Kapten Tom

Kapten Tom
Kejadian Di Rumah Sakit


__ADS_3

Tomi menahan perutnya yang sangat ingin buang gas, karena malu Tomi lebih memilih menahannya hingga wajahnya memerah seperti tomat.


"Om, baik - baik saja kan?" tanya Maudy.


"Kamu bisa diam nggak sih? nggak usah bicara terus." jawab Tomi.


"Kenapa sih? di baik - baik in malah marah - marah, kenapa sih? selalu salah saja di mata Om. Saya ini kesini, karena memiliki rasa kasihan sama Om, yang katanya masuk rumah sakit. Kalau saya tidak kasihan sama Om, ngapain saya kesini."


"Kamu itu, kalau bicara ngajak ribut. Kapan sih? tidak ngajak ribut?"


"Yang ngajak ribut itu siapa? Om Tomi yang ngajak ribut, bukan saya."


"Stop, jangan bicara lagi, bisa nggak kalem dikit nggak usah ngomel, saya ini butuh ketenangan."


"Ok, kalau butuh ketenangan, saya pergi." ucap Maudy langsung berjalan ke arah pintu.


Broooootttttt


Tomi merasakan lega di perutnya, sedangkan Maudy langsung membalikkan tubuhnya dengan menutup hidungnya.


"Om....!!!"


"Apa sih? sudah tahu pengen kentut kamu ngomong terus."


"Kalau mau kentut bilang dong, jangan ditahan terus jangan ngomel - ngomel."


"Gimana nggak ngomel, gimana nggak tahan, saya malu kentut di depan kamu."


"Ih.. nyebelin."


"Sudah ah, mau tidur lagi. Capek berantem terus sama kamu, gara - gara perkara kentut."


"Auh ah, cape deh." Ucap Maudy langsung berjalan duduk ke arah sofa.


"Katanya mau pulang? kok masih disini?"


"Nggak jadi, masa laporan sama Papah dan Nenek, kenapa pulang? saya jawab gara - gara kentut."


"Hahahahah... ya nggak apa - apa, itu bagus."


"Ih.. nggak keren."


"Sini deh."


"Nggak mau."


"Sini dulu, kalau di panggil sama suami tuh yang nurut, terus datang." ucap Tomi, Maudy lalu bangun dari duduk nya, dan berjalan ke arah Tomi.


"Sini naik." ucap Tomi sambil menepuk tempat tidurnya.


Maudy naik ke atas tempat tidur, dan oleh Tomi langsung tubuh Maudy berada di bawah Tomi.


"Om mau ngapain? jangan macam - macam Om, ini rumah sakit dan Om Tomi sedang sakit."


"Sakit saya sembuh, setelah lihat kamu."


"Memangnya saya ini merk obat Om?"


"Obat merk cinta dosis rindu efek terasa dunia milik berdua."

__ADS_1


"Ih.. tua - tua gombalnya minta ampun, melebihi anak muda."


"Kalau tua jiwa muda gimana?"


"Gimana ya? aneh saja gitu."


"Oh iya?" ucap Tomi mendekatkan wajahnya.


"Om, tolong deh jangan begini. Dan saya merasakan, milik om kerasnya seperti kayu."


Tomi langsung bangun dari atas tubuh Maudy, wajahnya kembali memerah sambil menutupi miliknya.


Intan menatap milik Tomi, terlihat menonjol dan punya ide jahil untuk mengerjai suaminya. Intan mendekat, hingga begitu dekat dengan tubuh Tomi.


"Mau apa?" tanya Tomi yang sedikit menjauhkan tubuhnya dari Maudy.


Jemari Maudy sedikit demi sedikit meraba di atas paha Tomi. Kedua mata Tomi terpejam, saat jemari Maudy bermain, di atas pahanya hingga sedikit demi sedikit ke atas.


Sampai tepat sedikit lagi, pada titik inti. Tomi. semakin mencengkram sisi tempat tidur. Maudy sambil menahan tawa di hatinya, mendekatkan bibirnya ke arah telinga Tomi.


"Rasakan ini."


Aaaaaaaaa


Hahahahaha..


"Maudy...!! "


Maudy tertawa terpingkal - pangkalan, saat tangan Maudy mencengkram milik Tomi hingga kencang. Rasa mulas dan sakit yang kini di rasakan Tomi, Maudy tertawa sangat puas melihat Tomi yang sedang menahan sakit memegang miliknya.


"Kamu tanggung jawab Maudy, kalau sampai ini si Jojon nggak bisa berdiri. Kamu harus tahu, sekali kamu di tembak si Jojon kamu ketagihan dan bisa besar tuh perut."


" Istri nggak punya akhlak."


*****


"Kamu temani Tomi, ingat jangan kabur. Kasihan suami kamu, dia sedang sakit." ucap Papah Hadi.


"Nak, kalau ada apa - apa, kamu hubungi Nenek. Karena Nenek, menginap di rumah Papah kamu."


"Siap Nek." ucap Maudy.


"Kalau kamu mau pulang, nggak apa - apa kok, saya juga berani sendirian." ucap Tomi.


"Betul Om?" tanya Maudy.


"Jangan, masa mertua jagain mantu. Istrinya dong, jaga disini sampai keluar dari rumah sakit." ucap Papah Hadi.


"Iya benar, masa Papah kamu, ya kamu lah Maudy, jaga suami kamu jangan Papah kamu terus."


"Siap Nek."


Tomi hanya tersenyum kecut, sambil tangannya di bawah selimut memegang miliknya yang masih merasakan ngilu.


****


Tomi tidak bisa tidur, saat melihat Maudy tidur di sofa panjang, dengan satu kaki menjuntai ke bawah. Sedangkan kaki satu nya, berada di atas sofa.


Tomi turun dari atas tempat tidur, dan berjalan ke arah sofa dengan tangan kirinya menarik tiang infus.

__ADS_1


"Kamu itu perempuan tapi tidurnya bar - bar gini." ucap Tomi, sambil menaruh kaki Maudy yang menjuntai ke bawah di taruh di atas sofa.


Buuugghhhhh


Praaaaannngg


Aaaaarrrrghh


Satu kaki Maudy, menendang tubuh Tomi, saat kaki yang di naikan ke atas sofa kembali berulah.


Tomi menahan sakit di siku tangannya, saat tubuhnya terjungkal kebelakang. Maudy tetap pulas dalam tidurnya, sedangkan Tomi merasakan kesal padanya.


"Orang tidur tetap bar - bar, lagian tidur apa mati."ucap Tomi kesal.


****


Maudy bangun dari tidurnya, merasakan tubuhnya sakit. Hingga lehernya yang capek, dan kedua kaki pun capek.


"Sudah bangun ya? nyenyak tidurnya?"


"Sakit semua om."


"Segitu tidur nyenyak kamu tetap pada sakit?"


"Iya Om, sakit banget sih. Nggak biasa tidur di sofa eh sekarang sekali tidur malah pada sakit semua."


"Kamu nggak merasa mimpi, menendang apa gitu?"


"Mimpi sih, tadi mimpi menendang bola. Bahkan masuk gawang Om, tapi penjaga gawang nya jatuh Om, sampe terjungkal gitu."


"Oh gitu ya, tendangannya kencang pasti?"


"Kencang banget Om, malah tim kita menang."


"Oh... gitu ya, pantas saja."


"Om, kapan pulang sih?"


"Nggak tahu, apa kata dokter saja. Om sih, aslinya sudah tidak betah di rumah sakit."


"Sama Om, saya juga yang jaganya nggak betah. Makannya Om, jangan sakit kalau tidak mau di rawat di rumah sakit."


"Intan, siapa sih yang mau sakit? dimana - mana nggak ada yang mau sakit, kecuali kamu terus berulah mungkin saya akan tambah lama lagi disini."


"Berulah apa?"


"Ini punya Om, batangnya gimana? kalau patah tulang gimana?"


"Om itu lebay deh, masa patah tulang. Wong di pegang saja, nggak di tekuk itu barang."


"Ah... sudahlah, bisa saja ngomongnya."


"Ya sudah." ucap Maudy beranjak bangun, untuk ke kamar mandi."


"Kalau saya sehat, itu istri sudah saya kerjain dia, sampai lemas." ucap Tomi dalam hatinya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2