
Acara 7 bulan berjalan lancar, hanya doa bersama dengan para Anggota, dan mengundang warga sekitar yang Tomi kenal.
Banyak yang mendoakan untuk anak pertama mereka, Maudy dan Tomi bersalaman dengan para tamu undangan, untuk berpamitan pulang.
"Alhamdulillah Bang, acaranya berjalan lancar, semoga anak kita lahir selamat Bang."
"Amin sayang, semoga anak kita menjadi anak yang sholeh atau solehah. Karena memang kita, tidak mau tahu di awal jenis kelaminnya. Biar kejutan, Abang sudah tidak sabar sayang."ucap Tomi.
" Pak Tomi, Bu Maudy ini masih sisa nasi kotak sama snack nya ada sekitar 10." ucap Lia.
"Minta anak buah saya saja, antar yang tidak datang."
"sudah Pak, tapi masih sisa."
"Bawa saja buat kamu dan Budi, kalian kan sudah bantu - bantu."
"Sudah Pak Tomi, saya sama Lia sudah ambil." ucap Budi.
"Benar Pak, terima kasih." ucap Lia.
"Nggak apa - apa, bawa saja. Kami nggak akan kemakan, lagian tetangga sudah kebagian semua." ucap Maudy.
"Kalau begitu, terima kasih banyak." ucap Lia.
"Sama - sama mba."
__ADS_1
****
Tomi merapikan sofa di ruang tamu, setelah membersihkan dan merapikan sisa acara tadi. Maudy menaruh pisang goreng, di atas meja makan.
"Bang, kopi sama pisang goreng."
"Kapan masak pisang goreng?" tanya Tomi sambil mengambil satu pisang gorengnya .
"Itu dari istri Pak Kades bawa." jawab Maudy.
"Oh, pantes Abang tanya makannya, kapan goreng pisangnya."
"Bang, kapan renovasi kamar?"
"Nantilah, nunggu Abang libur."
"Ya Abang, tata saja. Nanti Abang cat temboknya, cocok untuk warna laki - laki atau perempuan."
"Bang, disini rumah sakit dekat kan?"
"Dekat sayang, tenang saja. Bidan juga ana, istrinya Bang Bowo."
"Syukurlah."
"Anak Ayah, yang sehat - sehat di dalam perut Bunda ya." ucap Tomi sambil mengusap dan mencium perut Maudy.
__ADS_1
"Bang, masih seperti mimpi tidak sih? kalau Abang itu, mau jadi Ayah."
"Jelas sayang, nggak menyangka saja. Akhirnya jodoh Abang itu kamu, tahu dalam perutnya, tahu bayi nya, eh sekarang jadi istri Abang."
"Maafkan Maudy, kalau selama ini belum bisa menjadi istri yang sempurna."
"Iya sayang, Abang juga minta maaf. Kalau selama jadi suami, masih belum bisa membahagiakan kamu."
"Abang itu, suami yang sempurna. Bahkan suami yang paling sabar, menghadapi sikap Maudy yang seperti ini. Sifat yang masih kanak - kanak, bahkan kadang buat Abang kesal, hanya Abang tidak pernah marah dan selalu sabar menghadapi saya."
"Abang sayang sama kamu, namanya juga orang berumah tangga, apalagi umur kita terpaut sangat jauh. Wajarlah banyak perbedaan, tapi harus salah satunya bisa mengalah dan Sabar, kalau dua - dua nya memiliki ego yang tinggi, rumah kita tidak akan bahagia. Yang ada perceraian nantinya, Abang yakin kamu akan dewasa pada akhirnya. Buktinya kamu sedikit demi sedikit, sudah berusaha dewasa ya walau kadang suka masih keluar sifat anak - anaknya."
Maudy memeluk tubuh Tomi, tangan Tomi langsung membalas pelukan istrinya, dicium pucuk kepalanya, sambil mengusap punggung Maudy.
"Semoga kita menua bersama, hingga mau memisahkan kita. Dan di sana kita,sama - sama di surga nanti, bersama anak cucu kita."
"Amin Bang, amin..!!"
"Semoga anak - anak kita, menjadi anak yang sholeh dan Sholehah, patut kepada kedua orang tuanya.Dan menjadi lebih baik, dari kita." ucap Tomi.
"Amin Bang."
.
.
__ADS_1
.