
"Mendingan kamu nggak usah masak lagi deh, nih Abang ganti kerugiannya. Sudah perut melilit, rugi bandar lagi." ucap Tomi.
Sedangkan Intan menghitung uang, yang di dapatkan dari suaminya. Tomi pun segera makan obat sakit perut, yang membuta rasa di perut nya seperti terbakar.
"Nanti besok masak apa Bang?"
"Jangan masak, biar Abang yang masak saja."
"Kalau saya tidak bisa masak, saya tidak sempurna Bang."
"Siapa yang bilang kamu tidak sempurna? kamu tetap sempurna kok di mata Abang."
"Kan biar suami betah di rumah."
"Ya Allah sayang, yang buat suami betah di rumah itu bukan dilihat dari masak. Tapi kan keharmonisan dalam rumah tangga, adem, bisa ibadah bareng. Bisa masak tapi rumah tangga tidak harmonis, sama saja kan? tidak enak buat hidup di dalamnya."
"Jadi hukumnya sunah ya Bang, tidak pintar masak juga?" ucap Intan dengan mata berbinar.
"Bukannya sunah, tapi minimal bisa masak air dan masak mie rebuslah."
"Berarti wajib dong Bang."
****
"Wuih kepala kambing, walau di kasih setengahnya." ucap Alfa.
"Awas makannya, sedia air yang banyak."
"Kenapa?"
"Pedas." ucap Tomi.
Alfa mencolek bumbu yang menempel di daging kepala kambing, langsung kepedasan. Dan mengembalikan satu panci kecil, berisi setengah kepala kambing.
"Kalau kamu tidak suka saya, kalau mau habisin nyawa orang yang keren dikit lah, jangan kasih racun cabai. Rasanya sudah aneh lagi." ucap Alfa.
"Ini tuh istri saya sedang belajar masak.Sekali masak, bumbu satu pasar dia beli semua."
"Istri model begitu, jangan kamu suruh masak. Ini sih sudah tekor, malah bikin penyakit."
"Nih bawa masuk." ucap Tomi.
"Nggak mau ah, kasih yang lain saja. Nanti saya malah bolak balik kamar mandi lagi."
"Jadi kagak mau?" iya kagak mau. Bawa lagi saja, maaf ya." ucap Alfa.
"Ya sudahlah."
****
"Kok di bawa lagi?" tanya Maudy saat melihat, daging kepala kambing untuk di berikan pada Alfa tapi di kembalikan lagi.
"Nggak mau, pedas rasanya." jawab Tomi.
"Wah, Om Alfa tidak menghargai saya." ucap Maudy.
"Bukan tidak menghargai sayang, memang ini tidak bisa di makan. Kamu buatnya terlalu pedas, jadi ya terpaksa di buang."
"Sayang dong Bang."
"Kalau begitu, kamu saja yang makan."
"Sayang uang Bang."
"Ya mau gimana lagi, dari pada penyakit."
__ADS_1
"Ya sudah deh." ucap Maudy dengan terpaksa.
"Nanti kalau belajar masak lagi, perbumbuan nanti di perhatikan lagi."
"Iya Bang."
*****
Hahahahahaha
"Maudy itu tidak bisa masak, pantas sekali masak menghebohkan dunia perdapuran." ucap Papah Hadi.
"Itu kepala kambing Ya Allah asal mengolah saja, masak 2 juta habis terbuang. Malah minta ganti rugi nya, sama saya Pah."
Papah Hadi tidak berhenti tertawa, sambil membayangkan putrinya memasak di dapur. Tomi hanya diam, sambil menatap mertuanya yang terus tertawa.
****
"Aarrgghhh capek banget, leher sakit apa salah tidur ya?" ucap Tomi.
Maudy langsung duduk di samping Tomi, dan tangannya langsung memijat di mana titik capek suaminya.
"Kok di pijat?" ucap Tomi.
"Kan Abang capek, saya pijat dong Bang."ucap Maudy.
" Kamu bisa memijat? nanti bisa salah pijat, Abang besok tidak bisa bangun dan berjalan."
"Bisa lah Bang, tenang saja. Kalau pijat memijat Maudy bisa, kan waktu kecil sering di suruh pijatin Papah."
"Yaudah, coba pijat." ucap Tomi.
Maudy mulai memijat, sangat terasa pijatan yang enak, hingga membuat Tomi mengantuk. Maudy memijat sangat pelan tapi pasti.
"Enak Yank, kamu juga ada pinter nya. Tidak pinter masak, tapi pinter pijat."
"Oh gitu ya."
*****
"Aduh, Kirana tolong dong. Tugas Ibu Mala, saya belum bisa kumpulin." ucap Maudy.
"Kamu kemana saja kemarin? kagak hadir kirain di rumah sambil mengerjakan tugas." ucap Kirana.
"Saya kan mager pas hamil, tolong dong. Saya malas dengar ocehan dia."
"Nih, kamu Contek punya saya."
"Makasih ya."
"Sama - sama."
"Hi Kirana." sapa seorang pria lalu duduk di depan Maudy.
"Hi juga." balas Kirana.
"Maudy, lagi ngapain?" tanya Riki, pria yang duduk di depannya.
"Lagi, ngerjain tugas Ibu Mala." jawab Maudy.
"Oh, belum ya?"
"Kamu kan tahu, kenapa tanya."
"Nanti pulang kuliah, ada acara nggak? kita nonton yuk." ajak Riki.
__ADS_1
"Eh.. kagak bisa, kamu tidak boleh ajak Maudy." ucap Kirana.
"Kenapa sih ? Kirana saja belum jawab."
"Maaf ya Riki, saya tidak bisa. Karena harus pulang ke rumah Nenek terus suami jemput."ucap Maudy.
"Suami, mana suami kamu? jangan bohong kamu."
"Yang, antar setiap pagi itu suami saya."
"Hahahahahah... jangan bohong kamu, itu sih Papahnya kamu."
"Dia suami saya loh, kalau tidak percaya lihat saja di wallpaper photo saya." ucap Maudy menunjukkan photo bersama Tomi, memakai pakaian pengantin pada Riki.
"Tapi tua Maudy."
"Biar saja tua, yang penting hatinya."
"Oh gitu ya, yaudah saya cabut dulu." ucap Riki yang merasa sangat kecewa.
"Dasar playboy cap kadal." ucap Kirana.
"Dia itu bukan di kelas kita kan?"
"Iya, dia mantan nya Ibu Mala."
"Hah.. serius?"
"Iya, Ibu Mala itu kelihatannya saja tua. Tapi dia itu masih muda, dia itu masih kuliah, tapi tidak disini. Karena otaknya luar biasa saja, jadi dia di jadikan asisten dosen di kampusnya, sambil cari sampingan kerja dosen di sini."
"Oh gitu ya, saya kira dia bukan mantan nya Ibu Mala."
****
"Makan yang banyak, kalau mau di bawa pulang." ucap Ibu Rina saat Maudy sedang makan.
"Bawa ya Nek, sayur asem nya enak."
"Iya, nanti nenek siapkan. Suami kamu sebentar lagi datang, nanti kamu siapkan buat suami kamu makan."
"Iya Nek."
"Kirana mana?" tanya Ibu Rina.
"Nggak tahu, tadinya di dalam kamar."
"Itu anak, kalau di suruh langsung kabur."
"Nenek mau suruh apa?"
"Suruh ambilkan jahitan baju, Nenek besok mau kondangan. Sudah jadi dari tiga hari yang lalu, tapi suruh Kirana nggak di ambil - ambil."
"Jauh nggak?"
"Di dekat masjid mau arah jalan bay pass itu. "
"Suruh Bang Tomi saja."
"Nggak Maudy, biar suruh Kirana saja. Itu anak emang dasar kalau disuruh susahnya minta ampun."
"Mungkin kurang besar kali, ongkos jalannya."
"Alah, setiap hari juga di kasih sama Nenek. Belum sama Ibu nya."
.
__ADS_1
.
.