Kamulah Takdirku, Suami Brondongku

Kamulah Takdirku, Suami Brondongku
Kerikil Kecil


__ADS_3

"Maaf, mbak. Liat Raya gak?" tanya Dian pada dua mahasiswi yang ia temui di koridor kampus.


"Raya... tadi gue liat dia di perpus."


"Bisa tunjukkan dimana perpustakaannya?"


"Di sana, sebelah gedung seni."


Dian pun bergegas pergi ke tempat yang ditunjuk. Tanpa ba bi bu, Dian masuk ke dalam perpustakaan mencari dimana sang belahan jiwa bersemedi.


Dian tersenyum bahagia melihat wajah sang istri yang tampak fokus dengan buku di buku ditangannya. Dengan pelan-pelan Dian menghampiri Raya.


"Hai, cantik! Boleh babang duduk di sini?!" bisik Dian, genit. Sebelum duduk dikecupnya lembut pucuk kepala gadis itu.


"Eh, elu...Hm!" Raya yang awalnya kaget, kemudian merubah ekspresinya jadi datar. Raya pun kembali fokus ke bacaannya.


"Yank!" Dian meraih tangan Raya dan merem*snya pelan.


"Aku minta maaf, ya? Aku janji gak akan..."


"Ini perpustakaan kampus. Aku lagi baca. Tolong jangan berisik!" lirih Raya berkata, takut mengganggu mahasiswa lain yang sedang membaca di sana juga.


Dian menghela napas panjang. Dia tau perjuangannya untuk membujuk Raya kali ini tidak mudah.


"Gak pa-pa, Yan. Demi rumah tangga lu aman sentosa, dan lu bisa belah duren dan kalo bisa lu bikin gendut perut bini lu. Kali ini lu harus ngalah." Dian menyemangati diri.


"Baiklah, Yank. Tapi aku boleh nunggu kamu di sini kan?"


"Serah."


Dian menopang dagunya, menatap wajah sang kekasih sambil senyum-senyum sendiri.


"Kamu cantik banget, sayang. Aku makin cinta sama kamu." gumam Dian lirih, sengaja.


"Nih bocah paling bisa jungkir balikin emosi gue. Awas aja, lu. Gue gak bakal maafin lu secepat itu. Tidak semudah itu, Armando!" ketus Raya dalam hati.


Mimik wajahnya datar seperti tidak terpengaruh dengan semua gombalan dan usaha Dian yang mencoba menarik perhatiannya. Raya tetap asik dengan bacaannya.


Setengah jam kemudian, Raya melirik jam tangannya. Pukul 10.45 wib. Kuliah Raya di mulai. Gadis itu bergegas merapikan buku-bukunya.


Raya melirik Dian yang ternyata tertidur di sebelahnya.


"Ngantuk berat nampaknya laki gue. Kasian juga." batinnya.


"Tapi gue mau masuk kelas. Gimana nih?"


Akhirnya,


"Dek! Bangun, dek! Gue mau masuk kelas dulu." Raya menepuk pelan pipi Dian, mencoba membangunkannya.


"Dek!"


"Heemmm!" Dian pun terbangun dan mengucek-ngucek matanya.


"Yank..."


"Gue masuk kelas dulu." selesai berkata Raya bergegas pergi ke kelasnya tanpa menoleh lagi.

__ADS_1


"Hufh. Kamu masih marah rupanya, Yank." Dian mengusap wajahnya, kasar.


*


*


*


*


Selesai kelas, Raya bermaksud menunaikan kewajibannya dahulu menghadap Sang Pencipta sebelum pulang ke rumah. Sesaat Raya lupa dengan laki brondongnya yang sedang menunggunya dari tadi.


"Ray!"


hosh hosh hosh


Lena datang dengan napas senen-kemis, ngos-ngosan seperti baru selesai lomba cerdas cermat. lha?!🤦‍♀️


"Lu kenapa ngep-ngep gitu, Len? Habis maraton lu?" Raya yang sedang memakai sneakernya di tangga mushola kampus bertanya heran saat melihat sahabatnya datang dengan peluh membasahi wajah.


"Laki...hhh...laki lu...hhh..."


"Hm?" Raya mengernyitkan dahinya, bingung.


"Dian, Ray. Dia...dia... berantem... di parkiran. Hhhh"


"Astaghfirullah. Gue lupa."


Gadis itu benar-benar lupa kalo Dian menunggunya dari tadi. (dasar bini gak ada akhlak.)


"Stop!!!"


Raya menghalangi dua orang mahasiswa yang ingin memukul Dian. Beberapa mahasiswa berkumpul menyaksikan perkelahian tersebut.


Raya melihat Dena, sang ratu alay sedang nangis sesenggukan dipelukan seorang temannya.


Didekatnya, Aldo, cowok yang selalu mengejar dan memuja-muja Dena tengah menatap Dian dengan penuh amarah. Beberapa mahasiswa sedang memegangi Aldo yang nampaknya ingin merem*s Dian yang tersenyum smirk ke arahnya.


"Jangan lindungi bocah tengik ini, Ray. Dia sudah kurang ajar sama pacar gue."


"Iya, Ray. Dia tadi godain aku..."


"Heh, cewek gila! Ngaca! Ngadu domba aja bisanya, kayak kecakepan aja. Lu manusia apa setan?!" bentak Dian, tak terima dituduh menggoda perempuan yang memakai baju kurang bahan itu.


"Kurang ajar. Bocah kemarin sore mau sok-sok'an lu?! Musti diberi pelajaran nih bocah..."


Dian menyeringai sinis. "Ayo, kalo mau. Gue ladenin..."


"Dek!!!"


Dian kicep.


"Pulang!" Raya menatap Dian, tajam.


"Tapi..."


"Pulang!!!"

__ADS_1


"Iii...yaaaa!!!" Dian berlari mengejar Raya yang lebih dulu pergi meninggalkan kampus.


"Tunggu lu, bocah! Urusan kita belum selesai!!!" teriak Aldo kesal melihat Dian buru-buru menaiki motornya, kabur, mengejar Raya.


"Gak penting gue rebutan ondel-ondel kayak dia. Banyak noh di minimarket ujung jalan!" Dian balas berteriak, mencemooh, sebelum melesat pergi dengan motornya.


"Bocah tengik sialan!!!" Aldo menendang angin, kesal. Lalu matanya beralih menatap tajam gadis biang kerok yang membuatnya hampir berkelahi dengan bocah kemarin sore.


"Kamu... aku sudah melihat tadi semuanya. Kamu yang mendekatinya tadi, dan kamu menggodanya. Aku gak nyangka... kamu semurahan itu." ujar Aldo dengan nada kecewa.


*F**lashback on*


Mesya menatap kagum cowok tampan yang sedang duduk di bangku yang ada di dekat parkiran motor.


"Hai! Anak baru ya? Kenalin namaku Mesya, anak sastra." dengan gaya centil dan sedikit genit Mesya mendekati cowok itu.


Dian yang tengah ngantuk ayam 🤭 menyipitkan matanya. Kemudian dia melengos, tak menanggapi kehadiran gadis jelmaan ondel-ondel yang berdiri didepannya tengah tersenyum genit menatapnya bersama seorang temannya.


"Eh, cowok ganteng. Sombong banget sih?! Masak gak liat aku cantik dan seksi gini?" dengan gaya bak model papan penggilesan, Mesya mondar mandir di depan Dian yang tetap cuek. Malahan Dian memutar tubuhnya, menjauhi pandangannya dari gadis itu.


"Hei! Kok malah liatin tembok. Apa tembok itu lebih menarik dari aku? Hm?" nekat, Mesya menarik dagu Dian, memaksanya untuk menatap ke arahnya.


"Paan sih?! Jangan kurang ajar lu!!" Dian menepis kasar tangan Mesya di dagunya.


"Aww!!" jerit Mesya. "Kamu nyakitin aku tau gak?!" Mesya menatap kesal cowok tampan didepannya.


Mesya tak menyangka niatnya untuk berkenalan dan menarik simpati cowok itu dengan pesonanya harus berakhir malu di depan teman-temannya karena cowok itu terang-terangan menolaknya.


"Ada apa ini, sayang? Dia ngapain kamu?" tiba-tiba seorang pemuda menghampiri mereka. Kiranya itu pacarnya si cewek ondel-ondel.


"Sayang, dia udah nyakitin aku. Padahal aku tadi cuma nanya sama dia." adu Mesya, manja pada sang pacar.


Dian berdiri dan menatap tajam gadis tak tau malu itu. Dan tanpa kata ia pun berlalu meninggalkan si ratu drama dan pacarnya, juga beberapa mahasiswa yang berkumpul menyaksikan drama yang dibuat sang ratu alay.


"Mau kemana? Tanggung jawab lu udah gangguin cewek gue." Aldo menarik bahu Dian dan langsung di tepis si ganteng, kasar.


"Gue gak ada urusan sama ondel-ondel itu. Gak penting!" sahut Dian, ketus.


Bugh


Sebuah bogem mentah mampir manja di wajah ganteng Dian. Sudut bibirnya pun sobek dan berdarah. Si tampan itu mengelap darah dibibirnya dan meringis.


"Shitt!"


Bugh


Dian balas memukul Aldo dan perkelahian pun tak terelakkan. Bukannya melerai, mahasiswa lain yang melihat hanya diam saja, bahkan ada beberapa yang sengaja memberi yel-yel penyemangat agar pertempuran makin seru.🤦‍♀️


Si ratu drama tersenyum sinis melihat drama yang dibuatnya berhasil memprovokasi Aldo. Ia merasa diperebutkan oleh dua cowok. Sampai Raya datang dan menghentikan perkelahian itu.


Flashback off


"Kita putus."


Mesya melongo menatap Aldo yang pergi meninggalkannya setelah mengucap kata putus.


"Jadi janda lagi dah gue." keluhnya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2