
"Kamu sedang apa Maudy? makan dulu, itu keburu dingin nasi sama lauknya." ucap Ibu Rina.
"Ini loh nek, saya itu sedang menunggu kabar dari Bang Tomi. Ini anaknya, di dalam perut sudah meronta - ronta ingin dengar suara Ayahnya."
"Anak kamu di dalam perut, atau kamu yang ingin dengar suara bapaknya?"
"Ya saya nek, lagian udah 24 jam sejak keberangkatan, dia ini sudah sampai nek, kok belum juga kasih kabar. Itu orang, benar - benar deh jauh dari istri."
"Benar - benar kenapa Maudy? dia sampai sana boro - boro mau gimana - gimana. Datang - datang dia harus melapor, urus ini itu, beres - beres tempat tinggal."
"Bulan depan tuh liburan, satu bulan saya mau kesana."
"Terserah kamu saja, dulu ilfil sekarang bucin. Aneh punya cucu satu."
"Nenek bicara apa?"
"Kagak, itu sambal terasinya kurang pedas."
****
"Ya ampun, sampai lupa belum kasih kabar Maudy. Pasti dia marah nih, belum kasih kabar. Sampai banyak chat dan panggilan masuk, ah... ng hang kan ponselnya, gara - gara nyonya sampai pesan 2000 panggilan tak terjawab 3000, gimana ponsel nggak hang."ucap Tomi.
Tomi berjalan ke arah meja, ada sebuah telepon rumah. Dan Tomi langsung menghubungi istrinya, panggilan pun tersambung.
" Hallo."
"Hallo sayang."
"Abang, kemana saja sih? dari kemarin saya tunggu kabar dari Abang, chat tidak di baca, telepon tidak di angkat, telinga Abang tuli apa, sampai chat 2000 , panggilan tak terjawab 3000 kenapa tidak di angkat? Abang mau nakal disana ya? tunggu bulan depan, saya liburan semester, mau nyusul kesana."
"Sudah ngomelnya? gimana mau balas, ponsel sampai hang, gara - gara kamu kirim pesan sampai 2000 , panggilan tidak terjawab 3000.Ini juga pakai telepon rumah, mau hubungi kamu, malah ponselnya sekarat sama panas. Lagian Yank, Abang disini nggak akan nakal, se bejatnya Abang itu, masih ingat ada istri, walau kadang menyebalkan."
"Apa! tadi Abang bilang saya menyebalkan?"
"Bukan gitu maksudnya."
"Ah nyebelin pokoknya."
Tut...
Telepon pun dimatikan sepihak oleh Maudy, saat Tomi mencoba menghubunginya lagi, ponsel Maudy tidak aktif.
"Ya Allah, punya istri satu tidak banyak tidak apa, malah curiganya tingkat dewa. Gimana punya istri dua, bisa - bisa saya di tembak ditempat."
Tomi lalu menghubungi Kirana, karena rumah Kirana tidak jauh dari tempat tinggal Ibu Rita, panggilan pun langsung tersambung, dan terdengar suara Kirana yang seperti bangun tidur.
" Hallo Kirana."
"Ada apa Om?"
__ADS_1
"Kamu ke rumah Nenek dong, kasih ponsel kamu ke Maudy."
"Kenapa tidak telepon, di nomernya Maudy, atau Nenek saja Om. Kenapa harus saya, malas saya menyebrang jalannya."
"Ya ampun Kirana, rumah kamu itu hanya sepuluh langkah, tinggal menyebrang jalan saja. Tolonglah, kamu kasih nomernya, Om tidak bisa tidur, kalau Maudy marah sama Om."
"Bukan urusan saya ya Om, yang jelas saya malas keluar, telepon ke nenek saja.'
" Ya ampun, punya sepupu satu ini sama saja, seperti Maudy. Tolonglah, Om kasih kamu pulsa."
"Pulsa Kirana masih banyak."
"Transfer uang deh."
"Berapa?"
"100 ribu."
"Minta sama Ayah juga di kasih 100 ribu."
"150 ribu."
"500 ribu, kalau mau. Kalau tidak mau yaudah."
"Ok.deal, kirim nomer rekening kamu."
Telepon pun terputus, Tomi langsung mentransfer uang pada Kirana. Hingga 30 menit tidak ada telepon dari Kirana.
"Itu anak, bohong ya. Sudah tekor 500 ribu, malah tidak telepon - telepon lagi. Awas saja kamu Kirana, tak laporin sama Ayah kamu."
****
"Sudah biarin saja, biar dia menunggu. Rasanya menunggu itu membosankan dan mengesalkan, sekarang gantian." ucap Maudy,bersama Kirana yang sedang makan besar dengan menggunakan uang dari Tomi.
"Tapi kamu tanggung jawab ya, kalau sampai tuh Om Tomi marah - marah, ini salah kamu. Kalau saya itu amanah, tapi kamu yang tidak amanah." ucap Kirana, sambil makan ramen pesanannya.
"Tenang saja, aman." ucap Maudy.
"Setiap hari saja, suami kamu transfer ke saya. Lumayan loh, bisa buat makan - makan begini."
"Tapi sepertinya, tidak akan lagi deh. Karena sekarang, dia sudah tidak percaya lagi sama kamu."
"Ya gara - gara kamu, bukan salah saya."
"Aduh Kirana."
"Kenapa?" tanya Kirana panik, saat melihat Maudy memegang perutnya.
"Perut saya mules." jawab Maudy.
__ADS_1
"Nah ini karna dari suami kamu, dia sumpah serapahin saya, kamu yang kena imbasnya."
"Aduh sumpah, sakit banget."
Broooootttttt.
"Ah.. lega."
"Ih... jorok kamu, malah kentut." ucap Kirana sambil menutup hidungnya.
"Aduh Kirana."
"Apa lagi sih?"
"Kayaknya bablas deh kentutnya."
"Yah.. terus gimana dong? kita kan kesini naik taksi online. Mana ada yang mau, bawa penumpang berak di celana."
"Ah.. tolongin dong." ucap Maudy.
"Karma tahu, ah.. bikin repot saja."
*****
"Bang, tolongin dong." rengek Maudy.
"Yank, kamu itu gimana sih? masa minta tolong sama Abang. Kamu tinggal telepon Ayahnya Kirana kek, atau telepon siapa suruh antar pulang. Lagian kamu itu, kentut bisa bareng sama BAB sih, seharusnya remote kentut kamu itu di atur. "
"Ah.. Abang, Kirana tidak bisa hubungi kedua orang tuanya, kan sedang keluar kota."
"Abang tidak mau menolong, giliran berak di celana hubungi, giliran tadi matiin. Abang tidak bisa menolong, karena Abang bukan superman yang langsung datang bawa kamu pulang, dan tidak punya pintu doraemon, yang ada juga pintu rumah."
Tut...
"Yah kok dimatiin sih." ucap Maudy kesal.
"Kita jalan kaki." ucap Kirana.
"Kamu tidak kasihan sama wanita hamil."
"Hanya 2 kilo, hitung - hitung olahraga. Kalau tidak berak di celana sih, kita naik taksi online."
"Yasudah, jalan."
.
.
.
__ADS_1