
"Yuk sudah siap?" ucap Tomi yang akan mengantar Maudy kuliah.
"Om sudah sembuh? kuat Om buat mengantar ke kampus?" tanya Maudy.
"Kuat dong, masa nggak kuat."
"Tapi kan Om, baru sembuh. Baru kemarin, Om itu keluar dari rumah sakit."
"Nggak apa - apa sayang." ucap Tomi.
"Cieeee.. sayang."
"Nggak apa - apa nak."
"Ih.. kok nak sih, berasa Om itu papah saya."
"Hahahaha.. yuk ah, kita jalan keburu telat."
Maudy dan Tomi masuk kedalam mobil, saat akan berangkat Alfa menyetop mobil Tomi. Pintu kaca mobil pun terbuka, Alfa langsung membungkuk kan badanya.
"Ada apa?"
"Sembuh kamu?"
"Demi dia di sembuhin."
"Cieeee... sudah baikan nih?"
"Memang nya kita berantem Om?" ucap Maudy.
"Ya katanya, benar nggak sih?" ucap Alfa.
"Sudah ah, jangan ngobrol terus. Kirain penting, ternyata nggak penting." ucap Tomi langsung menutup kaca mobilnya.
"Om, sama Om Alfa dan Papah itu sahabat an sudah lama ya?"
"Kalau sama Papah sejak sama - sama masuk pendidikan militer, kalau sama Om Alfa bisa dekat saat sama - sama tugas disini."
"Oh gitu ya."
"Om juga saksi Papah sama Mamah jadian, sampai lamaran." ucap Tomi sambil mengemudikan mobilnya.
"Mamah cantik ya Om?"
"Cantik banget, persis seperti kamu. Banyak pria yang menyukai Mamah, tapi hanya Papah yang di pilih sama Mamah."
"Seandainya Mamah masih ada." ucap Maudy, tangan Tomi sebelah kiri memegang tangannya.
"Suatu saat , kamu akan bertemu dengan Mamah."
****
"Nanti Om jemput jam berapa?"
"Jemput di rumah Nenek saja ya."
"Ok, Om jalan lagi ya."
"Hati - hati Om." ucap Maudy.
Mobil yang dikendarai Tomi,meninggalkan kampus Maudy.Kirana datang, menghampiri saudara sepupunya.
"Saya kira kamu pulang."ucap Kirana.
" Terpaksa, harus pulang pergi." ucap Maudy.
"Sendiri atau antar jemput?"
"Antar jemput, dia nya yang mau."
"Terus, gimana tuh kabar mantan?"
"Saya juga bingung, dia itu tidak mau mundur, malah orangnya serba nekat. Saya jadinya serba salah sama dia."
"Serba salah gimana? dia kan memang cinta mati."
"Justru itu, karena cinta mati. Dan kamu harus tahu, saya itu sudah memilih untuk belajar menerima kalau saya sudah menikah."
"Jadi, benar nih ada tanda - tanda cinta?"
"Kalau itu, nggak tahu ya. Saya masih belum bisa, mungkin akan belajar untuk mencintai Om Tomi."
"Om Tomi itu, menurut saya dia orangnya baik loh bahkan, perhatiannya beuh... kalau saya sudah klepek - klepek. Tapi kamu beda, mungkin karena kamu itu nggak cinta."
__ADS_1
"Kita lihat gimana nanti."
****
"Kamu nggak makan dulu?" tanya Ibu Rita pada Maudy.
"Nggak bu, saya nunggu Om Tomi. Nanti makan sama dia saja, kalau makan sekarang dia nanti makan sendirian."
"Kamu benar nih, mulai membuka hati untuk Om Tomi?"
"Ih... Nenek malu."
"Syukurlah kalau memang kamu sudah mau membuka hati, kamu kan belum belajar mencintainya kamu jalani saja dulu, bila kurang cocok sama kamu, baru kamu menyerah."
"Iya nek."
Terdengar suara mobil Tomi datang, Maudy langsung berdiri lalu berjalan ke arah pintu depan. Disambut suami nya, dengan dicium punggung tangannya.
"Assalamu'alaikum nek." sapa Tomi sambil mencium punggung tangan Nenek Rita.
"Walaikumsalam, duduk dulu Tomi, nanti Maudy suruh buatkan minum."
"Langsung saja Nek, nanti besok lagi ya."ucap Maudy.
" Suami kamu baru saja datang, kok malah kamu langsung pulang."
"Maudy banyak tugas, Assalamu'alaikum."? Maudy mencium punggung tangan Neneknya, begitu juga dengan Tomi.
" Maaf ya Nek, nanti besok lagi mainnya." ucap Tomi.
"Hati - hati di jalannya."
"Assalamu'alaikum."
"Walaikumsalam."
*****
"Makan di luar yuk Om."ajak Maudy.
" Boleh, mau makan dimana?"
"Makan, di resto depan itu."
"Iya disitu saja, enak masakannya."
"Ok."
Mobil pun berbelok ke salah satu Resto, Tomi memarkirkan mobilnya. Maudy dan Tomi turun, tanpa di duga Maudy menggandeng tangan Tomi. Sempat menoleh ke arah Maudy, Tomi tersenyum sambil menatap ke depan.
Maudy dan Tomi memilih makanan, masing - masing memilih makanan yang berbeda, Tomi seafood Sedangkan Maudy lebih memilih steak dan kentang goreng.
"Kok nggak makan nasi?"
"lagi ingin steak."
"Boleh Om tanya?"
"Tanya apa?"
"Tadi kamu kok gandeng tangan Om?"
"Nggak boleh ya?"
"Nggak sih, hanya kaget saja. Kamu kenapa beda sih sekarang?"
"Om, sudah seharusnya saya itu menerima Om. Tapi tolong, untuk saya belajar mencintai Om. Mungkin dengan sering berinteraksi, saya bisa mencintai Om."
"Makasih ya."
"Sama.- sama om."
"Tapi jangan panggil Om dong."
"Terus, panggilnya apa?"
"Terserah mau Mas atau Abang."
"Abang saja ya."ucap Maudy sambil bergelayut manja pada Tomi.
" Gini kan enak tuh di dengarnya, jadi seperti pasangan pada umumnya."
"Tapi bagi orang, kita terlihat seperti anak dan Ayah bukan sih Bang?"
__ADS_1
"Biarkan saja, mereka mau berkata apa."
Maudy memegang jemari Tomi, memainkan setiap jemarinya. Makanan pun datang, Maudy menjauhkan tangannya dari jemari Tomi.
"Mau makan nasi nggak? sama udang atau kerang?" tawar Tomi.
"Nggak, lagi nggak mau makan nasi." ucap Maudy.
Maudy mengusap sisa saos, yang ada di sudut bibir Tomi. Dengan tissue Maudy membersihkannya, Tomi tersenyum saat perhatian Maudy pada dirinya.
"Makasih ya."
"Sama - sama Om, makannya kayak anak kecil."
"Maaf, saking nikmatnya."
*****
Tok.. tok...
"Siapa sih, malam - malam ketuk pintu." ucap Maudy berjalan ke arah pintu.
Ceklek
Saat di buka,Maudy menatap ke arah seorang wanita bersama Alfa. Wanita tersebut, seolah mencari seseorang di dalam rumah Dinas Tomi, dengan padangan menyisir dalam rumah.
"Maudy, suami kamu ada?" tanya Alfa.
"Ada Om, tapi dia sudah tidur." jawab Maudy.
"Sudah tidur ya, bisa di bangunkan?" ucap wanita tersebut.
"Maaf, Tante siapa?"
"Kenalkan, saya dokter Prita. Bukannya kita, bertemu waktu di parkiran rumah sakit?"
"Oh iya saya lupa, masuk dok. Maaf ada perlu apa ya? soalnya habis minum obat tidur, katanya lemas."
"Kalau sedang tidur, nggak usah di bangunkan. Kita lain waktu saja, tidak enak ganggu orang tidur." ucap Alfa.
"Jangan begitu Bang, saya kan jauh - jauh datang kesini." ucap Prita.
"Tapi orangnya tidur, kamu sih kesini nya malam. Coba dari tadi sore, masih bisa ketemu."
"Kalau memang ada perlu penting, saya bangunkan." ucap Maudy.
"Jangan." tolak Alfa.
"Nggak apa - apa, bangunin saja." ucap Prita.
"Tunggu sebentar ya, nanti saya bangunin." ucap Maudy.
***
"Siapa?" ucap Tomi dengan suara khas bangun tidur, tapi kedua matanya enggan terbuka.
"Dokter Prita sama Om Alfa."
"Ngapain sih malam - malam, bilang saja tidak bangun - bangun."
"Barangkali penting, temui dulu.'
Tomi, bangun dari tidurnya, bahkan nyawanya yang belum kumpul, membuat Tomi duduk di tepi tempat tidur.
" Om, jangan lama - lama duduknya. Kasihan tamunya, nanti digigit nyamuk."
"Iya , ini mau ke kamar mandi dulu."
****
"Gimana kondisinya Bang?" tanya Prita.
"Sudah baikan, besok juga sudah kembali dinas."
"Syukurlah, kalau Abang sudah sehat. Saya dengarnya senang, maaf ya sudah ganggu tidur Abang. Soalnya, saya kangen sama Abang."
Alfa dan Maudy terbelalak kaget, saat apa yang keluar dari mulut Prita. Sedangkan Tomi, lebih memilih diam.
"Tante, coba katakan lagi. Tadi Tante, bilang apa barusan?" ucap Maudy.
.
.
__ADS_1
.