
"Kamu cutinya di majukan?" tanya Ibu Riana, bagian Tata Usaha Kampus.
"Iya Bu, sepertinya saya sudah nggak sanggup buat kerjakan tugas. Sudah nggak bisa mikir Bu, saya mau cuti 2 semester saja."
"Apa tidak mau menunggu sampai satu bulan lagi, tanggung loh mau ujian."
"Nggak Bu, nanti saya biar mengulang di semester 4 nya.'
" Ok kalau begitu, saya tidak bisa menghalangi. Kalau mau pindah, disana biar tidak jauh bolak balik kesini bisa saya bantu, untuk prosesnya. Karena masih satu yayasan, tapi itu kalau kamu mau."
"Saya pikirkan lagi itu Bu, sepertinya disini saja. Karena ada anak, kalau disini ada yang jaga. Kalau disana tidak ada, kecuali tempatnya dekat."ucap Maudy.
" Ok, kalau begitu saya buatkan suratnya dulu. Kamu tunggu saja, nanti kalau sudah saya panggil lagi."
"Baik Bu, kalau begitu saya permisi."
****
"Jadi cuti?" tanya Kirana.
"Jadilah, saya mau lahiran di tempat Bang Tomi." jawab Maudy.
"Eh serius? terus yang mengurus bayi siapa?"
"Ya saya lah, masa orang lain."
"Kamu yakin, orang seperti kamu bisa mandiri?"
"Ih ini orang, meragukan saya ya.'
" Jelas lah, tampang meragukan." ucap Kirana jujur.
****
"Aduh, nenek nggak setuju. Kamu lahiran disini, biar nenek bantu urus anak kamu. Disana, kamu nanti merepotkan suami." ucap Ibu Rita.
"Betul kata nenek kamu, Papah juga tidak setuju."
"Saya cuti 2 semester, nanti mengulang di semester 4.Saya disana satu tahun, nanti balik lagi kesini. Saya itu ingin pas melahirkan ada suami, di temani Bang Tomi. Ini anak, sudah ingin ketemu sama Ayahnya." ucap Maudy.
"Anak kamu atau kamu nya? emang anak kamu bisa ngomong?" ucap Papah Hadi.
"Papah nggak akan paham, bahasa bayi dalam perut yang berinteraksi sama Bundanya."
"Apa kata kamu saja."
"Nenek tidak setuju."ucap Ibu Rita.
"Ya sudah, nenek ikut kesana."
"Nggak, nenek nggak mau."
"Ya sudah, pokoknya Maudy mau menyusul Bang Tomi."
****
"Tomi, istri kamu mau melahirkan disana. Jujur Papah itu, ragu loh dia bisa mengurus anak, disaat kamu tugas dia di rumah sendirian." ucap Papah Hadi melalui sambungan teleponnya.
__ADS_1
"Ya sudah Pah, mau gimana lagi. Kalau Maudy sudah ambil keputusan, kita turutin saja. Saya juga, tidak mau berdebat sama Maudy, nanti ujung - ujungnya bertengkar. Insya Allah jauh dari kalian, Maudy bisa lebih dewasa." ucap Tomi dari seberang.
"Semoga saja, ya sudah kalau kamu bilang begitu. Papah sama Nenek, tidak bisa berkata apa - apa lagi."
"Kapan katanya Pah, mau kesini?"
"Kalau sama Papah, tunggu cari waktu untuk cuti."
"Naik pesawat sudah boleh, pesawat saja biar cepat. Nanti saya ambil cuti, untuk jemput Maudy."
"Kamu atur lah, kamu bicarakan sama dia."
****
"Abang sayang, saya itu cuti 2 semester. Nanti minggu depan, saya kesana." ucap Maudy saat berbicara dengan Tomi melalui video call
"Abang nanti kesana, Abang tidak tega kamu berangkat kesini sendirian. Apakah suruh Papah, kamu siap kan saja yang mau dibawa kesana."
"Ok sayang."
****
Tomi datang menjemput Maudy, saat melihat koper yang dibawa Maudy ada sekitar 5 koper. Tomi hanya bisa menggaruk kepalanya, yang tidak gatal.
"Yank, ini kamu bawa apa saja?"
"Dua koper buat anak kita, perlengkapan seperti baju, sepatu, banyak deh. Dan tiga koper itu pakaian saya. Kan disana lama Bang, hitung - hitung mencicil pindah."
"Tahu kamu bawa banyak, Abang dari sana bawa mobil. Masalahnya, kita naik pesawat loh, ini seperti orang pindahan. Sudah kopernya besar - besar."
"Yasudah, disana Abang tidak ada mobil. Bawa mobil Abang saja, yang ada disini." ucap Maudy.
"Yaeyalah, Abang itu beruntung."
"Berarti kita naik kapal laut, padahal kalau pesawat hanya 30 menit dari sini. Dan ini ke pelabuhan lumayan jauh, kamu yakin?"
"Insya Allah kuat Bang, nggak apa - apa kok."
****
"Kalian hati - hati." ucap Papah Hadi, pada putri dan menantunya.
"Papah nanti kesana ya sama nenek juga." ucap Maudy.
"Iya, nanti kami kesana." ucap Ibu Rita.
"Kalau capek, kamu istirahat Tomi." ucap Ibu Rita kembali.
"Iya Nek, kalau begitu kami pamit. Assalamu'alaikum." ucap Tomi sambil bersalaman, begitu juga Maudy.
"Walaikumsalam." ucap Papah Hadi, Ibu Rita dan Kirana.
"Nanti kalau kesana, saya ikut kok." ucap Kirana.
"Asal kamu tidak mabuk." ucap Maudy.
****
__ADS_1
"Capek tidak yank?" tanya Tomi sambil mengemudikan mobilnya.
"Nggak Bang, kan kursi mobilnya di buat saya bisa rebahan." jawab Maudy.
"Kalau mau makan atau apa, bilang saja. Abang tidak mau, kamu dan calon anak kita kenapa - napa."
"Iya Abang, nggak kok. Begini nyaman, Abang fokus saja menyetir."
"Yang lancar ya sayang, saat melahirkan nanti." ucap Tomi sambil mengusap perut Maudy.
"Amin." ucap Maudy.
****
Mereka pun sampai di Asrama, Maudy segera masuk dan merebahkan tubuhnya. Rasa capek, dan pinggangnya sedikit capek membuat Maudy terus mengusapnya.
"Kenapa Yank?"tanya Tomi panik.
" Abang tolong pijat, atau usap saja pinggangnya. Rasanya sakit, sama pada capek tubuhnya." jawab Maudy.
"Abang kan bilang, kalau capek bilang. Nanti kita istirahat. Sekarang baru terasa kan, tadi bilangnya tidak apa - apa."
"Memang tidak terasa Bang tadi itu, ini baru terasa sekarang."
"Yasudah, berbaring yang betul , luruskan kakinya. Abang turunin koper dari mobil, kalau bisa tidur."
"Iya Abang."
****
"Abang, kamar sebelah itu buat kamar anak kita, nanti di cat pink ya." pinta Maudy.
"Memangnya, anak kita perempuan? kamu saja belum USG lagi." ucap Maudy.
"Ini pasti perempuan."
"Jangan dulu prediksi, kalau belum di cek dokter."
"Tapi ini perempuan Bang, dalam mimpi juga begitu katanya perempuan."
"Apa kata kamu sajalah."
"Kok apa kata Maudy?"
"Ya Abang tidak mau berdebat saja, dan Abang minta. Kita jauh dari orang tua, kamu harus bisa dewasa sekarang. Kita mau minta tolong ke siapa? disini tidak ada saudara. Kita harus saling menghargai, saling membantu. Ego kita harus bisa di imbangi."
"Iya Bang."
"Kita ini calon orang tua, hilangkan sikap manja dan kanak - kanak, karena kita sudah saatnya dewasa, dan kita kan sudah menikah, dan kamu sedang hamil. Harus menjadi orang tua, yang lebih baik lagi."
"Iya Bang, saya akan rubah sikap."
"Bagus, itu baru namanya istri Abang."ucap Tomi.
.
.
__ADS_1
.