Kapten Tom

Kapten Tom
Kangenin


__ADS_3

"Ya Allah Om Tomi, indah sekali pantainya." ucap Kirana langsung berlari ke arah tepi pantai.


Pantai pasir putih, dengan laut yang biru, di tambah angin sepoi - sepoi. Maudy berjalan bergandengan tangan dengan Tomi. Dan Kirana yang merasa sakit mata, melihat keduanya langsung menggandeng tangan Papah Hadi.


"Om, kita buat istana pasir yuk." ajak Kirana.


"Kamu saja sendiri, Om mau berjemur." ucap Papah Hadi.


"Om, nggak lihat apa anak dan menantu Om?" tunjuk Kirana melihat Maudy dan Tomi, sedang menatap lautan dengan sing berpelukan.


"Kamu mau pelukan seperti itu sama Om?"


"Ih.. ogah, masa om mau nikahi ponakan sendiri."


Plaaakk


Awwww


"Sakit." ucap Kirana setelah Papah Hadi memukul lengan Kirana.


"Kalau bicara nggak sopan, sudah sana buat istana pasir, tapi jangan jauh - jauh dari om. Kita duduk disana tuh, ada kursi kamu mainan, Om mau berjemur."


"Iya."


Maudy di peluk oleh Tomi dari belakang, sambil menikmati indahnya ombak pantai. Tomi sesekali mengecup pucuk kepala Maudy.


"Besok kamu sudah harus pulang, Abang berat harus pisah sama kamu sayang."


"Nanti kan, kalau anak kita lahir. Abang pulang, kita ketemu lagi."


"Iya, tapi kan masih lama. 6 bulan lagi, menahan rindu memeluk tubuh ini."


"Saya juga sama Bang."


"Setelah anak kita besar, kamu lulus kuliah. Langsung pindah kesini, Abang di tempatkan dimana saja, kamu harus ikut."


"Abang mau kita habisin waktu berdua tidak?"


"Mau."


"Disini kan ada villa kecil, kita sewa beberapa jam?"


"Ngapain?"


"Mau tidak?"


"Iya, Abang mau. Tapi mereka gimana?"


"Nanti juga telepon." ucap Maudy langsung menarik tangan Tomi.


"Om, lihat mereka mau kemana?" ucap Kirana, saat melihat Maudy dan Tomi berjalan ke arah sebuah villa.


"Biarkan saja, lagian mereka mau habiskan waktu berdua. Besok sudah pulang, makannya kamu puas - puaskan nanti kapan lagi, kita kesini."


"Tapi belum beli oleh - oleh."


"Gampang, besok sambil jalan pulang."

__ADS_1


*****


Tomi dan Maudy saling berciuman, tangan Tomi sudah bergerak kesana kemari, bahkan melepaskan apa yang di pakai Maudy, begitu juga Tomi yang kini sudah tanpa penutup.


Miliknya yang sudah mulai berdiri tegak, di mainkan oleh Maudy. Sehingga Tomi merasakan sensasi, yang begitu sangat berbeda.


Tomi memegang kelapa Maudy, saat lidah Maudy terus menari - nari, dan memasukan seperti menikmati sebuah lolipop.


Terasa sudah sampai di ubun - ubun, Tomi berganti dirinya yang mengambil alih. Tomi semakin semangat, saat melihat paras cantik istrinya yang natural.


"Kalau sampai Abang lupa, kamu tidak akan bisa berjalan." bisik. Tomi.


"Kita sama - Sama saling memuaskan." ucap Maudy, sambil menggigit bibir bawahnya, sehingga terlihat begitu menggoda.


Aaaaaaahhhhh


Maudy memejamkan kedua matanya, dengan kedua tangan memainkan miliknya di bagian dada.


"Aaaaaahhhhhh sayang."


"Kenapa sayang?"


"Terlalu nikmat."


"Pasti, dan nanti malam, kita akan lanjut seperti ini."


"Pelan sayang."


"Iya sayang, ini pelan."


****


Papah Hadi, mencoba menelpon anak dan menantunya tidak kunjung di angkat. Hingga mereka yang menahan lapar, langsung makan tanpa menunggu keduanya.


"Maudy lagi ngapain sih sama Om Tomi?"


"Sudah kamu makan, dari pada nungguin mereka, lebih baik makan. Ikannya besar - besar seger lagi."


"Terus, kalau Maudy sama Om Tomi datang, semua habis gimana?"


"Suruh pesan lagi lah, enak saja Papah yang bayar."


"Tapi saya dibayari kan ini semua?"


"Om akan tagih ke Mamah kamu."


"Om mah gitu."


*****


"Kenapa Yank?" tanya Tomi.


"Lemas banget Bang." jawab Maudy.


"Kamu sih, aktif banget. Tadi mainnya terlalu semangat, jadi begini kan. Lupa kalau sendiri sedang hamil, terus gimana?"


"Pulang, Papah sama Maudy sudah nungguin.'

__ADS_1


" Benar nggak apa - apa? kalau memang ada masalah besok di undur pulangnya."


"Bawa istirahat mungkin enak Bang."


"Yaudah, nanti kamu duduk di depan ya, nanti Papah sama Kirana di belakang."


"Iya, nanti atur saja."


****


"Kalian kemana saja sih? kita seperti anak tiri." ucap Kirana kesal saat sedang berjalan ke arah mobil.


"Maaf, tadi kita jalan - jalan." ucap Maudy.


"Nggak sopan banget, apa nggak ingat ya ada orang tua." ucap Kirana semakin kesal.


"Papah maaf ya." ucap Maudy.


"Iya sudah, Papah paham kok. Besok kan kalian harus berpisah, papah mengerti kalian memanfaatkan waktu yang tersisa sedikit." ucap Papah Hadi.


"Makasih Pah."


Tomi tersenyum sambil membuka pintu mobil, dan Kirana masih tampak begitu kesal. Maudy langsung mendekati saudara sepupunya.


"Makannya, ajak tuh cowok impian kamu untuk nikah, rasanya kalau sudah menikah itu enak, ah.. ah... " bisik Maudy.


"Apaan sih, garing banget."


****


Tomi membantu memasukkan koper milik Maudy kedalam mobil, dan beberapa oleh - oleh khas kota tersebut. Maudy terisak, dan langsung memeluk tubuh suaminya.


"Abang, hiks.. hiks.. "


"Jangan nangis dong, kita masih bisa komunikasi."


"Saya sudah terbiasa kalau tidur, perut sama Abang di usap dan di cium, hiks.. hiks.. sekarang malah tidak."


"Sabar sayang, ini ujian buat kita. Suatu saat, kita akan berkumpul. Sabar ya, kalau ada yang dirasakan langsung bilang sama Papah."


"Iya, Abang harus janji jangan nakal."


"Iya sayang."


"Awas kalau sampai minta janda itu lagi antar masakan, saya beli itu warung lalu di bongkar."


"Jangan sayang, nanti tekor Abangnya." ucap Tomi sembari mengacak rambut istrinya.


"Duh lama banget sih." ucap Kirana kesal.


"Papah pamit ya, jaga kesehatan." ucap Papah Hadi.


"Papah juga hati - hati, kalau capek istirahat."


"Iya, Assalamu'alaikum. "


"Walaikumsalam."ucap Tomi.

__ADS_1


" Abang. " Maudy kembali memeluk tubuh Tomi, sambil terisak kembali.


"Aduh, ini film tidak selesai - selesai, bikin sakit mata." ucap Kirana langsung masuk kedalam mobil.


__ADS_2