
"Pak Tomi, itu istrinya ya?" tanya seorang ibu, sambil menggendong anak.
"Iya bu, kenalkan." jawab Tomi, menyuruh Maudy untuk berkenalan dengan Ibu Sandi.
"Maudy."
"Heni, panggil saja Ibu Sandi. Istri dari Serda Sandi."ucapya.
" Sedang hamil berapa bulan?" tanya Ibu Sandi.
"Baru 3 bulan bu."jawab Maudy.
" Semoga lancar ya, sekarang berarti Pak. Tomi ada temannya, ada yang masakin. Biasanya si Lia, yang sering antar makanan."
"Hah.. siapa Lia?" tanya Maudy langsung menatap tajam ke arah Tomi, yang sedang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Itu pelayan warung nasi depan, maklum lah Pak Tomi jauh dari istri, jadi makan juga pesan."
"Oh gitu ya, makasih Bu infonya. Sekarang sih, tidak akan pesan lagi, karena ada saya yang masak."
"Bagus itu Bu, tapi ingat Lia itu janda loh, sudah cantik, tinggi. Malah Tentara disini, banyak yang naksir dia."
"Hmmm Bu maaf ya, saya mau bawa istri saya masuk." ucap Tomi, karena takut Ibu Sandi bicara yang tidak - tidak, sehingga mempengaruhi Maudy.
"Abang, jelaskan Lia itu." ucap Maudy sambil berkacak pinggang.
"Kan tadi sudah tahu, Lia itu pelayan warung nasi depan Batalyon. Masakan disitu enak, kadang Abang sama lainnya, kalau ingin makan di luar dari sana."
"Gitu ya, jauh dari istri jajan di luar. Ini nih, yang buat saya tidak percaya. Dan tadi bilang, Lia itu janda."
"Yank, Abang hanya minta antar makanan, habis itu sudah. Hanya interaksi begitu, lewat ponsel, Abang hubungi dia. Terus dia datang, langsung pulang lagi."
"Tuh kan benar kan, malah punya nomer ponselnya. Abang jahat, Abang nyimpen nomer perempuan lain." ucap Maudy sambil memukul dada Tomi.
"Astagfirullah Yank, istighfar Abang juga. Mana ada pikiran mau selingkuh, istri sedang hamil, Abang disini niat kerja bukan niat main perempuan."
"Tapi kan Abang dekat sama Lia."
"Haduh, susah kalau bicara sama anak kecil."
"Hah, tadi Abang bilang apa?"
__ADS_1
"Sudah gini saja, kamu belajar masak. Kalau suami kamu tidak ingin, makan diluar. Kamu sekarang pergi ke dapur, masak goreng tempe."
"Tapi apa jamin, kalau Abang tidak makan lagi di luar, setelah saya pulang. Abang tidak minta itu si Lia kesini, Abang masak sendiri."
"Iya, Abang janji tidak akan minta Lia antar makanan kesini, nanti suruh anak buah Abang saja."
"Saya tidak percaya."
"Terserah."
*****
Maudy dengan Ibu Sandi sedang berada di warung makan, yang kemarin dibicarakan. Terlihat Lia yang sedang membawakan pesanan, untuk para pengunjung warung.
"Maaf Bu Sandi, mau pesan apa?" tanya Lia.
"Saya istri dari Kapten Tom, alias Tomi." jawab Maudy.
"Oh iya bu, gimana?"
"Saya mau makan disini."
"Makan sama apa?"
"Benar bu, mau di borong semua?"
"Kamu pikir saya bohong apa, cepat bungkusin."
"Baik Bu, saya siapkan semuanya."
"Kenapa di borong?" tanya Ibu Sandi.
"Saya hanya kesal saja, sok kecantikan." jawab Maudy.
"Terus, masakannya buat siapa?"
"Bantu saya bu, bagikan saja."
*****
"Lia, totalnya banyak sekali sampai 3 juta. Istri saya beli apa saja?" tanya Tomi, sambil melihat sebuah nota.
__ADS_1
"Semua masakan di warung Pak." jawab Lia.
"Iya, tapi dia tidak bilang kalau punya acara."
"Maaf Pak, untuk segera di bayar saja."
"Iya tenang saja, nanti saya bayar." ucap Tomi sambil mengeluarkan isi dompetnya, dengan uang sejumlah yang harus di bayar.
"Makasih ya."
"Sama - sama Pak, permisi."
*****
"Terus, masakannya mana?" tanya Tomi.
"Sudah di bagi - bagikan sama Ibu Sandi." jawab Maudy santai.
"Yank, kalau ada apa - apa itu, bicarakan dulu sama Abang, untung Abang ada uang. Kalau tidak ada gimana? mau bayar pakai apa? yang ada malu."
"Kalau tidak mau seperti ini, gampang. Tinggal Abang, tidak dekati itu pelayan, dan tidak makan lagi disana. Kalau ketahuan begitu, saya borong lagi jualannya. Kalau bisa, saya beli warungnya."
"Astaga, jadi kamu itu masih cemburu. Ya Allah Yank, tidak begini juga kali. Jangan bikin bangkrut Abang, hanya gara - gara Lia."
"Makannya, yang nurut."
"Kamu juga, makannya belajar masak. Jangan bisanya marahin suami terus."
"Abang marah sama saya?"
"Kamu tanya?"
"Nggak Bang, nggak jadi tanya."
"Dasar aneh." ucap Tomi.
"Abang tuh yang aneh."
"Iya aneh, lebih baik mengalah. Karena perempuan maha benar."
.
__ADS_1
.
.