Kapten Tom

Kapten Tom
Perhatian


__ADS_3

"Pengantin baru, belum satu bulan malah sudah tepar masuk rumah sakit. Untung langsung cepat tanggap, punya sahabat yang baik nya Naudzubillah." ucap dokter Frida.


"Yaiya dong, kasihan calon duda, bininya di bawa pulang sama orang tuanya." ucap Alfa.


"Hus, kalau ngomong kamu nggak disaring."


"Lah, kagak percaya, tanya saja sama orang nya. Makan nya tuh tepar, baru nikah udah nelangsa."


"Benar Bang? apa yang dikatakan Bang Alfa?" tanya Frida.


"Iya, benar. " ucap Tomi.


"Ya ampun, kok. jadi begitu sih Bang? kenapa bisa begitu?"


"Namanya juga takdir."


"Takdir juga, bisa di rubah Bang sama kita. Memang nya , tidak bisa di selesai kan secara baik - baik?"


"Kamu seperti nggak tahu saja, istri nya gimana suami nya juga gimana." ucap Alfa.


"Kamu itu ya Bang, jawab saja. Sok tahu kamu Bang, kesel saya sama Abang jadi nya."


"Ya kan saya tetangga nya, pasti tahu lah."ucap Alfa.


"Sok tahu." ucap dokter Frida.


"Eh.. ini tuh kenapa sih, malah pada berantem?" ucap Tomi yang terlihat lemah.


"Bang Alfa tuh." ucap dokter Frida.


"Kamu." ucap Alfa.


"Sudah ih, kalian tuh ya seperti anak kecil."


****


"Kamu sakit apa?" tanya Papah Hadi.


"Kecapean mungkin, awal nya flu, muntah terus pusing." jawab Tomi.


"Papah tahu dari siapa? saya sakit."


"Alfa, kasih kabar lewat chat. Langsung Papah kesini, tengok kamu. Tapi sekarang, sudah mending kan?"


"Sudah, Alhamdulillah." ucap Tomi.


"Kabar Maudy bagaimana?"


"Dia sama Nenek nya, Papah pindahkan dia dari kampus. Sekarang kuliah, di kota Nenek nya. Dari pada masih satu kampus, dengan Susanti dan Tito terus ketemu dengan Axel, lebih baik kuliah sama Kirana."


"Jangan terlalu keras, Maudy semakin di kerasi semakin menjadi."


"Dia belum merasakan, bagaimana pahitnya kehidupan. Dan tahu nya, senang - senang. Dengan seperti ini, mungkin dia bisa belajar."


"Kalau Maudy minta cerai, saya akan ceraikan dia. Lagian buat apa di pertahankan, kalau Maudy saja tidak mau belajar mencintai saya."


"Kalau kamu begitu, berarti kamu menyerah. Dan tidak mau, memperjuangkan hubungan dengan anak saya."


"Dari awal saya yang salah, saya yang mencintai nya, dan Papah dukung menikah kan Maudy dengan saya. Padahal dia sudah memiliki kekasih, Axel besar cinta nya begitu juga Maudy. Dan saya, hanya orang ketiga yang merusak kebahagiaan mereka."


"Kamu itu bicara apa sih? kamu akan tetap jadi suami nya Maudy."


****


"Axel, kamu kok tahu saya disini?" ucap Maudy, saat Axel datang ke rumah Nenek nya.


"Susanti cerita, saya langsung on the way kesini." ucap Axel.


"Masuk, tapi kamu nggak takut sama Papah nanti di tampar lagi?"

__ADS_1


"Ngapain takut sih, saya kan datang niat nya baik - baik. Orang sedang berjuang, masa mundur begitu saja."


"Tapi Papah ancam saya, kalau kamu masih mendekati saya, saya akan di kirim ke luar negeri. Ke adik nya Mamah, yang tinggal di Canada."


"Saya akan susul kamu ke Canada."


"Kamu nekat ya, saya takut malah. Terjadi sesuatu sama kamu, bukan nya mereda malah tambah melebar."


"Eh Axel." sapa Ibu Rita, Axel pun bersalaman dengan Ibu Rita dengan mencium punggung tangan nya.


"Gimana kabarnya?" tanya Ibu Rita.


"Alhamdulillah nek sehat." jawab Axel.


"Kamu jadi kuliah nya gimana?"


"Sementara saya cuti saja dulu, saya nggak tenang Nek. Karena saya, selalu ingat sama Maudy."


"Tapi Maudy sudah menikah, tidak baik berharap lebih."


"Tapi saya mencintai Maudy, dan begitu dengan Maudy Nek. Bukti nya, Maudy tidak bahagia dengan suami nya. Dan saya yakin, Maudy itu adalah jodoh saya."


"Axel, kamu jangan terlalu berharap lebih sama saya. Tolong, jangan berharap banyak." ucap Maudy.


"Saya akan tunggu kamu, tunggu janda nya."


*****


"Jadi Tomi di rawat!! " ucap Ibu Rita saat menerima telepon dari Papah Hadi.


"Benar, ini saya sedang menunggu dia di rumah sakit bu." ucap Papah Hadi dari seberang.


"Terus, Maudy harus gimana? suruh pulang?"


"Sampaikan saja, bagaimana reaksi nya."


"Kalau sama Ibu, bisa pelan suara nya. Kalau sama saya, ngajak ribut terus."


"Itu karena kamu, makan nya sama anak itu yang kalem, jangan ngajak ribut terus."


"Ibu saja, kasih tahu dia. Kalau dia di kasih saya nanti bukan nya iba, malah cuek bebek."


"Yaudah, nanti ibu kasih tahu."


"Iya, saya ingin lihat reaksi nya."


*****


"Maudy."


"Ada apa Nek?"


"Ada kabar nggak enak."


"Kabar apa Nek? apa yang terjadi?"


"Suami kamu masuk rumah sakit."


"Hah.. kapan Nek? terus dia gimana?"


"Dia masih belum pulih betul, kamu mau pulang melihat suami kamu?"


"Iya Nek, saya mau pulang."


"Kalau begitu, nanti Nenek antar kamu."


"Iya Nek, makasih ya."


****

__ADS_1


"Loh, kok ibu datang kesini? Maudy mana?" tanya Papah Hadi.


"Tuh, anak kamu di belakang. Dia habis beli, makanan untuk suami nya." jawab Ibu Rita.


"Hallo Pah." sapa Maudy mencium punggung tangan nya.


"Tuh lihat suami kamu." ucap Papah Hadi.


"Hadi, kamu itu. Yaudah nak, Nenek sama Papah kamu keluar dulu. Nanti kita kesini lagi, kamu masuk temui suami kamu."


"Iya Nek."


Ibu Rita langsung menarik tangan Hadi, dan membiarkan kedua nya untuk dekat kembali. Maudy, masuk berjalan perlahan. Terlihat Tomi, sedang tidur.


Maudy meletakkan bawaan nya di atas nakas, samping tempat tidur. Maudy menatap suami nya, terlihat pucat wajah nya.


Tomi memiringkan tubuh nya, dan saat membuka kedua matanya, Tomi terkejut saat melihat Maudy ada di kamar rawat nya.


"Maudy." ucap nya dengan suara khas orang bangun tidur.


"Om, gimana kondisi nya?"


"Ba - baik, kamu sama siapa?"


"Sama Nenek, sekarang Nenek nya pergi sama Papah."


"Oh, dari tadi?"


"Nggak, baru kok."


Tomi bangun, dan bersandar di kepala ranjang. Mereka saling diam, dan menundukkan kepalanya. Maudy mengalihkan semua nya, agar tidak canggung. Maudy, membuka bungkus isi roti laku memberikan pada Tomi.


"Makan Om, Roti nya enak loh."


"Ah iya, terima kasih." ucap Tomi menerima Roti dari Maudy, dan memakan nya.


"Enak Om Roti nya?"


"Iya enak, makasih ya."


"Sama - sama Om."


Uhuk.. uhuk..


Tomi tersedak, Maudy dengan sigap langsung memberikan air minum untuk Tomi. Maudy meletakkan gelas nya kembali, saat Tomi sudah membaik.


"Roti nya, kenyang." ucap Tomi memberikan sisa Roti pada Maudy.


"Mau buah?" tawar Maudy.


"Nggak mau, perut nya masih tidak enak."


"Panggil dokter ya, nanti saya panggil kan dokter."


"Nggak usah, ini mungkin kaget saja tadi saat makan."


"Yakin nggak apa - apa?


" Iya, yakin." ucap Tomi memalingkan wajah nya kesamping.


"Om kenapa?"


"Bisa diam nggak?" ucap Tomi.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2