluk gue tadi, pasti gak bakal gini kan kejadiannya?"


Dian terdiam, memikirkannya.


"Coba aja tadi gue gak patah hati ya, Kak?" ujarnya sendu. Raya jadi tak tega melihat wajah ganteng itu kusut kembali.


"Udah, Dek. Jangan di ingat lagi! Katanya mau move on?" Raya mengelus pucuk kepala Dian.


Dian menoleh.


"Berarti gue mikir pernikahan kita aja ya, Kak?" tanyanya sok polos. Dan hasilnya, Dian pun mengaduh kesakitan ketika Raya menjitak kepalanya dengan gemas.


"Iya. Sekalian lu hapalin nama gue buat ijab qobul besok!" sahut Raya, keki. Dian terkekeh geli.


"Berarti, besok gue panggil lu sayang dong, bukan Kak Ray lagi." Dian mengedipkan matanya, genit, menggoda Raya.


"Serah lu! Suka-suka lu!" sungut Raya, ketus. Dian pun ngakak.


"Haish! Mimpi apa gue bisa punya laki bocah gendeng!" Raya menepuk jidatnya, pasrah.


"Yank?!"


Dian mengerjab-ngerjapkan matanya, membuat bulu mata lentiknya mengerling lucu. Raya menghela napas berat. Antara geli dan kesal ia melihat Dian yang sengaja menggodanya.


"Peluk?!" rengek Dian manja, dengan merentangkan kedua tangannya, meminta Raya memeluknya.


"Nih! Mau?" Raya menunjukkan bogem mentahnya. Dian pun spontan manyun.


Raya membuang muka, menahan geli melihat wajah tampan itu cemberut, manyun.


🍀 🍀 🍀


Flashback on


"Aku janji akan segera menikahimu setelah aku lulus dan mendapatkan pekerjaan, Ay."


"Semoga kita berjodoh, Ji. Aku juga maunya kamu yang jadi suamiku."


Aji tersenyum menatap pemilik mata indah didepannya.


"Aku mencintaimu, Ay!"


"Aku juga, Ji!"


Keduanya saling tatap penuh cinta dengan tangan saling menggenggam erat. Aji selalu menjaga cintanya pada Raya dengan baik. Ia selalu berusaha mengontrol hatinya agar tidak berbuat diluar batas dalam memperlakukan Raya. Tidak seperti dua sahabatnya yang selalu mengumbar kemesraan mereka dengan pacarnya masing-masing, Raya dan Aji sama sekali tak pernah melakukan hal-hal diluar batas rambu berpacaran. Palingan mereka hanya bergandengan dan saling menatap penuh cinta. Seperti saat ini, ketika keduanya sedang memadu kasih di pantai bersama sahabat-sahabat mereka, Lena dan Sena, juga Melia dan Aldi.

__ADS_1


Raya membuang pandangannya ke laut ketika tak sengaja melihat Lena dan Sena tengah berciuman. Aji yang mengetahui hal itu segera menutup mata Raya.


"Ji!"


Sena terkekeh melihat Aji melotot.


" Ikutan, yuk!"


Aji mendelik, sewot, seraya menggeleng, cepat.


"Cemen, lu!"


Aji melengos, cuek. Sena tergelak.


"Udah belum, Ji."


"Belum, Ay. Malah makin parah gilanya si Sena."


" Kalo gitu kita pulang aja, yuk. Tinggalin aja mereka disini." kata Raya. Sambil tetap menutup matanya Raya menggandeng Aji pergi menjauh dari Lena dan Sena.


"Jangan dong, Ray. Kita kan friend. Masak lu tinggal?!"


"Gue gak punya friend sarap kayak lu berdua. Ciuman kok gak tau tempat. Pake ngajak-ngajak, lagi." gerutu Raya.


"Kali aja lu berdua pengen kayak kita, Ray. Udah gede juga. Udah bisa jaga nahan diri." ujar Sena.


"Iya, Ray. Ciuman itu menunjukkan kalau kita saling mencintai." sambung Aldi.


"Emang gitu, Ji?" tanya Raya sambil menatap sang pacar, tajam. Aji menggeleng cepat.


"Gak, Ay! Aku tetep cinta kamu meski gak ciuman ama kamu, kok!" sahutnya cepat.


Raya menoleh Sena dan Aldi lagi.


"Dengerin tuh. Pacar yang baik harus bisa menghargai pacarnya dan menjaga kesucian cintanya. Kalo udah sah nanti gak bakal lari kemana tuh bibir. Tetep jadi milik lu, itu pun kalo kalian jodoh." nasehat Raya.


"Nggeh, Mbah. Matur suwun sanget kanggo sarane!" ucap Sena dan Aldi barengan.


Raya terkekeh, geli. Begitupun dengan Aji, Lena dan Melia.


Flashback off


"Maafkan aku, Ji. Aku gak bisa menolak takdir!"


Dirumah Dian,


Firman menatap sendu foto yang ada di dalam dompetnya.


"Kenapa harus Dian sih Kak yang nikah sama kamu? Kalo bang Aji yang jadi pendampingmu, aku masih bisa menerimanya. Tapi kalo Dian? Haishh!"


Firman mengusap wajahnya, kasar.


"Kenapa bukan aku yang jadi suamimu, Kak Ray? Padahal aku sangat mencintaimu. Aku sangat menginginkanmu, Kak!"


Firman membelai-belai foto tersebut.


Diam-diam Firman memendam rasa cinta untuk Raya. Selama ini Firman sangat mengagumi Raya yang baik, lucu, dan penuh perhatian padanya dan juga saudara kembarnya. Sayangnya Raya hanya menganggap mereka adik. Dan Raya juga sudah memiliki pacar yang sangat baik dan juga perhatian. Aji juga sangat sopan memperlakukan Raya membuat Firman sangat menghargainya sebagai pacar Raya, dan tidak berniat merebut Raya dari Aji.


Tapi Dian?


Dengan mudahnya Dian merebut Raya dari Aji entah dengan trik kotor apa yang dilakukannya untuk mendapatkan Raya.

__ADS_1


"Apakah Dian berpura-pura putus dengan Laura untuk menjebak Raya?"


Pikiran jelek Firman pun menari-nari diotaknya.


__ADS_2