Kapten Tom

Kapten Tom
janji Malam


__ADS_3

Hingga pukul 10 malam, Maudy belum juga keluar dari dalam kamarnya. Tomi yang ingin menyusul istrinya masuk kedalam kamar, merasa tidak enak pada nenek.


Tomi yang tidak tenang, sesekali menoleh ke arah pintu. Ibu Rita tersenyum, saat melihat cucu menantunya.


"Kamu masuk saja, kalau tidak bangun. Ada air satu ember."


"Ah.. nenek, itu terlalu kejam." ucap Tomi, beranjak bangun.


Tomi berjalan ke arah kamar, dimana Maudy tidur. Di buka kamar tidur tersebut, terlihat tubuh yang tertutup rapat oleh selimut.


Tomi tersenyum, karena melihat ada pergerakan tubuh, dan mendengar suara bunyi dari ponsel.


Tomi perlahan mendekati tempat tidur, tangannya berusaha masuk , kedalam balik selimut. Tomi merasakan tangannya sudah berada di telapak kakinya.


Aaaaaaaa


Buuuughhhhh


"Aduh...!!! " ucap Tomi yang terjungkal kebelakang, hingga merasakan sakit di arep pinggang.


"Abang...!! "


"Kamu kenapa tendang sih? sakit tahu."


"Ya lagian, kenapa Abang kerjain saya? rasain jadi senjata makan tuan."


Tomi bangun, dan berjalan ke arah tempat tidur. Tomi menatap istrinya, yang sedang menatapnya juga.


"Ada apa? lihat - lihat." ucap Maudy.


"Pulang yuk, sudah malam." ajak Tomi.


"Nggak mau!! tidur disini saja."


"Pulang, Abang nggak bawa ganti."


"Ada tuh, kaosnya Maudy."


"Kaos apa? yang ada kaos warna pink."


"Yasudah kalau nggak mau."

__ADS_1


"Pulang yuk."


"Besok saja."


"Ehm... Abang paham."


"Paham apa Bang?"


"Kamu kan sudah janji, Abang ngerti kamu itu menghindar."


"Ih.. nggak lah, siapa yang menghindar. Perasaan Abang saja, lagi pengen tidur di rumah nenek."


"Ya sudah, kalau tidur di rumah nenek, gimana kalau belah durennya disini?


" Abang....!!!"


"Ssstttt nggak boleh keras - keras, nanti Nenek dengar."


"Lagian, Abang bicara gitu."


"Mau belah duren di sini atau di rumah? pilih mana? kalau disini mau teriak susah, kalau di rumah mau teriak kencang enak."


"Nggak mau, tetap disini."


"Buka apa Bang?" tanya Maudy sambil menutup dada dengan kedua tangannya.


"Tuh itu." tunjuk Tomi sambil matanya ke arah titik yang pernah dirinya cicipi.


"Eh..eh.. jangan macam - macam."


"Makannya, cepat pilih yang mana?"


"Iya, kita pulang." ucap Maudy, dan Tomi tersenyum penuh kemenangan.


****


Saat sampai di dalam rumah, Maudy langsung berlari masuk kedalam kamar. Setelah mengunci pintu, Tomi segera menyusul Maudy. Keduanya saling dorong pintu, dengan sekuat tenaga, Maudy menahan pintu.


"Om.. ih... kayak orang jahat maksa masuk."


"Biarin, kamu yang mulai."

__ADS_1


"Sudah om, saya capek."


"Makannya, menyerah nggak?"


"Nggak..!!! "


"Ya sudah, sampai besok kita terus dorong mendorong pintu.'


" Sudah ah menyerah." ucap Maudy, langsung berjalan ke arah tempat tidur.


Tomi langsung mengunci pintu kamar, dan langsung membuka kaos nya. Hingga menyisakan celana panjangnya saja.


Maudy lebih memilih memejamkan kedua matanya, dan merelakan malam ini adalah malam pertama dirinya merelakan kesuciannya untuk Tomi.


Tomi memegang ujung kami Maudy, terasa geli yang kini dirasakan oleh Maudy. Tangan Tomi terus naik ke atas, hingga kedua tangan Maudy mencengkam sprei.


Tomi tersenyum geli, saat melihat ekspresi wajah Maudy. Hingga tangan Tomi berhenti, saat akan menyentuh bagian inti milik Maudy.


Kedua mata Maudy terbuka, melihat Tomi langsung turun dari tempat tidur. Tomi mengenakan kembali pakaiannya, dan Maudy merasa sangat bingung.


"Bang."


"Abang akan melakukan, bila kamu bersedia dengan suka rela menyerahkan semuanya."


Maudy turun dari tempat tidur, Maudy memeluk tubuh Tomi dari belakang. Tomi menghentikan langkahnya, saat melihat tangan Maudy melingkar di perutnya.


"Bang, saya siap malam ini. Siap merelakan segalanya."


Tomi tersenyum, lalu membalikkan tubuhnya, Maudy tersenyum ke arah suaminya. Saat kedua nya saling memeluk, Tomi langsung mengangkat tubuh Maudy ala koala, hingga di baringkan di atas tempat tidur.


"Mau lampu mati atau menyala?"


"Lampu menyala, agar bisa melihat wajah keren Abang, yang sedang mengobrak-abrik sarang laba - laba."


"Ok, kalau memang itu permintaannya. Abang akan main cantik, kamu diam sambil menikmati setiap sentuhan yang di berikan suami kamu."


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2