
"Sayang, Abang punya sesuatu buat kamu."ucap Tomi sambil memeluk tubuh Maudy dari belakang.
Mereka kini duduk di atas karpet bulu, dengan posisi Maudy bersandar di dada Tomi, dan Tomo menaruh dagunya di pundak istrinya.
" Apa Bang?"
"Buka deh." ucap Tomi sambil memberikan sebuah kotak berukuran sedang berbentuk sedang.
"Pasti kotak perhiasan."
"Buka saja, siapa tahu suka."
Intan membuka kotak perhiasan tersebut, mata Intan berbinar, saat melihat sebuah satu set perhiasan.
Tomi tersenyum, lalu memakaikan sebuah anting, kalung, cincin dan gelang. Intan melihat salah satu bagian tubuhnya, memakai perhiasan.
"Cantik nggak sih Bang?"
"Cantik lah, suami yang buat istrinya cantik."
"Makasih ya, pasti habis puluhan juta."
"Mau berapa saja, Abang akan keluarkan buat kamu." ucap Tomi, sembari mengecup pipi Maudy.
"Bang, sepertinya saya itu sudah jatuh cinta sama Abang deh."
"Oh iya? apa karena di kasih satu set perhiasan?"
"Hihihi.. tahu saja, nggak lah Abang sayang. Sepertinya, memang jodoh pilihan Papah ini, jodoh pilihan sempurna." ucap Maudy sambil memegang wajah Tomi.
"Jadi?"
"Jadi apa?"
"Malam ini mau nggak? kalau kamu jadi milik Abang seutuhnya."
Maudy diam, sambil memainkan jemari Tomi. Tangan kanan Tomi, yang sudah masuk dari arah depan, bergerak atas, dan menemukan benda bulat, yang menjadi mainan favoritnya.
"Kalau begini gimana?" bisik Tomi sambil memainkan ujungnya nya.
"Abang jangan buat saya, mengeluarkan suara yang tidak - tidak."
"Tidak - tidak gimana? keluarkan saja, biar lepas."
"Abang." ucap Maudy sambil mencengkram paha kiri Tomi.
"Enak?"
"Bang, ampun.. hhhhhh."
"Nggak ada ampun." bisik Tomi sambil mencubit keras
"Abang... sudah..!! " ucap Maudy, karena Tomi semakin menjadi.
Tomi membaringkan tubuh Intan, kini keduanya saling berciuman, tangan Maudy menekan kepala Tomi, hingga ciuman Tomi semakin dalam.
Maudy memejamkan kedua matanya, saat merasakan gigitan kecil seperti semut, disekitar area leher.
Banyak tanda merah yang di buat Tomi, hingga turun ke dada. Tomi, menarik dress ke atas dan tampak sebuah bukit yang indah sempurna.
Tomi pun melepaskan kaos nya, dan hingga kini mereka sama - sama tanpa penghalang. Maudy bangun, dan menidurkan Tomi dengan posisi terlentang.
Maudy dengan menggigit bibir bawahnya, naik di atas tubuh Tomi. Dengan leluasa Tomi, menara lekukan tubuh Maudy, yang menari. di atasnya.
__ADS_1
"Kamu mau yang memimpin?" tanya Tomi.
Maudy menggelengkan kepalanya, Tomi menidurkan tubuh Maudy hingga terlentang. Kita pisang kayu yang sudah mengeras, siap untuk masuk ke sarang laba - laba.
Maudy memejamkan kedua matanya, saat merasakan benda asing menyentuhnya. Tomi dengan wajah serius, memasukkan pisang kayu kedalam sarang laba - laba.
Maudy menjerit, dan langsung di bungkam oleh bibir Tomi. Saat merasakan hampir masuk sempurna, Tomi diam memberikan karena Maudy merasakan perih dan sakit.
Saat Maudy tidak merasakan lagi, dengan pasti Pisang kayu masuk sempurna, dan Maudy bisa mengimbangi permainan Tomi.
"Abang.. mau keluar..!! "
"Keluarin saja, Abang belum keluar."
Tomi merasakan ada sebuah semprotan air, dan akhirnya Tomi pun merasakan di ujung puncak, dan mengeluarkannya di dalam.
Tomi ambruk di atas tubuh Intan, keringat mereka bersatu, terdengar nafas mereka yang naik turun.
"Makasih Sayang." ucap Tomi mengecup bibir Maudy.
"Abang." ucap Maudy dengan menyembunyikan di leher Tomi.
****
Keduanya tidur di depan TV dengan saling berpelukan, suara hujan di pagi hari yang begitu deras, dan udara yang dingin membuat mereka enggan bangun.
Satu selimut tanpa pembatas, Tomi yang kelelahan akibat pertempuran semalam. Membuat dirinya tidur nyenyak, hingga suara hujan pun tidak terganggu.
Maudy yang merasakan sangat dingin, mengeratkan pelukannya, hingga merasakan hangat.
Maudy kini melihat sangat dekat, wajah suaminya. Dirinya kini, adalah istri yang sempurna, yang sudah memenuhi sebagai kewajiban.
"Kapten Tom, suami hebat yang membuat saya terbang hingga langit ke 7." ucap Maudy pelan.
****
Tomi melihat Maudy hanya memakai kaos miliknya, sedang berkutik di dapur. Tomi segera memakai celana panjangnya, dan bertelanjang dada.
"Sedang apa?" bisik Tomi sambil memeluk dari belakang.
"Buat susu." ucap Maudy.
"Mau dong? tapi yang asli."
"Ini susu murni Bang, kemarin yang di antar sama Abang penjual susu."
"Bukan susu sapi tapi yang ini." ucap Tomi sambil menunjuk ke arah dada.
"Ih.. lagi ngapain ah, nggak mau masih perih." ucap Maudy.
"Sudah mandi besar?"
"belum, baru mau."
"Yaudah mandi."
"Iya, ini mau mandi."
*****
"Abang...!!!" panggil Maudy.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Ini di karpet ada darah?"
"Itu darah kamu."
"Saya nggak haid Bang."
"Akibat pisang kayu, berhasil menerobos masuk sarang laba - laba. "
"Oh iya ya, ini gimana? laundry saja?"
"Jangan, biar nanti Abang yang akan cuci karpet nya. Sini biar Abang yang lipat, nanti di belakang Abang sikat. Kamu siapkan kursi panjang, buat taruh karpetnya."
"Iya Bang."
****
"Maaf Susanti, saya tidak bisa. Lain waktu saja." ucap Maudy saat menerima telepon.
"Nggak ada Axel."
"Tetap saja, ujung - ujungnya dia datang. Apalagi cowok kamu itu, tidak bisa di andalkan."
"Saya sudah kasih surat peringatan satu, kalau lagi - lagi, langsung surat peringatan tiga."
"Maaf ya tidak bisa, lagian hari ini saya sedang beres - beres rumah, maaf ya."
"Ya sudah nggak apa - apa, maaf mengganggu."
"Tidak apa - apa."
"Siapa?" tanya Tomi.
"Susanti telepon, ngajak ketemuan." jawab Intan.
"Yasudah sana siap - siap."
"Nggak Bang, enak di rumah saja. Lagian, hanya nongkrong biasa nggak ada hal penting."
"Barang kali mau pergi, Abang ijinkan kok."
"Saya tidak mau ketemu Axel." ucap Maudy dengan hati - hati , menyebutkan nama Axel.
"Kenapa?"
"Jujur Bang, dia masih mengejar - kejar saya."
"Oh gitu ya, yaudah terserah kamu. Abang sih percaya saja sama kamu."
"Makasih Bang, saya janji tidak akan mengecewakan Abang, dan cinta saya sekarang hanya untuk Abang."
"I love you." ucap Tomi.
"I Love you too." ucap Intan.
Tomi mengecup kening Intan, dan memeluk tubuh istrinya.
.
.
.
.
__ADS_1