
"Bang, hari ini sudah boleh pulang." ucap Frida setelah selesai memeriksa Tomi, dan melihat perkembangan yang sudah mulai membaik.
"Benar, saya sudah bisa pulang? jangan sampai rumah kambuh lagi." sindir Tomi.
"Ih Abang itu, saya ini dokter profesional sudah ahlinya, kalau nggak percaya panggil dokter lain." ucap Frida sambil melirik ke arah Maudy yang asik, bermain game menggunakan ponsel Tomi.
"Bang, itu istri Abang cuek ya?" bisik Frida.
"Yang penting diam, nggak. banyak tingkah, kalau banyak tingkah kita sudah di buat nya mati berdiri." ucap Tomi sambil menatap ke arah Maudy.
"Bu Tomi, nanti jangan lupa pola makan nya di atur, dan obat dari rumah sakit untuk di habiskan." ucap Frida.
"Oh gitu ya, tapi dok Om Tomi itu tidak usah saya atur, dia sudah besar dan bisa mengatur pola makannya sendiri, jadi jangan khawatir dia akan balik lagi ke rumah sakit." ucap Maudy, sambil tersenyum.
"Oh.. gitu ya." ucap Frida sambil melirik ke arah Tomi.
"Kamu bisa lihat kan?"ucap Tomi.
" Yang sabar Bang." ucap Frida.
****
"Kamu sudah pesan, taksi onlinenya?" tanya Tomi saat sudah berada di parkiran rumah sakit.
"Sudah Om, bentar lagi mungkin." jawab Maudy.
"Lihat di aplikasinya, sudah jalan belum?"
"Sudah Om, tuh lihat." tunjuk Maudy.
"Bang Tomi." sapa seorang wanita cantik menghampiri.
"Prita apa kabar?" ucap Tomi, mereka bersalaman dan tangan mereka masih saling berjabat.
"Baik, Abang gimana?"
"Baik, kamu kapan sampai?"
"Baru kemarin Bang, saya di tugas kan sebagai dokter di daerah konflik bersama Tim yang di berangkatkan tahun lalu, sekarang saya kembali Kesini karena berganti dengan dokter lainnya."ucap Prita sambil melirik ke arah Maudy.
" Ponakan kamu Bang?"
"Istri."
"Hah.. istri!! kapan nikah? Abang kok tidak kasih tahu saya."
"Maaf Prita, kirain kamu tahu. Di group kan tersebar undangannya waktu itu, kirain kamu tahu."
"Yang jelas, saya kecewa sama Abang."
"Om, tuh taksinya." ucap Maudy.
"Maaf ya, saya pulang dulu."
****
"Jadi dia sudah menikah? padahal pulangnya saya, berharap hubungan kami berlanjut serius." ucap Prita.
__ADS_1
"Salah kamu, waktu itu tidak bilang kalau kamu suka. Padahal, Bang Tomi itu malah care banget sama kamu. Apalagi perhatiannya, eh malah nikah sama perempuan yang jauh banget usianya." ucap Frida.
"Kok bisa ya, Bang Tomi malah nikah sama anak seusia anaknya."
"Dia itu anak Bang Hadi, kamu kenalkan?"
"Hah.. anak sahabatnya? ini di jodohkan atau jatuh cinta?"
"Katanya sih, di jodohkan."
"Pantas, auranya seperti tidak menyukai Bang Tomi. Dan masa panggilnya Om, bukan Bang atau Mas gitu."
"Suami sakit saja, seperti cuek."
"Ya ampun Bang, coba sama saya. Kamu sakit saya perhatikan kamu, saya rawat, kok kamu jadi sengsara gitu."
*****
"Om, saya pulang ya." ucap Maudy.
"Kok pulang? suami kamu baru saja pulang dari rumah sakit." ucap Tomi.
"Saya kan harus kuliah Om besok, terus nggak ada pakaian lagi."ucap Maudy.
"Memangnya di lemari, nggak ada lagi?"
"Kan dibawa semua kemarin."
"Suruh siapa pakaian dibawa semua?"
"Kan, Papah yang minta.Terus gimana dong?"
"Marah, mulai berantem." sindir Maudy.
"Punya istri seperti nggak punya istri." ucap Tomi.
Maudy berjalan mendekat, duduk di samping Tomi. Melihat gerak gerik yang mencurigakan, Tomi langsung menjauhkan tubuhnya.
"Apa?"
"Bagi duitnya beli baju." ucap Maudy sambil membuka telapak tangannya.
"Sama siapa belinya?"
"Sendiri lah? katanya nggak boleh pulang. Nanti kalau saya pulang, Papah marah lagi." ucap Maudy.
"Nanti om antar kamu, tapi ke butik saja ya."
"Jangan, kan baru sembuh."
"Apa sih yang nggak buat istri tercinta." ucap Tomi sambil mencubit hidung Maudy.
"Ih.. istri, memangnya kita ini sudah baikan? katanya mau talak saya."
CUP
Mata Maudy terbelalak, saat Tomi mengecup bibir Maudy. Seperti boneka, kedua mata Maudy tidak berhenti berkedip sambil memegang bibirnya.
__ADS_1
"Kenapa, kurang?" tanya Tomi.
"Aaaaa.. kenapa sih, suka banget curi - curi ciuman gitu." jawab Maudy.
"Habis kamu itu gemesin, kadang suka bikin kesel, cueknya kamu itu seperti layaknya minuman yang memabukkan."
"Ih.. nggak nyambung."
"Nanti sore aja ya."
"Nggak ah, kasihan sama om baru saja sembuh, nanti suruh Papah saja yang ambil. Lagian rumah Nenek hanya 1 jam."
"Terus, kuliah gimana?"
"Disana lah, kan sudah pindah.Bukannya om. juga berharap begitu, ini semua kan gara - gara Papah sama Om, jadi saya harus adaptasi lagi."
"Maafkan Om ya, kalau sudah memaksa kamu untuk mencintai Om. Maafkan Om, kalau sudah memaksa kamu untuk menikah, apalagi harus memisahkan kamu dengan Axel. "
"Sudahlah Om, memang jalan takdir Saya begini. Lagian juga, sama Axel tetap saja tidak bisa bersatu."
Tomi memegang tangan Maudy, istrinya itu tidak menepisnya. Tomi menatap istrinya, yang hanya diam sambil menatap tangannya yang di pegang oleh Tomi.
"Om nggak memaksa kamu, bila suatu saat nanti kamu memilih dia.Karena Om yang memaksa kamu untuk menjadi istri Om."
Maudy memajukan wajahnya, dan mengecup pipi kanan Tomi. Tangan Tomi refleks memegang pipinya, setelah Maudy menciumnya.
"Kamu mencium Om?" ucap Tomi.
"Om juga cium saya, kira infas dong."
Tomi dan Maudy tersenyum, Tomi memegang pipi yang di cium Maudy. Dan Maudy memegang bibir yang di kecupnya.
****
"Nih pakaian kamu." ucap Papah Hadi menyerahkan koper milik Maudy.
"Terus kuliah nya gimana?" tanya Maudy.
"Kok tanya Papah, kan kamu yang kuliah. Masa tanya Papah, memangnya yang kuliah Papah kamu."
"Nanti Om. yang antar jemput kamu."
"Benar ya, awas kalau nggak."
"Iya, tenang saja."
Maudy pergi ke kamarnya, sedangkan Papah Hadi dan Tomi duduk santai di ruang keluarga, sambil menonton acara TV.
"Jadi kamu tidak jadi menceraikan anak saya?"
"Saya kan bilang, tidak akan menceraikan Maudy, kecuali Maudy yang memilih siapa yang akan di pilihnya. Buktinya, Maudy sendiri yang mau tinggal lagi di sini. Walau, masih ada rasa takut sama Papahnya." ucap Tomi.
"Syukurlah kalau memang dia yang memilih Kesini, usaha Papah tidak sia - sia."ucap Papah Hadi.
.
.
__ADS_1
.