
"Kamu ngapain sih,datang ke kampus saya?" tanya Maudy pada Axel.
"Saya hanya kangen sama kamu, dan ingin ketemu kamu." jawab Axel.
"Please, kamu tidak usah datang jauh - jauh, kalau masih menganggap saya itu pacar kamu. " ucap Maudy.
"kamu itu kenapa sih?" saya itu sayang sama kamu. Saya seperti ini itu karena kamu, kita pacaran itu lama sekali, kamu malah sama dia." ucap Axel.
"Axel, setelah saya menikah dengan Bang Tomi. Saya sudah memutuskan, bahkan sebelum resmi saya memutuskan untuk mencoba hidup dengan dia. Saya memang, awal tidak ingin menerimanya, bahkan kita sempat cerai, tapi apa saya merasa kehilangan. Jujur, saya sudah mulai jatuh cinta sama dia."
"Kamu jahat Maudy, saya banyak berkorban untuk kamu. Tapi kamu malam memilih untuk bersama dia, saya sekarang sudah banyak uang, sampai saya pertaruhkan kuliah saya, hingga saya memutuskan untuk bekerja. Tapi kamu malah memilih dia, padahal saya berharap kamu meninggalkan dia."
"Maafkan saya Axel, saya salah. Tapi walau saya memilih kamu, percuma kita tidak bisa bersatu."
"Saya kecewa sama kamu."
"Saya tahu itu, maafkan saya.Maafkan saya Axel, kamu akan mendapatkan yang lebih dari saya suatu saat nanti."
"Hanya kamu, saya tidak akan jatuh cinta lagi. Karena hanya kamu, hanya kamu wanita yang saya cintai."
"Jangan Axel, kamu jangan seperti itu. Biarkan saya hidup bahagia, dengan suami saya. Tolong, jangan terus mencintai saya."
Axel pergi meninggalkan kampus Maudy, dengan menaiki motor terlihat mengemudikan dengan kencang. Kirana menghampiri Maudy, sambil mengusap punggungnya.
"Kamu mendengar semuanya?" tanya Maudy.
"Iya, saya mendengar semuanya. Kamu tidak salah, karena kamu sudah memilih. Dari pada kamu, mengkhianati sebuah pernikahan." jawab Kirana.
"Jujur, memang sesak hati saya, setelah memutuskan ini. Axel memang cinta pertama saya, tapi dia bukan cinta terakhir saya. Axel memang kecewa, kita yang sedang sayang - sayangnya harus berpisah, karena saya harus menikah dengan Bang Tomi."
*****
Tomi berjalan keluar dari ruangannya, terlihat Axel berdiri di bawah pohon beringin. Tomi mendekatinya, sambil berkacak pinggang.
"Masuk, dari pada berdiri di situ." ucap Tomi.
Axel menurut dan masuk mengikuti langkah Tomi, hingga sampai di dalam ruangannya. Axel tetap berdiri saat Tomi duduk, dengan tatapan tajam ke arah Tomi.
"Ada perlu apa?" tanya Tomi santai.
"Saya kesini ingin bicara antara sesama pria." jawab Axe.
"Oh, bicara masalah apa?"
"Kalau pria sejati, tidak merebut seorang wanita dari pria lain. Kalau pria sejati, tidak merusak sebuah hubungan hingga putus, dan meninggalkan luka pada orang yang disakitinya. Kalau memang pria sejati, akan mengalah dan mengembalikan yang bukan miliknya. "
"Kamu pikir, saya bukan pria sejati! asal kamu tahu, kalau pria sejati tidak mengajak kawin lari, kalau pria sejati tidak berkorban yang merugikan masa depan, kalau pria sejati tidak mengejar yang sudah jelas tidak jadi miliknya. Jadi disini, siapa yang pria sejati?"ucap Tomi sambil tersenyum.
" Kamu tahu Tomi, saya tidak akan menyerah begitu saja, saya akan dapatkan Maudy." ucap Axel dan pergi dari ruangan Tomi.
Tomi hanya tersenyum sinis sembari menatap Axel, dengan menutup pintu secara di banting.
****
"Hati - hati jalan." ucap Ibu Rita.
"Assalamu'alaikum Nek." ucap Tomi dan Maudy.
"Walaikumsalam." ucap Ibu Rita.
"Bang, jalan ke mall yuk." ajak Maudy.
"Boleh, mau beli apa?" ucap Tomi bertanya.
"Cari baju dong."
__ADS_1
"Baju dinas malam, beli yang banyak ya."
"Ih... Abang, nggak mau. Itu baju seperti jaring laba - laba."
"Ya nggak apa - apa, secara kamu kan yang punya sarang laba - laba."
"Ih... apaan sih? nggak usah pakai majas deh, saya juga sudah tahu."
"Hahahaha... nanti sampai rumah, kita bikin lagi. Biar nanti cepat ada Tomi junior di dalam perut, terus rumah jadi ramai. Kalau Abang pulang, pasti nanti akan bilang gini. Papah... pulang...!!" ucap Tomi, dengan kata terakhir Papah pulang menirukan suara anak kecil.
Tomi mengemudikan dengan kecepatan sedang, saat Tomi melirik ke arah kaca spion, Tomi mencurigai sebuah sepeda motor mengikuti mobilnya.
"Yank, kamu kenal siapa yang mengemudikan motor di belakang?" tanya Tomi, Maudy menoleh ke arah belakang.
"Itu Axel Bang."
"Hah.. Axel? ngapain dia?"
"Mungkin satu arah sama kita."
Tomi terus memperhatikan Axel, yang terus mengikuti mobilnya. Tomi sengaja mempercepat laju nya, dan Axel pun sama, Tomi mengurangi kecepatannya, Axel pun sama. Tomi mencoba menyalip sebuah kendaraan besar, Axel pun sama.
Hingga Tomi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, Axel pun sama. Hingga aksi kejar - kejaran pun terjadi.
"Bang, kok kencang banget sih? pelan kan saya takut." ucap Maudy.
"Mantan kamu sepertinya ingin bermain bersama saya." ucap Tomi.
"Kalau memang ada masalah, hentikan mobil. Dari pada nanti kita yang celaka, Bang...!! hentikan mobilnya, saya tidak mau mati konyol."
Tomi mengurangi kecepatan mobilnya, dan menepi di sisi jalanan sepi. Tomi langsung keluar berjalan ke arah Axel, dengan paksa Tomi menurunkan Axel dari atas motor hingga jatuh.
"Kenapa kamu mengikuti mobil kami?" bentak Tomi sambil menarik krah jaket Axel.
"Axel, ada apa?" tanya Maudy.
"Kamu kan sudah dengar bahkan kamu juga, kalau saya tidak akan mundur. Saya akan dapatkan Maudy, apapun akan saya lakukan, untuk dapatkan apa yang akan menjadi milik saya."
"Kamu itu, apa sudah gila? saya juga tidak akan membiarkan pria seperti kamu, merebut Maudy. Karena Maudy adalah istri saya, dan kamu itu adalah orang lain. Yang tidak penting, di kehidupan istri saya."ucap Tomi.
" Axel please, kamu jangan perpanjang masalah ini. Tolong, kamu lepaskan saya, lupakan saya. Tolong, tolong kamu pergi jauh. Biarkan saya bahagia dengan pilihan hati saya." ucap Maudy memohon.
"Saya tidak akan melepaskan kamu, dia bukan pilihan hati kamu, tapi pilihan hati Papah kamu."
"Papah memilih jodoh untuk putrinya, berarti jodoh terbaik. Saya sadar, dia yang terbaik, sedangkan kamu hanya ego yang dibesarkan. Tolong kamu harus terima kenyataan, tolong saya mohon." ucap Maudy sambil menangkup kan kedua telapak tangannya.
"Axel, kamu lihat sendiri kan? kamu paksa, berarti hukum negara akan bertindak." ucap Tomi.
"Kamu akan saya jebloskan ke penjara, agar kamu itu sadar." ucap Tomi.
"Hahahaha... saya tidak takut, kamu hanya sebuah ancaman, kamu itu tidak akan tega. Kamu jebloskan Maudy akan memohon membebaskan saya, hahahahah...!!" ucap Axel.
"Tidak!! saya mendukung apa yang di ucapkan suami saya. Kamu itu, bukan Axel yang saya kenal. Kamu itu seperti bukan manusia, saya bukannya kasihan, tapi saya takut."
"Kamu takut Maudy." udak Axel berusaha menyentuh pipi Maudy, tapi di tepis oleh tangan Tomi.
"Jangan coba - coca menyentuh pipi istri saya."
"Oh iya, tapi saya pernah mencicipinya."
Plaaaakkkk
"Pergi kamu Axel, pergi...!! " bentak Maudy, menampar pipi Axel.
"Kamu tampar saya!!! " ucap Axel marah.
__ADS_1
Buuuuuggghh
Buuuuggghhh
Tomi memukul Axel dengan membabi buta, Axel pun tidak mau kalah, membalas pukulan Tomi. Maudy berteriak, saat melihat kedua pria saling adu jotos.
"Tolong...!!! " teriak Maudy.
"Tolong...!! " teriak kembali Maudy.
Tak ada yang menolong, hanya mobil melaju kencang, keduanya berguling hingga pakaian mereka kotor.
"Hentikan Bang... Axel..!! " teriak Maudy.
Buuuggghhh
Buuuughhhhh
Keduanya saling adu kekuatan, hingga terlihat memar di kedua wajah mereka. Maudy berusaha misahkan, tapi tidak bisa. Maudy melihat ada sebuah balok kayu, lalu mengambilnya dan memukul kepala Axel.
Aaaaarrrrrrggggghhhhh
Axel memegang kepalanya, saat merasakan benda keras menghantam kepalanya hingga berdarah.
Maudy shock saat melihat kepala Axel mengeluarkan darah, Tomi langsung menghampiri Maudy.
"Abang tidak apa - apa?"
"Abang tidak apa - apa." ucap Tomi, terlihat robek di bagian sudut bibirnya.
"Kita pergi Bang." ucap Maudy.
"Tapi Axel, apa dia akan di tinggalkan sendiri disini?"
"Biarkan saja Bang, biarkan orang jahat seperti dia sekarat disini." ucap Maudy segera menarik tangan Tomi.
Axel berusaha bangun, dengan menahan rasa sakit di kepalanya, Axel langsung berlari ke arah Tomi, dengan mengeluarkan senjata tajam dari saku jaketnya.
Aaaaaaarrrrrgggghhhh
Aaaaarrrrgghhhhhh
Axel melukai pinggang Tomi, hingga berkali-kali, Maudy menjerit saat melihat Axel melukai Tomi, hingga darah keluar banyak dari samping perutnya.
"Abang...!! " teriak Maudy.
"Tolong...!! " teriak Maudy, dan saat itu sepi kendaraan yang melintas dengan posisi mereka jauh dari pemukiman.
"Saya tidak bisa dapatkan kamu, kamu akan saya habisi, hahahahah..!!
Braaaaaakkkkk
Aaaaaaaaaaa
Tomi menendang Axel dengan keras, hingga terdorong ke tengah jalan, sebuah truk dengan kecepatan tinggi melintas , menabrak tubuh Axel, hingga terpental sangat jauh.
Tomi dan Maudy shock, saat melihat dalam sekejap tubuh Axel, terpental jauh, hingga darah mengalir keluar begitu deras.
.
.
.
.
__ADS_1