
Maudy dengan wajah menekuk langsung masuk kedalam kamar, di rumah Ibu Rita.Papah Hadi, langsung menaruh koper milik Maudy, dan Ibu Rita hanya menggeleng kan kepala nya.
"Ini itu akibat ulah kamu, anak sedang senang - senang sama dunianya kamu malah merusak, dengan menikahkan sama Tomi." ucap Ibu Rita.
"Dia itu terbaik buat anak saya bu, kalau dia menikah dengan Axel mau jadi apa dia. Makan saja, masih minta sama orang tua, sok mau menikahi anak saya."
"Rejeki itu tidak akan ada yang tahu, kamu bisa saja melihat akan sengsara, tapi siapa tahu saat mereka menikah itu, akan dapat rejeki. Malah mungkin rejekinya, di atas kamu."
"Ibu mendukung Maudy sama Axel?"
"Iya, karena mereka saling mencintai."
"Saya tidak mendukung, tetap saja restu itu ada di tangan saya bukan tangan ibu."
"Sekarang, kamu bawa Maudy kesini untuk apa?"tanya Ibu Rita.
" Saya pindahkan dia kuliah disini, kalau dia masih kuliah disana, Susanti sama Tito itu racun. Bisa rumah tangga anak saya rusak, gara - gara anak bau kencur itu."jawab Papah Hadi.
"Terserah kamu yang atur, tapi kalau sampai Maudy ada kenapa - napa. Kamu yang harus tanggung jawab, dan ibu tidak akan maafkan kamu."
****
"Kamu pindah kuliah, Papah sudah urus surat kepindahan kamu. Kamu satu kampus, sama Kirana."
"Iya Pah." ucap Maudy pasrah.
"Kirana akan awasi setiap gerak gerik kamu, kalau sampai tahu Axel kemari. Papah kirim kamu ke luar negeri, sama adik dari Mamah kamu."
"Kenapa nggak sekalian saja Papah itu, buang saya yang jauh. Agar tidak bisa berinteraksi dengan orang, kenapa mengasingkan anak itu setengah - setengah?"
"Karena Papah ingin kamu sadar, atau kamu baru sadar saat Papah sudah tiada."
"Pah, kenapa sih? Papah itu mengekang saya. Papah itu seolah, saya itu salah di mata Papah. Saya menuruti apa kata Papah, menikah dengan Om Tomi. Tapi tetap saja, saya merasa Papah masih terus mengekang saya. Kapan Pah? kapan saya bebas!!" ucap Maudy dengan mata berkaca - kaca.
"Nanti, saat kamu mencintai Tomi. Baru Papah bebaskan kamu, kalau sekarang, kamu masih Papah awasi."
*****
"Guys, ternyata Maudy pindah kuliah." ucap Susanti.
"Yang benar? kata siapa?" tanya Axel.
"Tadi lihat Papah nya Maudy ke kampus, dan waktu itu ada Dosen keluar, saya tanya katanya Maudy pindah." jawab Susanti.
"Kenapa pindah ya?" ucap Tito.
"Mungkin gara - gara kamu Axel, kamu sih terlalu nekat." ucap Susanti.
"Saya begini kan, demi memperjuangkan cinta kami. Bayangkan, hubungan kita itu bukan baru satu tahun atau dua tahun, tapi tahunan. Sedang kan suaminya, baru beberapa bulan saja." ucap Axel.
"Tapi kan Xel, Om Tomi itu kenal Maudy sejak masih dalam perut Mamah nya." ucap Susanti.
****
"Nek, sekarang masak apa?" tanya Maudy yang baru bangun tidur.
"Ini anak, bukan nya mandi malah tanya masak apa sekarang." jawab Ibu Rita.
"Maudy, sini bantuin petik kangkung." ucap Kirana.
"Nggak ah, takut ada ulat." tolak Maudy.
"Nggak ada Maudy, ini nggak ada ulat nya.Sini sambil belajar, kamu kan tidak bisa masak."
__ADS_1
"Nggak mau, sama Om Tomi pesan kok kalau ingin makan."
"Benar kata Kirana, kamu harus belajar masak. Masa kamu mau beli terus makannya, kalau suami kamu ada uang, kalau tidak ada gimana?" ucap Ibu Rita.
"Ada tabungan Nek."
"Bisa saja kamu bilang nya, memang kamu itu susah di atur Pantas Papah kamu, sangat kekang kamu."
*****
"Jadi istri kamu, di jemput sama Hadi?"ucap Alfa.
" Lebih baik begini, kalau jodoh kita bersatu lagi, kalau tidak yaudah kita pisah. Mungkin belum menemukan, jodoh yang tepat."
"Kamu salah memilih, dan Hadi juga salah menjodohkan. Memang orang tua menginginkan yang lebih baik , tapi kita kan kembali pada anak nya. Kalau di paksa, ya begini jadi nya."
"Jujur, saya itu sayang sama Maudy, saya itu cinta sama dia. Dia berbeda dari mantan - mantan saya dahulu, dia begitu periang, dan tingkah nya itu membuat saya gemas."
"Tapi dia nya, tidak cinta sama kamu. Percuma dong, kamu cinta sama dia tapi dia nya nggak suka sama kamu. Mungkin, faktor umur yang jauh. Dia 19 tahun kamu 40 tahun, kamu yang dewasa dia yang masih remaja sering banyaknya beda pendapat. Disini, intinya selain cinta tapi umur."
"Iya itu faktor utama."
*****
"Jadi kita tidak bisa bertemu lagi nih?" tanya Susanti.
"Bisa saja, nanti atur jadwal." jawab Maudy.
"Benar - benar ya, Papah kamu tegas banget. Axel tetap tidak mau mundur, dia tetap ingin mendapatkan kamu lagi."
"Padahal Axel, kemarin di tampar loh sama Papah, tapi dia nggak ada takut nya. Saya kadang heran sama dia, orangnya nekat banget. Saya takut, kalau Papah nanti berbuat sesuatu pada Axel."
"Nggak akan mungkin deh, Om Hadi begitu. Pasti ada batasan nya, mungkin hanya menggertak saja mungkin iya."
"Jadi kamu sampai kapan, di rumah Nenek kamu?"
"Sampai selesai kuliah."
"Terus rumah tangga kamu gimana?"
"Tidak tahu, apa nanti nya saja."
"Cepatlah ambil keputusan, jangan di diam kan. Gantung itu tidak enak, apalagi hubungan pernikahan. Kalau kamu mau lanjut, kamu bicara baik - baik lagi sama suami kamu, kalau kamu ingin pisah, cepat kamu putuskan. Bukan nya, dia juga pernah bilang kan, kalau mau cerai dia akan cerai kan kamu."
"Bingung, mau lanjut atau tidak. Cerai, masa saya masih muda sudah jadi janda, lanjut saya belum bisa belajar mencintai nya. Disini saya mulai bingung, entahlah bingung."
"Atau kamu itu, sebenarnya mencintai Om Tomi?"
******
"Kamu nanti bakalan satu kelas sama saya." ucap Kirana.
"Kamu sama, ambil jurusan Hubungan Internasional?" tanya Maudy.
"Iyalah sama, kamu pikir saya ambil jurusan apa?" Tata Boga." jawab Kirana.
"Secara kamu, pintar masak."
"Itu hanya sekedar hobi, perempuan itu harus pintar masak, minimal masak mie rebus lah, jangan seperti kamu nggak bisa sama sekali."
"Memang nya penting ya?"
"Yaiyalah Maudy itu penting, saya kalau jadi kamu. Itu suami, saya simpan terus di rumah kalau bisa. Kamu itu Maudy, Om Tomi kurang apa sih? segitu dia baik nya, perhatian, dia sabar. Kamu mau melepaskan dia demi Axel? jujur ya, lebih baik Om Tomi deh, memang masalah umur jauh banget, tapi dia itu perhatian nya, sabar nya, terus sudah mapan. Kalau sudah rumah tangga, bukan lagi cinta yang kita butuh, tapi butuh makan, butuh duit. Bukan butuh sayang - sayangan, memang nya kamu kenyang makan cinta doang? nggak kan."
__ADS_1
"Kamu itu sok pintar ya, sok sudah berumah tangga. Pacar saja kagak punya, main nasehati."
"Eh Maudy, walau jomblo saya itu pernah ikut kelas parenting, masalah kehidupan setelah menikah. Jadi saya gini - gini itu paham, malah seperti nya lebih paham saya deh dari pada kamu."
"Tahu ah bingung."
"Terus, suami kamu hubungi kamu nggak?"
"Nggak!! "
"Kamu nya?"
"Nggak juga."
"Jadi kalau suami kamu, talak kamu mau?"
"Ya kalau memang harus cerai, mau di apakan lagi. Yaudah sekian dan terima kasih." ucap Maudy.
"Ya Allah Maudy, kamu bukan nya introspeksi diri tapi malah kamu pasrah saja. Kamu itu memang benar - benar belum dewasa, pantas Om Hadi kerasa sama kamu, karena kamu orang nya begitu."
****
Maudy melihat ponsel nya, tidak ada chat atau telepon dari Tomi. Maudy ingin mencoba menghubungi nya, tapi di urungkan.
"Saya kok, jadi kepikiran dia ya.Dia nya saja, nggak mencoba hubungi saya, ngapain saya hubungi dia. Gengsi lah, seharusnya dia yang hubungi saya."
Sedangkan di rumah dinas, Tomi merasakan pusing dengan hidup tersumbat. Dengan menyandarkan kepala nya di sofa, sambil memijat kening nya sendiri.
"Istri kamu mana? masa suami sakit nggak mengurus." tanya Ibu kasih.
"Pulang bu."
"Baru kemarin kamu menikah, betul kan kata Ibu. Kalau kamu itu gagal, masalah asmara gagal terus tidak akan pernah berhasil."
"Kita saling introspeksi diri saja Bu, kalau jodoh juga nanti kita satu rumah lagi."
"Kalau tidak, berarti kamu siap - siap jadi duda."
"Begitu lah bu, mungkin saya di takdirkan untuk sendiri. Tidak ada yang namanya perempuan, tidak ada yang namanya cinta.Kalau memang itu jalannya saya, ya mau gimana lagi, saya terima takdir nya."
"Menurut Ibu, sudah kamu ceraikan saja. Dia juga masih anak - anak, umur 19 tahun masih labil. Dan kamu 40 tahun, cari yang usia di atas 30 tahun yang matang, yang dewasa, yang sudah siap berumah tangga. Jangan cari istri model Maudy, istri macam apa dia. Ilmu nya masih dangkal, dan masih belum bisa memilih antara keluarga atau bukan."
"Kita lihat saja bu, ke depan nya gimana."
****
Tomi berlari keliling lapangan, bersama beberapa anggota nya. Dengan hanya bertelanjang dada, hingga membuat punggung dan dada mereka terlihat mengkilap karena keringat.
Tomi berhenti, saat merasakan kepala nya semakin pusing. Hingga dia tidak bisa melanjutkan lagi, namun rasa mual itu tiba - tiba datang. Dengan segera menjauh dari lapangan, Tomi memuntahkan semua isi perut nya.
Hooeeek... hooekkk
Tomi terlihat sangat lemas, dengan berpegangan pada batang pohon cemara di samping nya.
"Kamu tidak apa - apa?" tanya Alfa mendekat.
"Nggak kuat lagi, kepala pusing sekali, terus perut seperti di obok - obok. Rasa nya ingin muntah, ini saja tidak kuat."
"Saya antar kamu ke ruang kesehatan." ucap Alfa, membantu Tomi untuk berdiri.
.
.
__ADS_1
.