
"Om mau kemana?" tanya Maudy mengejar Tomi yang sudah naik di atas motor nya.
"Om mau cari angin." jawab Tomi sambil menyalakan motor nya.
Maudy mematikan motor nya, dan mencabut kunci motor milik Tomi. Dan Tomi, berusaha untuk mengambil kunci motor tersebut, tapi di pegang erat oleh Maudy.
"Kembali kan nggak? kunci nya."
"Nggak, kita harus selesai kan." ucap Maudy.
"Selesai kan masalah apa sih? tidak ada yang perlu di bahas. Saya ingin keluar cari angin, disini hawa nya begitu sangat panas."
"Om cemburu kan? Om marah kan?"
"Buat apa cemburu, nggak ngaruh."
"Dia yang minta ketemuan sama saya, itu tempat favorit kita berdua. Dan saya tadi nya menolak, tapi dia bilang sebentar. Tapi dia waktu di sana, tiba - tiba memegang tangan saya. Sumpah, bukan maksud mau balikan."
"Kalau kamu mau balikan sama dia, silahkan saya kasih kamu kebebasan. Mungkin, saya itu tidak pantas untuk kamu. Dan kamu tidak akan rugi, karena saya belum apa - apa kan kamu.Kalau kamu, mau minta cerai, saya kabulkan malam ini juga, dan besok kamu boleh angkat kaki dari sini."
"Om kok ngomong nya begitu? seharusnya Om tidak bicara seperti itu. Saya juga, punya perasaan."
"Kamu bicarakan perasaan, terus kamu hargai perasaan saya tidak? kamu saja tidak hargai perasaan saya, jadi buat apa saya hargai perasaan kamu."
__ADS_1
"Om jahat." ucap Maudy menangis dan langsung masuk ke dalam rumah.
"Ya Allah, lebih baik saya hadapi musuh bersenjata dari pada hadapi mahkluk yang namanya perempuan." ucap Tomi.
***
"Seharusnya saya yang marah, bukan kamu yang marah." ucap Tomi, sambil berkacak pinggang.
"Om itu seperti anak kecil ya, baru segitu saja marah." ucap Maudy.
"Yang anak kecil itu siapa? kamu yang anak kecil."ucap Timor
"Capek ya, kalau berdebat sama Om itu, nggak pernah ingin mengalah. Dasar, tua - tua juga jiwa nya seperti anak kecil." ucap Maudy.
"Punya suami, ngeselin." ucap Maudy dengan nada keras.
Tomi langsung menyandarkan tubuhnya, di kepala ranjang. Memejamkan kedua mata nya, masih ingat jelas, bagaimana wajah bahagia nya, Maudy bersama dengan Axel.
"Apa saya, memang merebut kebahagiaan nya. Masa - masa indah remaja nya, bakalan hancur begitu saja, " ucap Tomi.
Tomi, mengusap. wajah nya nya dengan kasar, bahkan Tomi tidak bisa memejam kan kedua mata nya.
"Saya harus ambil keputusan, dari pada begini saja, " ucap Tomi keluar dari kamar ya.
__ADS_1
Saat keluar, Maudy sedang menonton televisi. Tomi duduk di samping , Tomi biarkan, Maudy mengganti seluruh stasiun televisi.
"Cari apa sih?" tanya Tomi.
"Kamu ingin acara yang mana?"tanya Tomi kembali.
" Dari tadi, remote di pencet - pencet mau acara yang gimana sih." ucap kembali Tomi.
"Mau saya cari yang gimana acara nya, Om itu diam saja. Saya lagi malas saja, mendengar suara Om Tomi ngomel terus."ucap Maudy.
" Oh gitu ya, saya juga malas, ngobrol sama kamu." ucap Tomi.
"Om, kalau Om itu terus marah sama saya, akan saya laporkan pada Papah."
"Kamu laporkan apa? yang ada kamu malah di marahin sama Papah kamu, kalau kamu itu jalan sama cowok lain."
"Kok, om gitu sih? "
"Ya emang fakta. "
.
.
__ADS_1
.