Kapten Tom

Kapten Tom
Tentang Kehidupan


__ADS_3

"Kamu nggak kuliah?" tanya Tomi yang melihat istrinya masih belum siap - siap.


"Saya mau ikut sama Abang." jawab Maudy.


"Ikut kemana? Abang mau Dinas malah ikut."


"Iya ikut sama Abang, saya libur kuliah dulu."


"Abang kerja Yank, mau cari duit. Bukan mau jalan - jalan."


"Sepulang dinas mau temui Kemuning lagi kan?"


"Kok tahu?"


"Ya tahu lah, emang itu kan rencananya."


"Kalau mau ikut, nanti saja sore. Sekarang mau dinas dulu."


"Nggak, nanti bohong. Saya ambil tas terus ikut sama Abang."


"Jangan dong Yank, apa kata teman - teman."


"Biarin saja, mau pada bilang apa, yang jelas sekarang mau ikut Abang, nggak boleh nolak.'


Dengan terpaksa, Tomi memperbolehkan istrinya ikut. Dengan wajah bete, Tomi membonceng Maudy ke tempat dinasnya.


***


" Wah.. ada pengawalnya tuh." sindir Alfa.


"Gara - gara Kemuning, jadi begini ceritanya."


"Hahahahaha.. kawal terus Maudy."


"Iyalah Om, saya akan kawal suami saya. Kemana pun dan kapan pun jangan sampai lengah." ucap Maudy.


Maudy mengekor sampai Tomi masuk kedalam ruangannya, Maudy langsung merampas ponsel Tomi, sedangkan Tomi langsung menyelesaikan tugasnya yang belum terselesaikan.


"Bang."


"Hem."


"Pengen ngemil."


"Tinggal beli saja, di koperasi banyak makanan."


"Duitnya?" ucap Maudy sambil memainkan ponsel Tomi.


Tomi langsung membuka isi dompetnya, dan memberikan pada Maudy, selembar uang warna merah.


"Selembar Bang?" ucap Maudy saat melihat uang kertas di atas meja.


"terus?"


"Ya kirain tambah warna biru."


"Nggak ada lagi."


"Abang saja yang beli, takut khilaf."


"Lagian mau beli apa? di koperasi tidak ada barang yang bikin khilaf yang ada, kalau kamu diet baru khilaf. " ucap Tomi semakin kesal.


"Ah.. Abang, saya tuh malas jalannya."


"Jangan mulai deh, Abang sibuk. Kalau buat ulah, Abang antar pulang."


"Iya." ucap Maudy.


****


"Mba, total." ucap Maudy dengan menaruh keranjang di atas meja kasir.

__ADS_1


"Ini saja mba?" tanya petugas kasir.


"Iya itu saja."


"Totalnya 100 ribu pas."


Maudy menyerahkan uang tersebut, dan setelah mendapatkan belanjaannya langsung pergi meninggalkan koperasi.


Sesampainya di ruangan Tomi, terlihat suaminya sedang menerima telepon. Maudy langsung membuka isi snack nya.


"Terima kasih dok, nanti saya akan segera kesana." ucap Tomi langsung mematikan ponselnya.


"Yank."


"Ada apa?" ucap Maudy sambil memakan snacks yang di belinya tadi.


"Kemuning kritis."


"Terus?"


"Abang harus kesana."


"Ribet juga ya tuh manusia, orang sakit sampai menggegerkan dunia."


"Kamu tidak boleh begitu, kita sesama manusia harus memiliki jiwa kasihan."


"Saya nggak kasihan Bang, dia penjahat."


"Ya sudah, terserah kamu. Sekarang habiskan snack nya kita kesana sekarang."


"Ya tunggu, sedang tanggung."


Tomi hanya menarik nafasnya dengan kasar, dan menatap gemas pada istrinya. Sedangkan Maudy, secara sengaja memperlambat waktu.


****


"Kondisinya semakin menurun, sejak pagi dia panggil nama Pak Tomi terus." ucap dokter Imanuel.


Sedangkan Maudy menyilangkan kedua tangannya di dada, sembari menatap cemburu ke arah Kemuning.


"Kapten." panggil pelan Kemuning.


"Iya, saya disini."


"Terima kasih sudah datang kesini, saya ingin tidur tapi ingin melihat wajah Kapten dulu." ucap Kemuning.


"Mau tidur saja ganjen, ingin ketemu suami saya." ucap Maudy yang di dengar oleh Tomi dan Kemuning.


"Mba, maafkan saya ya. Kalau membuat mba marah." ucap Kemuning pada Maudy.


"Iya, nggak apa - apa. Santai saja lagi." ucap Maudy pura - pura.


"Kapten, doakan saya ya. Maafkan semua dosa - dosa saya, terima kasih sudah mau menemui saya."


"Iya, saya akan mendoakan kamu. Dan saya maafkan semua segala dosa - dosa kamu." ucap Tomi.


Maudy menatap serius ke arah Kemuning, terlihat nafasnya semakin susah. Maudy mendekat, dan suaminya mencoba menuntun Kemuning.


"Bang, kemuning kenapa?" tanya Maudy.


"Laa ilaha illallah. "ucap Tomi.


Terlihat Kemuning berusaha mengucapkannya, terlihat seperti menahan sakit. Kedua matanya pun menutup, saat setelah mengikuti apa yang di bacakan oleh Tomi.


"Inalilahi wainnailaihi rojiun." ucap Tomi.


Maudy terisak, saat melihat Kemuning telah tiada. Tomi menutup tubuh Kemuning dengan selimut, Tomi langsung memanggil dokter.


Tomi langsung memeluk tubuh Maudy, walau bukan siapa - siapa ada rasa duka buat Tomi dan Maudy.


"Kami akan segera mengurus Jenazah dan segera di makam kan. Kemuning tidak memiliki siapa - siapa, jadi pihak kami akan mengurus jenazah Kemuning." ucap dokter Imanuel.

__ADS_1


"Baik dok, saya serahkan semua. Dan tugas saya sudah selesai, dan maafkan kami kalau banyak meninggalkan kesan yang menimbulkan kekacauan." ucap Tomi.


****


"Kamu kok nangis? tadi kamu marah - marah, sekarang nangis - nangis, kenapa?"


"Saya melihatnya sedih, begini orang sakaratul maut, bagaimana nanti kalau Papah atau Abang, pergi meninggalkan saya untuk selamanya hiks... hiks... " ucap Maudy menangis, Tomi langsung memeluknya.


"Semua manusia akan mengalami hal itu, semua manusia tidak akan bisa melewati yang namanya kematian. Kita ini hidup di dunia hanya sementara, kehidupan kita yang kekal bukan disini."


Hiks.. hiks.. hiks..


"Apa nanti kita disana, bisa berkumpul lagi seperti ini Bang?" tanya Maudy, Tomi mengusap air mata istrinya.


"Insya Allah, semoga kita disana bisa bersama - sama lagi."


*****


Papah Hadi, Tomi dan Maudy, hadir di pemakaman Kemuning. Tidak ada sanak keluarganya yang datang, hanya di hadiri oleh petugas Lapas.


Terlihat miris melihatnya, Tomi maju ikut menaburkan bunga. Tomi duduk berjongkok di depan makam kemuning.


"Semoga segala dosa - dosa kamu, di ampuni yang maha kuasa. Kamu sudah tidak sakit lagi, kamu sudah tenang, pergi dengan keinginan kamu yang terpenuhi. Dari kamu, saya belajar. Orang yang jahat tidak selamanya jahat, tapi memiliki sisi baik dalam hidupnya. Semoga kebaikan kamu, bisa untuk meringankan segala dosa - dosa kamu."


*****


"Bang makan." ucap Maudy.


"Makasih ya, besok mau ikut Abang dinas lagi nggak?"


"Ngapain, malas deh." ucap Maudy dengan wajah datarnya, dan Tomi tersenyum.


"Ya kirain mau ikut lagi, takut kabur lagi."


"Ya kemarin kan, memang takut kabur kalau sekarang nggak."


"Kalau Abang, kabur nggak pulang lagi gimana?"


"Silahkan, mau nggak pulang seminggu juga silahkan. Terserah, yang penting saat ingat pulang posisi Abang sudah tergantikan."


"Waduh, sama siapa?"


"Sama siapa saja, pokoknya lebih tampang dari Abang."


Braaaaakkkkk


Tomi menggebrak meja makan, dan langsung bangun dari duduknya. Maudy yang masih kaget, hanya bisa mengelus dadanya.


"Kenapa sih? meja makan nggak salah malah di gebrak."


"Abang pulang cepat, sekarang cepat bersiap - siap ke kampus."


"Santai saja kali mukanya, kayak orang sedang minta onoh."


"Maksudnya?"


"Mikir saja sendiri."


*****


"Kamu kenapa?" tanya Kirana.


"Kok perut saya nggak enak begini." jawab Maudy.


"Salah makan kali."


"Pengen muntah."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2