Kapten Tom

Kapten Tom
Belajar Masak


__ADS_3

"Alhamdulillah, akhirnya gol juga." ucap Tomi.


"Jelaslah kalian kan nggak salah, jadi pantas menang dalam kasus ini. Dari awal juga sudah bilang, Polisi katakan kalau kalian itu tidak salah. Dasar merekanya saja, kebanyakan duit jadi maju ke pengadilan pakai jasa pengacara. Uang terbuang itu, Papah juga waktu itu mau buang uang tapi kagak jadi, gara - gara si Alfa." ucap Papah Hadi.


Tomi melirik ke arah Maudy, saat Maudy menatap ke arah Papanya. Dan Papah Hadi, sadar putrinya mengeluarkan tanduk, dengan muka yang merah siap menerkam.


"Kenapa? mau ngajak ribut kamu sama Papah?" ucap Papah Hadi.


"Nggak Pah, nggak jadi." ucap Maudy.


"Ya sudah, Papah pulang. Hari ini terpaksa cuti, gara - gara masalah tidak bermutu." ucap Papah Hadi.


Tomi dan Maudy mencium punggung tangan Papah Hadi, dan mengantarnya hingga depan teras rumahnya.


****


"Bang capek." ucap Maudy.


"Mau Abang pijit?" tanya Tomi dan Maudy langsung menganggukkan kepalanya.


Tomi memijat kaki Maudy, sedangkan Maudy asik mengganti chanel TV. Tomi melihat istri kecilnya, dengan senyum bahagia. Kehidupan rumah tangganya, sudah mulai ada perubahan.


"Kenapa Bang? kok senyum - senyum gitu?" tanya Maudy.


"Abang nggak menyangka saja, kamu yang tadinya masih dalam perut, lahir bayi tumbuh hingga dewasa. Abang tahu segalanya, sampai kamu yang masih ingusan sekarang sudah besar dan cantik. Malah, sekarang jadi istri Abang, calon ibu dari anak Abang."


"Nggak menyangka ya Bang, akhirnya kita jadi satu juga."


"Iya sayang, Yank Abang kan sudah tua, kalau misal Abang yang meninggal duluan, kamu masih muda apa mau nikah lagi?"


"Abang bicara apa sih? jangan terlalu jauh. Kita akan menua bersama."


"Misal Yank, Abang kan misalnya."


"Saya akan fokus merawat anak Bang."


"Masa? sendiri itu tidak enak loh."


"Tergantung Bang, kalau setia cintanya besar seperti gunung Everest, mungkin beda lagi." ucap Maudy.


"Semoga kita, tidak hanya di dunia saja Yank, tapi hingga di kehidupan kedua nanti kita akan tetap sama - sama."


"Amin..!! "


****


"Maudy, ini Tante buatkan nasi uduk." ucap Regina.


"Makasih Tante, wah enak nih lauknya."


"Itu Tante bawakan dua porsi tapi dalam satu piring besar, kan banyak tuh kelihatannya."


"Enak ya kalau bisa masak."

__ADS_1


"Belajar masak, jangan suami terus yang masak."


"Heeeee.. iya Tante, menghidupkan kompor juga saya masih takut."


"Nggak akan meledak, kalau takut terus nggak akan bisa - bisa. Suami itu paling senang di layani, bukan melayani. Istri itu harus pandai, buat suami betah di rumah. Jangan pintar dalam urusan ranjang saja, tapi harus lebih pintar juga di hal lain."


"Bagi resep dong Tante."


"Sini Tante kasih bocoran, setiap pagi buatkan sarapan untuk suami, pulang dinas copotin sepatunya, terus siapkan pakaian gantinya. Setiap hari, dan tawarin tuh Bang capek tidak? pasti lah jawabnya capek, kamu pijat tuh dengan sentuhan - sentuhan kamu berikan. Dan penampilan harus selalu ok di depan suami, sekarang belum repot anak, nanti kalau sudah repot boro - boro bisa dandan cantik, tapi usahakan bisa mencuri waktu."


"Ide bagus juga Tante."


"Nggak harus itu, belajar masak, cara memasak nasi dan belajar buat makanan kesukaan suami kamu."


"Ok Tante."


******


Tomi datang melihat di atas meja makan penuh dengan sayuran, bahkan berserakan bungkus plastik. Asap mengepul di dapur, api yang menyala sangat besar, Tomi langsung mengecilkan api tersebut. Dan melihat panci isinya, berupa kepala kambing.


"Yank, kamu masak apa sih? ada kepala kambing."


"Abang sudah pulang, sini Bang saya gantikan seragam Abang." ucap Maudy, membantu melepaskan seragam yang di pakai oleh suaminya.


"Biar Abang sendiri, itu kamu beresi saja di dapur."


"Ok."


Tomi memperhatikan istrinya yang sedang di dapur, bunyi benda berjatuhan hingga suara pukulan keras terdengar, hingga luar.


"Kamu masak apa sih?"


"Sayur pedas kepala kambing."


"Merah menyala begini berapa kilo cabai?"


"Dua kilo cabai merah, satu kilo cabai rawit." ucap Maudy, yang membuat Tomi menelan ludah.


"Lagian ini resep dari siapa sih? sambal goreng kepala kambing. Yang ada itu sambal goreng kentang atau hati, bukan sambal goreng kepala kambing."


"Tenang saja Bang, di jamin enak."


"Kalau Abang coba, pasti ketagihan."


"Yang benar?"


"Benar Bang, kalau tidak percaya ya sudah. Tolong Bang bawa ke meja makan, saya bersihkan dapurnya dulu."


Tomi pun membawa satu panci besar berisi kepala kambing, yang sebelumnya merapikan meja makan dahulu.


"Taaaaarrrraaa nasi liwet." ucap Maudy.


Tomi melihat penampakan nasi liwet, dengan full ikan teri, petai cina dan cabe rawat. Tomi tersenyum miris melihatnya, sedangkan Maudy merasakan bangga, bahwa dirinya bisa memasak.

__ADS_1


"Abang coba ya, pasti rasanya enak."


"Kamu sedang tidak mau membunuh Abang pelan - pelan kan?"


"Ya kagak lah, ini saya sengaja belajar masak Bang, ternyata mudah ya sambil liat tutorialnya di sosmed."


"Iya, tapi Abang kenyang loh."


"Abang tahu dosa kan?"


"Iya, Abang makan."


"Nah gitu dong."


"Itu kambingnya tersenyum saja, sepertinya menertawakan Abang ya, kenapa kamu tidak suruh itu kambing tidak tersenyum terus sih?"


"Susah Bang, malah dia senyum terus."


Tomi dengan memejamkan kedua matanya, saat mencoba satu suap nasi liwet, rasa asin, pedas campur jadi satu, bahkan saat mencoba satu irisan daging kepala kambing rasanya seperti terbakar di lidah. Tomi sampai mencucurkan keringat, dan gatal di kepala.


Maudy pun lalu mengambil nasi dan irisan daging kepala kambing. Saat sudah masuk kedalam mulut, Maudy merasakan terasa nano - nano.


"Abang....!!! " teriak Maudy.


"kenapa?"


"Kok rasanya nggak enak...!! "


"Kamu sih, masak bahan satu pasar di masukan semua. Nih lidah Abang rasanya mati rasa."


"Abang kenapa tidak bilang jujur sih! kalau rasanya tidak enak."


"Kalau Abang jujur, kamu nanti marah, tidak bisa menghargai masakan istri. Terus Abang harus gimana? Abang serba salah loh."


Hiks.. hiks..


"Padahal niat hati, ingin belajar masak buat Abang. Kan Maudy tidak bisa masak, niat Maudy itu ingin masak buat Abang."


"Abang hargai sayang, kamu sudah bisa buat masakan begini, sudah suatu kebanggaan loh."


"Tapi rasanya tidak enak Bang, hiks.. hiks..."


"Walau rasa hancur, Abang sudah hargai usaha kamu. Nanti belajar lagi ya, jangan pernah mengeluh dalam belajar."


Hiks.. hiks..


"Tapi ini habisnya mahal Bang, pakai uang tabungannya Maudy, hiks... hiks.."


"Memang habis berapa?"


"Habis 2 juta, hiks.. hiks..!!"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2