
"Maaf Maudy, universitas kita tidak mengadakan kuliah jarak jauh. Yang ada, satu Yayasan dengan universitas kita, disana. Tapi itu jauh dari jarak, tempat suami kamu dinas. Sekitar 3 jam an, kalau tidak salah. Kan ada dosen disana, itu asal dari situ." ucap Ibu Meli, bagian Tata Usaha.
"Gitu ya bu, kalau begitu saya permisi dulu." ucap Maudy sedikit kecewa.
"Iya Maudy, kalau minat disana, bisa kami bantu prosesnya."
"Saya bicarakan dulu sama suami Bu."
"Nanti kabari saja ya, kalau jadi."
"Siap Bu." ucap Maudy lalu keluar dari ruangan Tata Usaha.
Maudy dengan wajahnya yang kusut, menghampiri Kirana. Dengan membanting tasnya, disamping Kirana secara keras.
"Kagak sayang tuh tas di banting?" sindir Kirana.
"Ini sih bakalan LDR." ucap Maudy.
"Yaudah lah, kamu harus Terima nasib, kata suami kamu kan, tunggu sampai kamu lulus, nanti bakalan di bawa kesana."
"Masalahnya, kagak enak tahu."
"Kan jaman sudah canggih sayang, ada telepon, video call." ucap Kirana.
"Tapi kan rasanya itu beda say. "
*****
"Jadi tidak bisa?" tanya Tomi sambil membelai rambut Maudy.
"Iya Bang, adanya universitas yang kata Abang itu."jawab Maudy.
"Ya main gimana lagi? ikut kesana tetap berjauhan, lebih baik ya disini saja."
"Tapi Bang, saya nggak mau di tinggal sama Abang."
__ADS_1
"Ya mau gimana lagi, kamu kuliah. Mas korbankan kuliah, nggak boleh."
"Tapi lulus kuliah tetap di rumah."
"Ya tapi sayang, sabar dikit ya. Kamu lulus, kita nanti akan satu rumah lagi."
"Tapi awas loh, kalau disana macam - macam."
"Ya nggak lah sayang, mau macam - macam gimana sih? nggak akan macam - macam."
"Awas saja, kalau macam - macam."
****
Tomi memasukkan pakaiannya kedalam koper, satu koper besar dan tas ransel semuanya sudah siap. Sedangkan Maudy, masih terisak menangis.
Papah Hadi hanya diam menatap putrinya yang terisak menangis, ada rasa tidak tega, Tomi meninggalkan Maudy yang sedang hamil."
"Sayang, jangan nangis dong, nanti kan kamu tinggal sama Nenek, ada Kirana juga. Nanti ada teman pengganti Abang, dan Abang setiap hari pasti kabari kamu."
"Betul ya, janji jangan bohong."
" Hadeuh.. dulu nangis - nangis tidak mau sama Tomi, sekarang nangis - nangis tidak mau ditinggal sama Tomi. Benar - benar serba terbalik, orang bucin nih begini, kemakan omongan sendiri." ucap Papah Hadi.
"Ih... Papah." ucap Maudy cemberut.
****
Papah Hadi dan Maudy, mengantar Tomi ke Bandara, Tomi memeluk tubuh Maudy, bahkan Maudy tidak ingin melepaskan pelukan suaminya.
"Sudah, nanti tertinggal pesawat. Cepat sana, penumpang sudah di panggil untuk naik." ucap Papah Hadi.
"Abang berangkat dulu ya, nanti kalau sampai nanti Abang kasih tahu."
"Ingat, jangan nakal."
__ADS_1
"Iya sayang, Abang tidak nakal. Tapi dikit ya boleh."
Aaaaawwww
"Sakit Yank." ucap Tomi saat pinggangnya di cubit.
"Awas saja."
"Iya tidak kok, bercanda tadi."
"Sudah Tomi, cepat sana. Ketinggalan pesawat baru tahu rasa kamu." ucap Papah Hadi.
"Bye sayang, i love you."
"I love you too."
Maudy langsung memeluk Papahnya, rasa sedih saat melihat suaminya tak terlihat lagi dari pandangan matanya. Tangis Maudy pecah, hingga Papah Hadi merasakan malu, saat semua orang melihatnya.
"Sudah jangan nangis, yuk ah kita pulang."
****
"Pah, kok Abang tidak angkat telepon sih? kok tidak aktif?" ucap Maudy.
"Astagfirullah Maudy, apa kamu tidak sadar ya? suami kamu pesawatnya baru saja lepas landas. Kita saja, baru keluar dari tol bandara." ucap Papah Hadi.
"Saya takutnya, dia sedang bercanda sama pramugari Pah."
"Bercanda wajar kali, suami kan laki - laki."
"Ih... Papah kok dukung ya!! "
"Kamu nya lagi, baru saja tidak aktif sudah curiga. Tadi kamu ikut saja kesana, masa bodoh sama kuliah. Kalau modelnya curiga terus."
.
__ADS_1
.
.