
Hoek.. hoek..
"Aduh Kirana, kamu itu dari pas masuk mobil, kapal sekarang kamu sudah di darat masih saja muntah. Sudah habis dua pack, plastik buat pembuangan muntah kamu. Kan tadi sudah minum obat anti mabok, masa kamu masih tetap muntah." ucap Papah Hadi sambil menyetir.
"Pulangnya naik pesawat saja." ucap Kirana.
"Kamu sana naik sendiri, kalau kamu nggak malu muntah terus."
"Masih lama tidak sih Om, saya sudah capek sama pusing."
"Sabar, 30 menit lagi."
"Kita nggak langsung pulang kan Om?"
"Kita disini 3 hari, katanya kamu mau liburan."
"Iyalah, tujuan ikut itu ingin liburan.'
" Kamu lebih baik tidur aja, nanti kalau sudah sampai Om bangunin."
Kirana mencoba memejamkan kedua matanya, tapi tidak bisa. Dan malah membuatnya semakin mual.
***
"Duduk Yank, masih di jalan." ucap Tomi.
"Dari tadi kok belum sampai Bang, satu jam yang lalu, sudah keluar dari pelabuhan. Tapi ini satu jam lebih, seharusnya kan sudah sampai." ucap Maudy.
"Sabar, lagi di jalan."
"Coba hubungi lagi Bang."
"Papah lagi menyetir."
"Kirana dong, dari tadi sabar - sabar terus. Saya khawatir, takut terjadi sesuatu."
Mobil Papah Hadi akhirnya sampai, Maudy dan Tomi tersenyum menyambut kedatangan keduanya.
"Papah." ucap Maudy, langsung memeluk Papahnya.
__ADS_1
"Apa kabar anak Papah? sudah siap pulang?" ucap Papah Hadi.
"Ah Papah, nanti lah." ucap Maudy sambil bergelayut manja di lengan Papah Hadi.
"Pah, pasti capek ya. Harus menyetir kesini, tanpa gantian."
"Pastilah, apalagi tuh yang masih di dalam mobil masih tepar dia." ucap Papah Hadi sambil berjalan masuk.
Tomi berjalan mendekati mobil, dan mengetuk kaca mobil. Kaca mobil di turunkan, terlihat Kirana sangat lesu dan pucat.
"Sudah sampai, yuk keluar" ucap Tomi.
Kirana pun keluar dari dalam mobil, dan langsung muntah kembali mengenai kaos yang di pakai Tomi.
"Ah... Kirana!! "
"Aduh maaf om., maaf ya."
"Kamu mah, sana kamu bersihkan tuh muka." ucap Tomi langsung pergi mendahului Kirana.
Tomi masuk dengan wajahnya yang sedikit kesal, Maudy langsung mendekati suaminya dan menyuruh segera ganti kaos saat melihat bekas muntah.
"Abang mandi dulu." ucap Tomi langsung masuk ke kamar mandi.
"Aduh sumpah, perut jadi sakit begini." ucap Kirana.
"Maudy, kamu buatkan air jahe atau teh hangat manis buat Kirana." pinta Papah Hadi.
"Ya Pah, nanti saya buatkan teh manis hangat." ucap Maudy beranjak bangun, untuk membuatkan teh manis hangat untuk Kirana.
****
"Tadi Papah itu istirahat sebentar, Kirana muntah terus dan minta jangan melanjutkan perjalanannya. Katanya perutnya tidak enak, makanya Papah telat sampainya." ucap Papah Hadi.
"Memang dari dulu Pah, Kirana itu?" tanya Tomi.
"Ya gitu, tidak darat, udara dan laut tetap seperti itu." jawab Papah Hadi.
"Om, nanti besok ke pantai ya." ucap Kirana.
__ADS_1
"Boleh, tapi harus pakai motor. Kalau pakai mobil, kamu muntah."
"Boleh - boleh."
"Bang, mau pinjam motor siapa?"
"Pinjam punya Pak Sandi sama motornya Burhan."
"Ke pakai tidak? besok itu minggu."
"Kalau ke pakai, kan banyak pinjam."
"Makannya beli motor, jangan pakai yang inventaris."
"Ya nanti Yank, kan baru pindah."
"Alah pindah sudah dua bulan lebih."
"Masalahnya kan, Abang tuh takut pindah lagi itu barang banyak yang harus di bawa."
"Kan bisa di jual, nanti ditempat baru beli lagi."
"Enak ya kalau bicara."
****
Motor tidak bisa di pinjam, karena semuanya memiliki acara. Tapi mereka menggunakan truk bak kecil, membawa mereka ke pantai.
Tomi dan Papah Hadi duduk di depan, Tomi yang menyetir, sedangkan Maudy dan Kirana duduk di belakang.
"Nah kalau naik mobil begini enak tidak muntah." ucap Kirana.
"Iya enak tidak muntah, kita sudah dan dah cantik, keren malah turunnya dari mobil truk bak kecil." ucap Maudy.
"Dari pada perjalanan kalian terganggu naik mobil Om Hadi."
"Iya, ini tuh demi kamu.Makanya berlatih naik mobil, biar tidak mabuk."
.
__ADS_1
.
.