Kapten Tom

Kapten Tom
Keputusan


__ADS_3

"Yank, kamu siap?" tanya Tomi saat akan pergi ke pengadilan.


"Kok tiba - tiba lemes ya Bang." jawab Maudy.


"Lemas kenapa?"


"Pikirannya ke mana - mana Bang."


"Yasudah, lebih baik kamu jangan ikut, biar nanti Abang saja ya yang kesana."


"Nggak, saya ikut Bang. Saya akan bicara di depan hakim, berdasarkan bukti yang ada. yang saya takutkan. Kalau kita di nyatakan salah, kita akan terpisah dengan jeruji penjara. Kita tidak lagi sama - sama, dan saya sedang hamil."


"Jangan berpikiran seperti itu, kita tidak akan di penjara. Kamu kan tahu, Polisi sudah jelas kan, mereka nya saja yang memperpanjang keadaan."


"Apa cukup sekali saja sidangnya?"


"Ya semoga ya, kalau mereka tidak banyak menuntut. Percaya sama Abang, keadilan akan berpihak pada kita."


"Iya Bang, kita berangkat yuk."


"Ok."


*****


"Betul, tanpa pengacara lagi?" tanya Papah Hadi.


"Tidak usah, kita hadapi bersama benar kan sayang?" ucap Tomi.


"Iya Bang, Papah tenang ya." ucap Maudy.


"Papah khawatir dengan kehamilan kamu, takut kenapa - napa."


"Tenang Pah, anak saya kita. Seperti Ayah Bundanya, benar kan Abang sayang?"


"Iya benar." ucap Tomi.


"Yaudah, kita masuk."


****


Semua berdiri, saat Hakim masuk kedalam ruang sidang. Terlihat kedua orang tua Axel, yang sudah hadir bersama seorang pengacara.


Dari jauh tatap keduanya begitu sangat sinis, seolah merasa paling benar. Tomi dan Maudy, hanya tersenyum tipis dan terlihat wajah tenang dari keduanya.


"Kita pasti menang." bisik Tomi.


"Untuk Saudara Johan dan Saudari Yuli, silahkan maju ke depan." ucap Pak Hakim.


Keduanya duduk di depan Hakim, dan siap untuk di menjawab beberapa pertanyaan, dari kasus yang menimpa anak mereka.


"Saudara Johan dan Saudari Yuli, adalah orang tua dari Almarhum Axel. Yang dinyatakan bersalah dalam kasus ini, tapi kalian merasa ini tidak adil, kenapa?" tanya Pak Hakim.


"Kami merasa, ini tidak adil yang mulia buat anak kami. Apalagi di nyatakan sebagai tersangka, bukti nyata anak kami meninggal dunia ini karena di dorong oleh saudara Tomi." ucap Pak Johan.


"Tapi disini, Almarhum itu meninggal dunia karena tidak sengaja ditabrak sebuah truk besar. Dan Saudara Tomi juga, tidak sengaja. Dari rekaman CCTV sudah jelas. Saat itu awal kejadian, Almarhum mengikuti mobil yang di kendarai oleh Saudara Tomi. Berarti Almarhum sudah merencanakan sesuatu, dan memang sudah ada niat ingin mencelakai keduanya. Tapi sayang, malah nyawanya sendiri yang melayang."


"Maaf yang mulia, kami sebagai orang tua, ingin sebuah keadilan, agar anak kami tenang disana. Dan kalau perempuan yang bernama Maudy, tidak menikah dengan pria pembunuh anak kami, anak kami pasti masih hidup. Dari sini, kami ingin keadilan mereka harus di hukum." ucap Ibu Yuli.


"Saudari Yuli, apa anda pikir, Hakim akan langsung memvonis? tidak karena sebelum bukti terkumpul banyak, saya tidak akan langsung menjatuhkan hukuman pada keduanya. Dan disini, sudah jelas kalau anak kalianlah pelaku sebenarnya."


"Tapi ini tidak adil yang mulia."


"Untuk kalian berdua cukup, silahkan duduk."

__ADS_1


"Maaf yang mulia, disini saya merasakan klien saya ini, seperti di pandang rendah, dan benar - benar tertindas oleh keadilan. Saya merasakan, disini ada permainan hukum. Maaf yang Mulia."


"Anda jangan bicara sembarangan di depan Hakim, bisa saja malah kalian berdua yang akan menggantikan posisi Almarhum." ucap Hakim.


"Maaf yang mulia." ucapnya.


"Saudara Tomi, saya minta maju."


Tomi pun duduk di depan Hakim, yang sebelumnya di sumpah terlebih dahulu. Tomi terlihat santai, dibandingkan oleh Pak Johan dan Ibu Yuli.


"Saudara kenal Almarhum sudah berapa lama?" tanya Hakim.


"Saya kenal, karena dia itu mantan pacar istri saya." jawab Tomi.


"Apa sebelumnya memiliki dendam?"


"Tidak yang Mulia."


"Karena masalah percintaan."


"Benar yang Mulia."


"Apa sebelum kejadian, saudara dengan Almarhum pernah bertemu?"


"Pernah yang Mulia."


"Dimana?"


"Almarhum datang, ke tempat Dinas saya."


"Bisa ceritakan, pertemuan bersama Almarhum?"


"Siap bisa yang Mulia, saat itu Almarhum datang menemui saya dan berkata Kalau pria sejati, tidak merebut seorang wanita dari pria lain. Kalau pria sejati, tidak merusak sebuah hubungan hingga putus, dan meninggalkan luka pada orang yang disakitinya. Kalau memang pria sejati, akan mengalah dan mengembalikan yang bukan miliknya. " ucap Tomi yang mengingat secara detail perkataan Axel.


"Ada lagi?"


"Baik, saat kejadian apa yang dikatakan Almarhum sebelum penyerangan?"


"Saya turun, menghampiri Almarhum yang Mulia, saya hanya katakan masalah apa lagi yang mau di jelaskan, karena sudah jelas kalau istri saya lebih memilih suaminya."


"Baik, cukup."


"Terima kasih yang mulia." ucap Tomi.


"Saudari Maudy. "


Maudy pun maju dan di sumpah terlebih dahulu, sebelum menjawab pertanyaan dari Hakim dan menceritakan dengan kejujuran.


"Saudari Maudy, hari ini anda sehat?"


"Alhamdulillah sehat yang Mulia."


"Anda sedang hamil?"


"Siap benar yang Mulia."


"Ceritakan hubungan anda dengan Almarhum."


"Siap yang Mulia, hubungan saya dengan Almarhum adalah mantan pasangan kekasih. Kami kenal sudah lama, dan hubungan kami berakhir setelah saya menikah dengan Bang Tomi."


"Berarti Anda selingkuh?"


"Siap tidak yang Mulia, tapi awalnya iya setelah menikah. Karena saya di jodohkan, tapi seiring waktu, saya memutuskan untuk meninggalkan dia, tapi dia tidak mau."

__ADS_1


"Apa sebelum kejadian, Almarhum mendatangi anda?"


"Benar yang Mulia."


"Apa yang dia katakan?"


"Almarhum berkata Kamu jahat Maudy, saya banyak berkorban untuk kamu. Tapi kamu malah memilih untuk bersama dia, saya sekarang sudah banyak uang, sampai saya pertaruhkan kuliah saya, hingga saya memutuskan untuk bekerja. Tapi kamu malah memilih dia, padahal saya berharap kamu meninggalkan dia, itu yang dia katakan pada saya Yang Mulia." ucap Maudy menirukan perkataan Axel.


"Ada lagi?"


"Maaf yang Mulia, hanya ini."


"Disini, anda memukul kepala Almarhum saat keduanya sedang berkelahi?"


"Benar yang Mulia, tapi saya melakukan itu untuk sebuah pembelaan."


"Anda sadar?"


"Siap sadar yang Mulia, karena melihat Almarhum tidak ingin melepaskan suami saya. Dan saya menyaksikan bagaimana dia menusuk suami saya, padahal kepalanya terluka."


"Baik, kamu boleh kembali."


"Terima kasih yang Mulia."


"Video yang saya lihat, adalah ini sebuah bukti, kalau rekaman video ini adalah jawaban dari kasus kematian Axel." ucap Pak Hakim.


"Maaf yang Mulia, saya ingin menyela." ucap Pengacara orang tua Axel.


"Saya sedang bicara, anda tidak sopan menyela hakim."


"Maaf yang Mulia."


"Kedua korban tidak bisa di jadikan tersangka, karena mereka melakukan hal tersebut untuk membela diri. Dan kematian Axel, adalah murni ketidaksengajaan saudara Tomi, berdasarkan bukti dari camera CCTV. Dan Saudara Maudy pun juga sama, pemukulan tersebut untuk membela diri karena Almarhum terus memukul saudara Tomi. Saya putuskan, perkara ini di tutup. Tok.. Tok.." ucap Pak Hakim sambil mengetuk palu.


"Tidak Pak Hakim, itu tidak adil. Pasti kalian bayar Hakim, untuk menyalahkan anak saya, hiks.. hiks.. kalian jahat." teriak Ibu Yuli.


Tomi dan Intan merasakan lega, Papah Hadi pun sama. Kemenangan berpihak pada anak dan menantunya.


"Alhamdulillah Maudy, Om Tomi ternyata kasusnya sudah jelas." ucap Susanti.


"Makasih ya, sudah bantu doa." ucap Tomi.


"Sama - sama om." ucap Susanti.


Pak Johan, Ibu Yuli dan pengacaranya mendatangi mereka. dengan tatapan sinis mereka mendekat, tapi Tomi, Maudy dan Papah Hadi biasa saja.


"Ingat ya, sekarang kalian menang, tapi pengadilan Allah lebih adil." ucap Pak Johan langsung pergi.


"Sudah tahu kalah, nggak ada urat malunya. Yang ada situ, dapat hukuman masuk neraka." ucap Maudy kesal.


"Kamu tidak boleh bicara begitu, kita doakan semoga mereka sadar." ucap Tomi.


"Saya kesel om, sama model orang begitu jadinya."


"Namanya juga orang tua membela anaknya, sudah yuk kita pulang. Kalau disini hawanya jadi panas terus." ucap Tomi.


*****


"Kamu itu sudah bayar mahal, tapi tetap saja kalah tidak bisa memenangkan kasus ini." ucap Pak Johan pada pengacaranya.


"Maaf Pak Bu, masalahnya bukti yang mereka punya itu sangat kuat, sedangkan kita tidak memiliki bukti yang kuat. Jadi jangan salahkan saya, mau ganti pengacara atau pengacara lain juga kalau begini sama saja akan kalah." ucap pengacara


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2