
Ceklek
Tomi membuka pintu rumah, saat mendengar suara ketukan pintu. Susanti dan Tio, tersenyum ke arahnya.
"Sore Om." saos Susanti.
"Sore, masuk." ucap Tomi, mengajak masuk.
"Maudy nya ada Om?" tanya Tito.
"Ada, nanti saya panggilkan." jawab Tomi, langsung berjalan ke arah kamar.
Maudy keluar dari kamarnya, dan sudah berpakaian rapih. Tomi menatap ke arah istrinya, yang sudah berdandan cantik.
"Mau kemana?"
"Mau makan - makan."
"Makan - makan, acara apa?"
"Minta duit dong Bang, buat traktir mereka."
"Acara apa sih?"
"Bang, hari ini saya ulang tahun. Abang lupa ya?"
"Astagfirullah, ini hari ulang tahun kamu?"
"Ya ampun Abang, ulang tahun istri sendiri saja sampai lupa. Kemarin, ada acara di kantor Abang lupa lagi. Benar - benar ya faktor umur."
Tomi menarik tangan Maudy, masuk ke dalam kamarnya. Ditarik tengkuk lehernya istrinya, dicium bibirnya dengan lembut.
"Selamat ulang tahun."
"Makasih Bang." ucap Maudy tersipu malu.
"Mau kado apa?"
"Apa ya?"
"Gini saja, Abang tunggu. Nanti kita merayakan bersama."
"Tapi malam ini, sepertinya pulang malam Bang, habis makan kita nonton. Dari tahun ke tahun, siapa yang ulang tahun traktir."
"Pulang jam berapa?"
"Jam berapa ya? jam 8 malam."
"Abang tunggu, dan ini uang buat traktirnya."
"Makasih ya Bang."
Intan menghampiri Susanti dan Tito, mereka berpamitan, Tomi mengantarnya hingga depan rumah.
"Mau pada kemana?" tanya Alfa.
"Mau healing." jawab Tomi.
"Sepertinya istri kamu, lebih banyak sama teman - temannya ya, ketimbang sama suaminya."
"Saya kasih kebebasan buat dia, saya tidak ingin banyak berdebat. Karena saya juga harus bisa mengimbangi, karakter dia."
"Tapi di belakang, banyak loh yang bicarakan istri kamu. Apalagi, istri kamu jarang gabung. Awal - awal saja."
"Sedikit demi sedikit ya." ucap Tomi.
****
__ADS_1
"Asik.. kita makan - makan." ucap Susanti.
"Makan tuh yang banyak, mumpung gratis." ucap Maudy.
"Makasih loh, bulan depan giliran bebeb Susanti." ucap Tito.
"Tenang, kan yang bayar Ayank."
"Sip..!! " ucap Tito.
"Hi...!! " sapa Axel.
Maudy menatap ke arah Susanti dan Tito, saat Axel datang. Maudy tersenyum saat Axel menyapanya, dan memberikan kado ulang tahun.
"Happy Birthday." ucap Axel.
"Makasih." ucap Maudy.
"Saya yang bayarin, kebetulan saya baru gajian." ucap Axel.
"Kamu kerja apa?"
"Saya sekarang kerja, di salah satu perusahaan luar negeri. Buat game, kebetulan kerjaan saya bisa kerja dari rumah, satu bulan sekali baru ke kantor pusatnya. Gajinya satu bulan 30 juta, hebat kan. Saya sudah punya penghasilan tetap, pasti Papah kamu bangga kalau punya menantu seperti saya." ucap Axel.
"Hebat ya, saya senang dengarnya."
"Gaji suami kamu juga kalah, dalam satu tahun saya akan beli rumah, senilai 2 Milyar."
"Alhamdulillah."ucap Intan.
****
"Siapa yang undang Axel?" bisik Maudy.
"Sepertinya Tito, saya tidak kok."ucap Susanti.
"Maafkan Tito ya, saya akan tegur dia."
"Eh katanya mau nonton, saya pesankan nonton film nya yang VIP ya." ucap Axel.
"Nggak usah, biar saya saja yang bayar. Ini kan acara saya, biar semuanya saya yang tanggung."ucap Maudy.
" Ayolah, saya belum pernah kasih kamu sesuatu. Biar kamu merasakan, gaji pertama saya."
"Axel, maaf ya bukannya apa - apa, saya bukan pacar kamu lagi, saya mohon jangan lakukan ini."
"Saya masih berharap, kamu akan jadi milik saya."
"Tolong, jangan terlalu berharap. Saya sekarang, sudah menerima dia sebagai suami saya."
******
Tomi menyiapkan makan malam romantis bersama Maudy, merayakan ulang tahunnya yang ke 20 tahun.
Kue tart yang di pesannya, sudah ada di atas meja dengan angka 20 tahun. Dengan hidangan steak kentang, dan minum sirup warna merah.
"Perfect, tinggal menunggu Maudy pulang." ucap Tomi melirik ke arah jam dinding yang sudah pukul 8 malam lebih.
Tomi menunggu Maudy pulang, hingga pukul 9 malam belum juga pulang. Tomi mencoba menghubunginya tapi ponsel Maudy tidak aktif, hingga mencoba lewat chat dan hanya centang satu.
"Kemana kamu? jam 9 malam kamu malah belum pulang.
*****
"Saya mau pulang Axel, saya itu ada janji sama suami saya."
"Tolonglah ini malam spesial, saya ingin bersama kamu menikmati malam ini." ucap Axel sambil memegang tangan Maudy.
__ADS_1
Sedangkan Tito dan Susanti, duduk diseberang mereka. Maudy menjauhkan tangannya dari Axel, namun Axel mencoba meraihnya kembali.
"Saya kasih waktu kamu, sampai 10 menit. Setelah itu, saya pulang."
"Ok kalau itu mau kamu, dan ingat. Saya akan terus dekati kamu, karena saya punya uang."
Maudy, melihat ponselnya yang mati, akibat baterai habis, Maudy lupa mengisi daya. Maudy langsung berdiri, Axel pun berdiri.
"Mau kemana?"
"Saya mau pulang, maaf." ucap Maudy, langsung pergi.
Axel yang akan mencoba mengejar, tapi di tahan Oleh Susanti. Axel mengusap wajahnya dengan kasar, saat akan mengejar Maudy di halangi oleh Susanti.
"Kamu itu seperti tidak ada wanita lagi, dan kamu Yank jangan sering hubungi Axel kalau mengenai masalah Maudy. Biarkan dia bahagia dengan pasangannya, dan kamu lupakan Maudy." ucap Susanti.
"Kamu enak bicara seperti itu, saya yang mengalaminya sulit untuk melupakan dia, sama bila kamu di tinggal pergi Tito, kamu akan merasakan hal tidak ikhlas." ucap Axel.
****
"Yank, kamu itu ya lagi - lagi kamu hubungi Axel, kamu itu mau rumah tangga Maudy rusak? kalau kamu begini caranya, kita bakalan tidak boleh berteman dengan dia. Kamu suka sadar kesitu nggak sih?" ucap Susanti.
"Maaf Yank, soalnya dia itu teman akrab kita." ucap Tito.
"Mau teman akrab atau bukan, kalau urusan begini itu jangan melihat teman, kamu itu sama saja, merusak masa depan orang."
****
Maudy membuka pintu rumah, yang terlihat gelap. Tangannya meraba dinding, mencari sebuah sakelar.
Lampu menyala, Maudy melihat di meja makan, terdapat kue tart dengan lilin yang masih utuh berbetuk angka 20.
Maudy tersenyum , yang telah di persiapkan oleh suaminya. Maudy mencari Tomi, tapi tidak melihatnya.
"Abang... !! " panggil Maudy.
"Abang, saya pulang, Abang dimana?"
Sebuah tangan kekar melingkar di perutnya, sebuah ciuman mendarat di pundak Maudy. Maudy tersenyum, dan membalikkan tubuhnya.
"Makasih Bang." ucap Maudy mengecup bibir Tomi.
Tomi mencium bibir Maudy, mencium degan mesra. Tomi tersenyum, sembari mengusap bibir Maudy.
"Abang siapkan dari tadi, persiapannya sejak sore loh. Kamu berangkat, Abang siapkan semuanya."
"Terima kasih Banyak Bang, saya tidak bisa berkata apa - apa. Ini spesial banget, pesta kecil yang tidak pernah saya rasakan. Bahkan tadi, hanya pesta makan - makan bisa, tidak seperti ini."
"Kan yang ini, yang buatnya spesial."
"Makasih Bang." ucap Maudy , dengan kaki berjinjit bibirnya kembali menyentuh, bibir Tomi.
***
"Gimana enak?" tanya Tomi saat Maudy makan steak buatannya.
"Paling ini beli di restoran ya?"
"Enak saja, ini buatan Abang. Begini - begini, masak beginian gampang banget."
"Iya percaya, nggak seperti saya, nggak bisa namanya masak."
.
.
.
__ADS_1