
Polisi berdatangan di TKP, Polisi pun memeriksa, tempat kejadian, dan barang bukti pelaku dan korban. Dari mobil Tomi, terdapat sebuah kamera di dashboard. Dan mengambil sebagai barang bukti, sedang Axel, dinyatakan meninggal dunia di tempat, saat tubuhnya terpental jauh, hingga membuat kepalanya terbentur jalan.
Sedangkan Tomi di larikan di rumah sakit, Maudy menangis di pelukan Papah Hadi. Jenazah Axel pun satu rumah sakit dengan Tomi, terlihat keluarganya pun telah tiba.
Ibu Yuli dan Pak Johan terlihat begitu sangat sedih, saat Polisi menjelaskan kejadian perkara. Ibu Yuli langsung menatap tajam ke arah Maudy, dengan kedua mata yang sembab.
"Saya mau, hukum adil. Saya mau pria itu di penjara, karena sudah membuat anak saya meninggal dunia." ucap Ibu Yuli.
"Baik bu, kami akan memeriksa lebih lanjut. Mohon tunggu, untuk kabar selanjutnya." ucap seorang Polisi.
Pak Johan mendekati Papah Hadi yang sedang duduk, dengan mencengkram bahu Papah Hadi dengan kencang.
"Ini semua gara - gara kamu Hadi." ucap Pak Johan.
Maudy melepaskan pelukannya, dan melihat Pak Johan tangannya mencengkram bahu kanan, Papah Hadi.
"Om." ucap Maudy.
"Kalau kamu, tidak memisahkan anak saya dan anak kamu. Axel pasti masih hidup, tapi karena ego kamu Axel jadi begini. Kamu harus tahu, Axel begitu sangat mencintai anak kamu. Tapi kamu malah memisahkan mereka, dengan menikahkan orang yang seumuran dengan kamu. Saya yakin, anak kamu tidak bahagia, dia terpaksa bahagia."
"Saya memilihkan jodoh untuk anak saya, karena pria yang jadi suaminya adalah pria yang baik, kalau anak kamu pria yang baik, tidak melakukan penyerangan terhadap anak dan menantu saya." ucap Papah Hadi.
"Om, bukti CCTV itu jelas. Kalau Axel yang menyerang. Dan suami saya, mendorong Axel, untuk sebuah pembelaan. Karena Axel, mau membunuh saya juga Om. Axel berubah, dia bukan Axel yang saya kenal." ucap Maudy.
"Dia berubah karena kamu." ucap Ibu Yuli.
"Kamu harus tahu Maudy, dia sering curhat sambil menangis, karena merasa sangat kehilangan kamu. Awal masalah memang bukan kamu tapi Papah kamu. Dan Hadi saya masih ingat, kamu melarang Axel mendekati putri kamu. Karena Axel, masih makan dan minum dari orang tuanya. Karena ucapan kamu, dia sekarang sukses punya uang sendiri." ucap Ibu Yuli.
"Maafkan saya, kalau sudah menyakiti hati Axel." ucap Papah Hadi.
"Kamu bilang maaf, anak kami sudah meninggal dunia tidak akan hidup lagi." ucap Pak Johan.
"Jujur Om, Tante. Saya kecewa sama Axel, untung Papah menikahkan saya dengan pria pilihan Papah, Axel itu jahat. Kalau memang dia mencintai saya, dia tidak akan jahat, tidak akan mencoba membunuh saya. Sekali dia menang, tetap dia akan menyakiti hati saya. Itu bukan cinta, tapi ambisi."
"Kamu bicara begitu Maudy? Om tidak menyangka."ucap Pak Johan.
"Seharusnya, Om sadar begitu juga Tante. Dengan kejadian miris seperti ini, Ayo Pah kita pergi. Dari pada kita disini disalahkan terus." ucap Maudy mengajak Papah Hadi untuk meninggalkan kedua orang tua Axel.
Plaaaaakkk
Ibu Yuli menampar pipi Maudy, hingga memerah wajahnya. Papah Hadi mencoba membalas tapi segera di tahan Alfa yang baru datang.
"Jangan balas, jangan kotori tangan kamu, untuk menyentuh tubuh kotornya." ucap Alfa.
"Anak saya dia tampar, sudah tahu anak mereka yang salah. Kalian harus tahu, Axel meninggal dunia itu kena azab, semoga saat sakaratul mautnya dia sempat berkata taubat." ucap Papah Hadi langsung menarik tangan Maudy.
"Saya sudah melihat, dari rekaman CCTV itu. Dengan sangat jelas, anak kalian yang salah. kalian mau sekuat tenaga ingin pembelaan, tepat tidak akan bisa." ucap Alfa.
****
"Bang." ucap Maudy langsung mendekat saat Tomi, baru saja di bawa masuk kedalam kamar rawat, setelah mendapatkan tindakan dari dokter.
__ADS_1
"Kamu tidak apa - apa kan?" tanya Tomi dengan suara pelan.
"Seharusnya saya yang tanya, bukan Abang tanya begini." jawab Maudy.
Aaaawwww
"Kamu kenapa?" tanya Tomi saat memegang pipi yang bekas tamparan Ibu Yuli.
"Ibu Yuli menampar saya." jawab Maudy.
"Apa!! kurang ajar sekali dia." ucap Tomi marah.
"Pah, Alfa kalian diam saja? istri saya di tampar."
Tomi, jangan kotori tangan kita, biar mereka yang kotor. Diamnya kita, akan di balas oleh yang di atas. Tunggu saja, balasan buat mereka. Anaknya kan sudah mendapatkan balasan, dengan tertabrak hingga meninggal karena azab kan, belum juga orang tua yang tidak tahu apa - apa, kebenaran akan terus berpihak pada kita, dan mereka akan malu."ucap Alfa.
"Mereka pantas marah, tapi bukan begitu. Jelas anaknya yang salah, mereka menuduh bahkan ingin memenjarakan saya." idak Tomi.
"Abang tidak boleh di penjara, karena Abang tidak salah. Abang seperti itu karena membela diri." ucap Maudy.
"Abang tidak akan di penjara, karena Abang dan kamu hanya korban. Tersangka sebenarnya adalah Axel, dan sudah mendapatkan hukuman yang setimpal." ucap Tomi.
*****
"Alfa, saya juga merasa tidak enak." ucap Papah Hadi.
"Tidak enak gimana?"
"Kematian Axel, tingkah laku Axel yang berbuat nekat. Secara langsung, saya sudah merubah seorang anak menjadi jahat."
"Tetap saja, mereka sebagai orang tua akan menyalahkan saya. Tapi saya juga memiliki anak perempuan satu - satunya, saya ingin dia bahagia, karena saya yakin pilihan saya itu adalah terbaik buat dia. Buktinya, sekarang Maudy bahagia dengan Tomi."
"Jadi kamu tidak salah, salahkan anak itu. Semoga Allah mengampuni segala dosa - dosanya." ucap Alfa.
"Amin." ucap Papah Hadi.
*****
"Ya Allah Bang, saya kaget mendengar dari dokter IGD kamu terluka. Sekarang gimana, masih sakit?" tanya Prita.
"Sudah mendingan." ucap Tomi.
"Kamu cinta, tapi malah sampai mengorbankan tubuh kamu. Eh kamu, suami kamu terluka, apa kamu tetap tidak menghargainya? saya heran kenapa bukan kamu , yang berbaring di atas tempat tidur ini." ucap Prita.
"Kamu bicara apa Prita?" ucap Tomi.
"Wah, belum pernah di tembak nih orang. Mau pakai senjata laras panjang, atau senjata laras pendek. Agar kamu itu, tidak bisa bicara lagi.Kamu pikir, perhatiannya saya pada suami harus di sebarkan ke orang - orang. Cukup saya dan suami saja yang tahu, biar di mata orang saya tidak perhatian, tapi faktanya di mata suami saya perhatian." ucap Maudy.
"Bang, mulut istri kamu itu sudah lost control. deh." ucap Prita.
"Ya lost control kalau memang ada suatu kesalahan, makannya kalau kesini, jangan cari ribut. Jadinya begini kan? Abang tidak ikut - ikut, Abang mau tidur." ucap Tomi langsung berbaring dengan memiringkan tubuhnya sebelah kiri.
__ADS_1
"Gimana, mau pilih yang mana?" tanya Maudy.
Prita menghentakkan salah satu kakinya, dan pergi meninggalkan kamar Tomi. Setelah Prita pergi Tomi membuka kedua matanya kembali.
"Ah.. nggak seru." ucap Tomi.
"Nggak seru apa Bang?" tanya Maudy.
"Kenapa nggak cakaran, jambak menjambak, atau saling pukul. Cuman gitu doang, nggak. asik banget."
"Oh, jadi Abang ingin pertunjukan seperti itu. Ok nanti saya tunggu dia kesini lagi, kalau dia seperti tadi yang Abang minta akan saya turuti. Begini - begini, saya itu pernah mematahkan tulang dan mati."
"Siapa?"
"Ayam."
"Hah.. Ayam!!"
"Ayamnya Papah si coki ngajak tarung, saya diam saja dia tiba - tiba menyerang, eh langsung saya tuh pelintir si coki, lehernya patah."
"Terus Papah?"
"Ya marah, karena Ayam jago itu sudah di beli sama orang seharga 5 juta."
"Oh.. iya ingat, Papah kamu marah - marah, dia curhat sama Abang."
"Itu si Prita, kalau sekali lagi bicara seperti itu. Lehernya bakal saya patahkan seperti Almarhum Coki, kalau tidak itu muka tidak cantik lagi."
"Istri Abang, ternyata cemburuan ya."
"Ih.. geer banget, bukan cemburu Bang tapi merasakan harga diri saya, di injak - injak sama dia."
*****
"Pak Bu, menunjukan disini. Korban tidak mengawali perkelahian, bahkan korban diam dan baru menyerang saat Almarhum menghajarnya. Korban bisa memukul, karena Almarhum mengeluarkan kata - kata yang tidak mengenakan hati. Bahkan disini, Maudy memukul Almarhum dengan maksud membela suaminya, lalu anak ibu dan bapak, menusuk korban berkali-kali, lalu akan melukai Maudy, dan Pak Tomi mencoba menggagalkannya tidak sengaja, tendangannya mendorong Almarhum ke tengah jalan. Bahkan kata korban, dirinya tidak tahu kalau ada sebuah truk, dengan kecepatan kencang melintas. Bahkan kebetulan, tepat di kejadian perkara ada CCTV lain, korban tahu titik di mana CCTV tersebut, karena bahaya mengancam keduanya." ucap Anggota Polisi menjelaskan.
"Anak kami tidak salah, dia yang salah."ucap Ibu Yuli.
" Dari rekaman mobil, Almarhum sudah mengikuti, dan memang ini sudah di rencanakan."
"Ini pasti akal - akal an saja." ucap Pak Johan.
"Maaf Pak, sesuai bukti rekaman CCTV. Ini sudah sangat jelas. Kasusnya kami tutup, karena tersangka meninggal dunia, dan barang - barang milik Almarhum kami sita, sebagai barang bukti."
"Tidak bisa, saya akan sewa pengacara agar pria itu di penjara, begitu juga dengan wanita itu." ucap Ibu Yuli tidak terima.
"Benar Bu, Ayah juga sangat kecewa. Saya akan tuntut balik." ucap Pak Johan.
"Silahkan Pak, kalau mau banding, bisa di pengadilan nanti. Saya sarankan pengacara Bapak dan Ibu, pelajari kasusnya dan tidak asal pengacara."
.
__ADS_1
.
.