Kapten Tom

Kapten Tom
Mencari Keadilan


__ADS_3

"Mereka melakukan banding, gimana itu?" ucap Alfa.


"Silahkan saja, tapi bukti sudah sangat jelas kan? saya ladenin orang tuanya mau sampai mana." ucap Tomi.


"Betul itu, kita jangan takut.Kan tidak salah, bukti sudah ada akurat lagi."


"Alfa, ini masalah Prita."


"Kenapa lagi dia?"


"Saya itu gimana ya jelaskan ke dia, padahal saya kan sudah punya keluarga, dia masih saja tetap ngejar saya. Kemarin hampir adu mulut sama Maudy, untung tidak jadi tarik menarik rambut.'


" Ya kalau kamu belum sama Maudy, kalian pasti jadian. Tapi kan, kamu malah sama Maudy. Prita itu pantas buat kamu, malah waktu kamu belum menikah, malah banyak yang berharap kamu sama dia nikah. Eh malah sama bocilnya Hadi."


"Nggak tahu gimana ceritanya, saya kok tiba - tiba bisa jatuh cinta sama dia, padahal saya itu kenal dia dari jaman masih bayi, eh sekarang dia malah jadi istri saya."


"Itulah jodoh, sekarang kan Maudy sudah mulai luluh sama kamu, sudah mulai sayang sama kamu. Jadi perjuangan kamu itu tidak sia - sia, bahkan sampai pertaruhkan nyawa."


"Kalau ingat kemarin, seperti di film - film action." ucap Tomi.


*****


"Saya tidak menyangka kalau Axel, bakalan meninggal seperti ini. Dia itu sebelum meninggal dunia, pernah berpesan. Sampai mati, kamu harus kasih tahu Maudy, kalau saya tetap mencintainya." ucap Tito.


"Saya tidak menyangka saja, karena cinta dia rela melakukan hal bodoh, kalau dia tidak seperti ini Axel masih hidup, dan masih sama kita sekarang. Tapi takdir berkata lain, dia malah pergi untuk selamanya." ucap Susanti.


"Dia itu jahat, hampir melukai saya. Bahkan melukai orang yang saya cintai, kalau dia sayang sama saya bukan begitu caranya." ucap Maudy.


"Saya minta maaf, kalau saya tidak suka laporan pada Axel, mungkin tidak seperti ini jadinya." ucap Tito.


"Sudahlah, jangan sering di jadikan alasan menyesal, dari dulu kan saya sering ingatkan kamu, agar tidak selalu melapor pada Axel masalah ini. Eh kamu malah melaporkan, jadinya kan seperti ini." ucap Susanti.


"Maaf."


"Sudah, tidak usah di perpanjang lagi. Ini sudah terjadi, kita tidak harus saling menyalahkan, ini sebagai pelajaran hidup saja. Orang yang kita cintai, tidak selamanya akan menjadi milik kita. Jodoh, maut, rejeki semuanya sudah di atur oleh yang di atas. Kita harus menerima segala konsekuensinya, jangan mempertaruhkan sesuatu, yang membuat kita rugi." ucap Maudy.


*****


"Sayang." ucap Tomi sambil mengulurkan tangannya.


Maudy mendekat dan duduk si samping tempat tidur, sedangkan tangan Tomi melingkar di pinggang Maudy, dengan posisi miring dan wajahnya di sembunyikan di perut Maudy.


"Abang kenapa?"


"Kangen, kamu kemana saja?"


"Habis ketemu sama Susanti dan Tito, mereka kan habis ke pemakaman Axel."


"Kamu kesana?"


"Tidak Bang, kalau saya kesana, akan merubah suasana."


"Iya, lebih baik jangan. Nanti kita ke makam Axel, kalau sudah tidak panas suasananya."


"Ada kabar apa?"


"Orang tua nya tidak terima bahkan, ingin menyewa pengacara agar hukum adil pada mereka."


"Adil bagaimana? bukannya sudah jelas."

__ADS_1


"Mereka tetap tidak mau menerima keputusan kalau Axel salah, mereka ingin kita yang di penjara."


"Ya Allah Bang, mereka terlalu sakit hati."


"Tapi bagaimana mereka itu berusaha, kalau memang salah tidak akan bisa. Kita tenang saja, selagi kebenaran dan keadilan masih berpihak pada kita."ucap Tomi.


" Abang obatnya sudah di minum?" tanya Intan saat melihat obat di atas nakas.


"Sudah, tapi satu nutrisi belum masuk." usai Tomi sambil kedua matanya tertuju pada dada Maudy.


"Ih.. Om, ini rumah sakit tahu."


"Nggak apa - apa, kamar kita kan VIP sendirian."


"Nggak ah, nanti ada dokter atau perawat gimana?


" Ayolah sayang, biar cepat keluar dari rumah sakit."


"Memangnya ngaruh gitu?"


"Iya lah ngaruh, kalau nggak percaya coba aja."


"Ih.. otaknya mesum sakit juga."


"Yuk buruan ih."


"Abang."


"Buruan, kunci dulu." ucap Tomi, dan Maudy menuruti apa kata suaminya.


****


"Kenapa Hadi?" tanya Ibu Rita.


"Ini Bu, kok di kunci. Apa mereka pindah tempat ya?"


"Masa sih?" ucap Ibu Rita, sambil menoleh ke kanan dan kiri mencari perawat.


"Sus, maaf ini kamar yang di tempati cucu menantu saya pindah ya?" tanya Ibu Rita.


"Maaf Bu, masih tetap. Kenapa?"


"Kok di kunci."


"Mungkin sama pasiennya, coba ketuk saja."


"Oh iya makasih."


Tok tok tok.


"Tomi, Maudy." panggil Papah Hadi dari luar.


Sedangkan di dalam kamar, Maudy segera memasang kancing kemejanya, dan merapihkan pakaiannya. Maudy langsung berjalan, ke arah pintu.


Ceklek


"Kalian habis ngapain sih? pintu sampai di kunci." tegur Ibu Rita.


"Eh.. tadi habis tiduran." ucap Maudy sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Tidur pakai di kunci, seperti di rumah sendiri saja." ucap Papah Hadi.


"Maaf Pah, habis ngantuk banget." ucap Maudy bohong.


Papah Hadi dan Ibu Rita menatap Maudy dan Tomi, keduanya tidak terlihat seperti orang bangun tidur. Terlihat Tomi yang seperti muka lemas, dan Maudy langsung membersihkan tissue yang berserakan di lantai.


"Ini tadi, Bang Tomi minum tumpah. Tissue nya kemana - mana , asal buang saja."


"Iya, Maudy jorok. Suruh langsung buang ke tempat sampah malah buang sembarangan." ucap Tomi.


"Kamu gimana lukanya?" tanya Ibu Rita.


"Masih sedikit nyeri, tapi sudah nggak seperti kemarin."ucap Tomi.


" Kasus Axel, ternyata orang tuanya di perpanjang." ucap papah Hadi.


"Jadi masih lanjut?" tanya Ibu Rita.


"Iya masih lanjut, kita hadapi saja Tomi. Kita jangan takut, karena bukti sudah jelas." ucap Papah Hadi.


"Kalau kita kalau gimana?" tanya Maudy.


"Tenang nak, kalau kita benar tidak salah, kemenangan akan berpihak pada kita."jawab Papah Hadi, menjelaskan.


" Saya akan hadapi Pah, saya akan datang ke pengadilan bila di undang, saya akan bertanggung jawab." ucap Tomi.


*****


"Bang, kalau kita kalah gimana?" tanya Maudy.


"Kamu jangan takut, ada pengadilan Allah yang adil, mereka menang di dunia, di akhirat akan di balas." jawab Tomi.


"Kita itu tidak niat membunuh atau melukainya, tapi kita membela diri Bang."


"Iya Abang tahu, dan Polisi juga sudah mengetahuinya, kita biarkan saja mereka mencari keadilan. Kita disini, doakan agar Axel, di ampuni segala dosa - dosanya."


"Amin Bang."


****


"Kenapa Yank?" tanya Tomi saat melihat istrinya meringis kesakitan saat memegang pucuk dadanya.


"Ini gara - gara Abang, sampai perih gini." jawab Maudy cemberut.


"Ya Maaf, habis gemes."


"Perih tahu Bang, tanggung jawab ah."


"Sini Abang pegang."


"Nggak mau, yang ada tambah perih."


"Katanya tanggung jawab, gimana sih."


"Nggak jadi."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2