Kapten Tom

Kapten Tom
Sebuah Permintaan


__ADS_3

"Kamu mau apa? saya ada disini?" tanya Tomi.


"Saya hanya ingin, melihat wajahnya Kapten. Jujur bila melihat wajah Kapten, begitu sangat tenang, wajah Kapten yang teduh saya suka. Pertama kali, saya suka melihat Kapten saat Kapten di tangkap, dari situ saya ingin bawa Kapten pergi tapi tidak bisa. Hanya kesempatan terakhir, saat markas kami di serbu, dan semuanya di berantas habis. Boleh saya minta sesuatu?"


"Boleh, mungkin saja saya bisa penuhi keinginan terkahir kamu."


"Kapten mau, jadi kekasih saya untuk detik terakhir ini?" ucap Kemuning.


Tomi diam hanya menatap ke arah Kemuning, dengan wajahnya yang pucat, Kemuning tersenyum dengan sorot mata yang yang sudah sayu.


"Untuk itu, saya berat mengabulkannya. Karena saya telah memiliki istri, yang begitu sangat sayang dengan saya. Bahkan sekarang, dia ada di luar bersama Papah mertua saya."


"Nggak boleh ya Pasti, saya ingin merasakan memiliki kekasih, orang baik seperti Kapten. Merasakan mencintai dan memiliki orang yang saya sukai, walau hanya sebentar. Kalau saya memaksa, saya minta maaf. Hanya untuk sampai saya menutup mata, hanya itu."


"Maaf, saya tidak bisa." ucap Tomi.


"Tolong Kapten, agar saya bisa pergi dengan tenang, dan menjadi kenangan indah buat saya, kalau di dunia saya pernah memiliki seorang kekasih seperti Kapten."


"Kamu tahu pangkat saya sekarang Kapten dari siapa?"


"Saat saya di nyatakan sekarat, saya mulai meminta cari tahu. Dulu saya hanya tahu, kamu Tentara bernama Tomi. Dari seragam yang kamu kenakan, saya lebih suka panggil kamu Kapten."


"Saya akan temani kamu, saya tidak akan jauh dari kamu."


*****


"Pah, lama banget sih? ngapain saja didalam.' ucap Maudy kesal.


" Mana Papah tahu, memangnya Papah tahu." ucap Papah Hadi.


"Saya tidak tenang ini Pah, saya ingin masuk."


"Eh.. nggak boleh masuk, tunggu Tomi keluar kalau mau masuk."


"Lagian itu Napi, sedang ngobrol apa sih? sudah satu jam lebih. Apa nggak sadar ya, disini kita nunggu sampe jamuran."


"Dokter Imanuel." panggil Papah Hadi.


"Siap, ada apa?" tanya kembali dokter Imanuel.


"Apa darurat tidak bisa anak saya masuk?" ucap Papah Hadi.


"Dokter, suami saya di dalam. Sudah hampir satu jam lebih." ucap Maudy.


"Kan ada CCTV, apa kalian tidak lihat itu CCTV memperlihatkan Pak Tomi." tunjuk dokter Imanuel pada sebuah layar monitor.


"Ah.. dokter kenapa tidak bilang dari tadi." ucap Maudy langsung memperhatikan CCTV tersebut.


"Kata Papah juga apa, itu CCTV kamu bilang televisi biasa." ucap Papah Hadi yang pura - pura tahu dari tadi.

__ADS_1


Dokter Imanuel hanya tersenyum, sambil menggelengkan kepalanya. Maudy menatap layar monitor, menampilkan Tomi yang sedang mengobrol dengan Kemuning.


Maudy mengepalkan kedua tangannya, saat melihat perempuan tersebut memegang tangan Tomi.


"Tuh kan, ih... dia mau langsung mati apa." ucap Maudy kesal.


"Ada apa lagi?" tanya Papah Hadi.


"Tuh lihat, pegang tangan." jawab Maudy kesal.


"Ini boleh di biarkan." ucap Maudy langsung memaksa masuk kedalam kamar rawat Kemuning.


"Maudy, Maudy kamu jangan masuk." cegah Papah Hadi.


Braaaakkk


Maudy menendang pintu kamar rawat,hingga membuat kaget Tomi dan kemuning. Maudy dengan mata tajam menatap ke arah Tomi dan Kemuning.


"Siapa kamu?"tanya Kemuning


" Saya istrinya Kapten Tomi." jawab Maudy.


"Sayang, kenapa kamu tendang pintunya? kita bisa nggak pulang."ucap Tomi.


"Kenapa tidak bisa pulang?" tanya Maudy ketus.


"Abang gimana sih? nggak ingat apa istri sama Papah Mertua di luar nungguin. Apa Abang sengaja, buat kita berdua berjamur."


"Yank, Abang minta waktu dan pengertiannya. Dia sakit, minta ingin Abang temani. Kamu lihat kondisinya? dia sedang sakit parah."


"Terus? peduli apa? saudara bukan, musuh negara iya. Sudah pulang, sudah cukupkan ingin ketemu sama suami saya?" ucap Maudy pada Kemuning.


"Tolong ya, sebentar saja." ucap Kemuning.


"Suami saya, ada kesibukan lain. Lain waktu saja, nanti kesini lagi." ucap Maudy.


"Saya mencintai suami kamu, saya ingin jadi pacarnya walau hanya sebentar. Saya ingin saat terakhir menatap dunia, ada dia di samping saya."


Maudy menatap tajam ke arah Kemuning, dan berjalan mendekatinya. Dengan berkacak pinggang, Maudy menatap Kemuning yang terbaring lemah.


"Orang sakit, mau matinya saja banyak tingkah ya?"


"Maudy, kamu kenapa bicara begitu? nggak sopan." tegur Tomi.


"Bang, lagian ngapain sih? penjahat begini Abang kasihani. Maaf ya Mba, ini suami saya. Orang mau mati itu mintanya yang masuk akal, jangan minta yang aneh - aneh, malah tambah dosa loh."


"Maafkan saya." ucap Kemuning.


"Kamu itu masih untuk hukuman seumur hidup, bukan hukuman mati. Mending, kamu banyak doa, biar masuk surga. Dan ingat semasa hidup waktu masih jadi penjahat, tuh ratapi jangan minta suami orang jadi pacar. Kalau kamu tidak jadi mati gimana? enak saja."

__ADS_1


"Maafkan istri saya Kemuning." ucap Tomi.


"Saya yang minta maaf." ucap Kemuning.


"Bang pulang, jangan sampai dia mati kita yang nanti disalahkan." ucap Maudy langsung menarik paksa tangan Tomi.


****


"Nih totalnya ganti pintu kamar rumah sakit, yang tekor Papah juga." ucap Papah Hadi menyerahkan sebuah nota.


"Minta ganti sama Bang Tomi, kalau dia nggak cari penyakit Papah tidak ganti itu pintu."


"Yang cari penyakit siapa Yank? kamu pintu nggak salah malah kamu tendang." ucap Tomi.


"Ya ini gara - gara Abang, coba kalau Abang tidak cari mati. Itu pintu masih berdiri kokoh."


"Sudah, kalian jangan bahas masalah pintu terus, tadi maunya dia apa?" ucap Papah Hadi.


"Dia mau saya jadi pacarnya, disaat terakhir." ucap Tomi.


"Memangnya dia tahu, kalau mau meninggal dunia?"


"Saya kan tolak, karena saya hanya milik istri saya."


"Terus, di pegang tangannya kenapa diam saja?" tegur Maudy.


"Sudah Abang tolak, tapi dia minta mohon untuk terakhir kalinya." ucap Tomi.


"Terus, kalau mau cium untuk terakhir kalinya mau juga?"


"Ya nggak lah Yank."


"Penjahat aneh."


"Jadi kamu gimana dengan Napi itu?" tanya Papah Hadi.


"Mungkin saya akan kesana lagi, tapi bukan menjadi pacar. Soalnya dari di lihat secara medis, dia sudah parah. Kata dokter, turuti saja apa yang di minta asal dalam tahap wajar." ucap Tomi.


"Permintaan Napi yang aneh." ucap Maudy.


"Sayang, berbuat baik pada orang yang sedang mendekati maut, apa salahnya? asal tidak melebihi apa yang tidak diharuskan. Abang menolak untuk satu ini, Abang akan menuruti dia ingin Abang berdoa untuk dia, dan menemani dia sampai detik terakhir."


"Kalau dia sehat gimana?"


"Ya Alhamdulillah, berarti Abang membantu proses penyembuhan dia."


.


.

__ADS_1


__ADS_2