Kapten Tom

Kapten Tom
Lebih Baik Berpisah


__ADS_3

Maudy dan Tomi hanya diam, rumah bagai seperti neraka. Tomi terus menghisap batang rokok nya, sedang kan Maudy bermain ponsel.Terdengar suara ketukan pintu, Maudy langsung berlari ke arah pintu.


"Axel, Tito sama Susanti mana?"tanya Maudy mencari.


"Dor... " ucap Susanti dan Tito, keluar dari persembunyian nya.


"Kirain kalian tidak datang." ucap Maudy.


"Datang lah." ucap Susanti.


"Masuk yuk." ajak Maudy.


Tomi melihat teman - teman Maudy datang, Tomi menatap Axel yang tersenyum ke arah nya. Tomi dengan malas, menutup pintu kamar dengan membanting.


"Maudy, suami kamu sedang marah?" tanya Susanti.


"Biarin saja, nggak peduli dia mau marah atau mau apa." ucap Maudy.


"Eh kalian mau minum apa? saya ambilkan ya?" tawar Maudy.


"Apa saja, yang ada saja." ucap Tito.


"Ok, nanti ya." ucap Maudy sambil menyiapkan minuman untuk ketiga teman nya di dapur.


"Maaf ya, adanya air putih sama snack nih biasa stok buat saya ngemil." ucap Maudy sambil menaruh di atas meja.


"Gayanya, sok nawarin mau minum apa? eh air putih juga yang di suguhkan." ucap Axel.


"Iya nih gimana sih?" ucap Susanti.


"Maklum, belum belanja lagi."


"Eh, kamu tinggal di sini enak tidak?" tanya Tito.


"Enak sih, tiap hari liat om - om berseragam keren." jawab Maudy.


"Mulai deh." ucap Axel.


"Apa sih Axel, emang fakta kok, ganteng - ganteng."


"Yang di depan kamu, kurang ganteng ya?"


"Kurang!! "


Sedangkan di dalam kamar, Tomi memukuli bantal, dan menginjak nya, hingga membanting bantal.


"Ngeselin banget sih tuh anak, dibiarkan malah ngelunjak. Di sabari malah tambah ngelunjak, saya ini suami nya. Mentang - mentang nikah tanpa cinta, se enak jidat dia berbuat." ucap Tomi dengan melampiaskan pada bantal di kamar nya.


Tak mendengar suara lagi, Tomi langsung mengintip. Terlihat tidak ada lagi, Maudy dan ketiga teman nya.


"Pada kemana tuh bocah, meja berantakan makanan dan gelas."ucap Tomi sambil berkacak pinggang.


*****


"Kamu mau beli apa? nanti saya bayarin?" tanya Axel saat mereka berada di Mall.

__ADS_1


"Nggak usah, di traktir nonton saja sudah cukup." ucap Maudy.


"Kamu jangan berpikir saya tidak mampu bayarin kamu, saya juga punya uang."


"Apaan sih Axel, bukan begitu. Saya sedang tidak ingin beli apa - apa, di ajak keluar saja begini sudah senang."


"Eh, sudah mau malam nih, pulang yuk." ucap Susanti.


"Nanti lah, saya malas pulang." ucap Maudy.


"Kamu kenapa sih? lagi berantem?" ucap Susanti.


"Nggak."ucap Maudy.


" Kalian pulang saja, biar Maudy sama saya." ucap Axel.


"Yakin?" ucap Susanti, dan di anggukkan kepala oleh Maudy.


"Kita duluan kalau begitu." ucap Susanti.


"Duluan ya." ucap Tito.


Maudy lantas duduk di salah satu kursi, di sebuah cafe yang ada di dalam mall. Axel menatap Maudy, yang terlihat seperti memiliki beban masalah yang begitu sangat banyak.


"Om Tomi marah, gara - gara kita pegangan tangan." ucap Maudy.


"Bagus dong, ini kan jalan kamu buat cerai."


"Tapi saya merasakan sangat berdosa sekali, bagaimana juga dia suami saya."


"Nggak, siapa jatuh cinta."


"Lah itu, kamu tadi kepikiran."


"Kita salah Axel, kita memang tidak pantas seperti ini. Saya sudah mengecewakan, Om Tomi. Betul kata dia, saya itu tidak menghargai perasaan nya."


"Saya kembali demi kamu, berharap kamu pergi tinggal kan dia, berharap kamu kembali sama saya dan kita menikah."


"Maaf Axel, seperti nya saya tidak bisa. Kita pulang sekarang yuk, sudah malam." ucap Maudy.


"Kamu pikir, saya bisa melupakan kamu begitu saja? kamu pikir hubungan dari kita masih sama - sama sekolah, dengan mudahnya kamu putuskan begitu saja. Banyak kenangan kita bersama, tidak mudah membuang begitu saja."


"Tapi kita tidak bisa bersatu Axel, saya dan kamu percuma bersatu. Tidak akan dapat restu dari Papah saya, kita selamanya bersama juga tidak akan bisa bahagia." ucap Maudy.


"Kita pulang sekarang." ucap Maudy kembali.


****


Papah Hadi sudah berkacak pinggang, saat melihat anak perempuan nya turun dari motor bersama pria lain. Axel dengan memberanikan diri menyalami Papah Hadi.


"Masuk kamu..!! " ucap Papah Hadi.


Maudy pun masuk, Papah Hadi menatap ke arah Axel, sedangkan Axel hanya menundukkan kepala nya.


"Maafkan saya Om, kalau saya ajak Maudy keluar."ucap Axel.

__ADS_1


" Kamu tahu kan, kalau Maudy itu sudah menikah. Dan ini suami nya, kamu lihat kan?" ucap Papah Hadi dengan nada keras.


"Kamu pergi jauh - jauh dari anak saya, kamu itu bukan terbaik untuk anak saya. Jangan pernah ganggu Maudy, kalau sampai kamu ganggu dia lagi, orang tua kamu berurusan dengan saya."


"Maafkan saya Om, saya itu sangat mencintai Maudy. Tolong Om, jangan pisahkan saya."


Plaaaaakkkk


Papah Hadi menampar Axel, sedangkan Maudy mengintip dari balik pintu. Axel memegang pipi nya yang memerah, akibat tamparan keras Papah Hadi.


"Kamu bilang apa tadi? kamu bilang sangat mencintai anak saya. Hey.. kamu sadar diri,kamu itu hanya seorang anak kecil, yang masih bergantung pada orang tua. Kamu mau kasih makan apa anak saya hah...?"


"Saya bisa bekerja." ucap Axel.


Tomi hanya diam, dan langsung masuk kedalam rumah, saat itu melewati Maudy, Tomi diam tidak saat Maudy memegang lengan nya, dan malah menepis nya.


Maudy mengekor, hingga masuk kedalam kamar. Tomi langsung membanting bantal nya, dan menginjak nya.


"Om."


"Saya yang salah, memaksa kamu menikah dengan saya. Ini kesalahan saya terbesar, memaksa mengikat suatu janji suci. Saya mundur sekarang, kalau memang dia pilihan kamu. Saya akan ceraikan kamu sekarang, dan kamu bisa pergi dengan Axel."


"Nggak Om, jangan talak saya. Percuma saya bersama Axel, Papah tidak akan merestui saya."


"Om akan bilang sama Papah kamu, Om akan bantu kamu hingga kalian menikah."


Maudy memeluk tubuh Tomi, terdengar isakan tangis nya. Pelukan Maudy semakin kencang, seolah tidak ingin berpisah.


"Berikan saya kesempatan Om, berikan saya waktu untuk mencintai Om. Saya salah, hiks.. hiks.. saya salah Om. Maafkan saya Om, hiks.. hiks.. maafkan saya."


Tomi membalas pelukan Maudy, di cium nya pucuk kepala nya. Maudy masih terisak, tepat saat itu Papah Hadi melihat anak dan menantu nya kamar , dengan pintu yang terbuka.


"Sekarang, Om tidak memaksa kamu untuk mencintai saya. Terserah, kamu mau lanjut atau tidak. Karena saya sadar, cinta tidak bisa di paksa. Untuk sementara, saya kembalikan kamu ke Papah."


Maudy melepaskan pelukan nya, Tomi mengusap air mata Maudy. Papah Hadi datang, dan mengusap punggung putri nya.


"Kamu kemasi pakaian kamu." ucap Papah Hadi.


"Nggak Pah, saya tidak mau." tolak Maudy.


"Tolong, kita break dulu sementara. Kita saling introspeksi diri, kalau jodoh kita akan bersatu kembali. Kalau tidak, berarti kita memang harus berpisah."


"Maafkan saya Om."


"Saya maafkan kamu, dan Om minta maaf kalau memaksa kamu, untuk mencintai Om."


"Kamu kemasi pakaian kamu, ikut Papah pulang." ucap Papah Hadi.


Tomi duduk merenung di teras belakang, sambil menatap langit yang begitu tampak cerah.


"Hati saya, tidak secerah langit. Saat ini, hati saya mendung, berselimut sendu.Mungkin jalan takdir saya, tidak akan pernah bisa bersanding dengan seorang wanita. Mungkin, takdir saya, hanya di takdirkan untuk sendiri."


.


.

__ADS_1


__ADS_2