
Usia kandungan Maudy memasuki 9 bulan, Maudy semakin merasa cepat capek, bila terus berdiri atau berjalan. Sehingga sehari - harinya, hanya duduk sambil melihat televisi.
"Yank, Abang sekarang pulang malam. Nanti duluan tidur saja, jangan nunggu Abang. Nanti kunci saja pintunya, Abang bawa kunci." ucap Tomi sambil membelai rambut Maudy.
"Sama siapa?"
"Sama teman, kalau kenapa - napa langsung hubungi Abang."
"Bang, seperti sering buang air kecil."
"Kan sudah waktunya bulan sekarang, makanya sering ingin buang air kecil."
"Iya, seperti basah terus."
"Basah gimana?"
"Sudah ganti celana beberapa kali."
"Sejak kapan?"
"Sejak shubuh."
"Ya Allah, kamu kenapa baru bilang. Jangan sampai itu air ketuban sudah pecah."
"Masa sih Bang."
"Yaudah terpaksa Abang harus tidak ikut, kita ke rumah sakit sekarang."
"Tapi ini buang air kecil Bang."
"Tapi seperti orang ngompol kan?"
Maudy menganggukkan kepalanya, dan Tomi langsung masuk kedalam kamar, dan mengambil tas perlengkapan bayi dan Maudy.
"Itu buat apa?"tanya Maudy sambil menunjuk ke arah tas.
" Ke rumah sakit, anak kita harus segera di lahirkan."
"Tapi saya tidak mulas Bang."
"Ketuban nya sudah pecah, anak kita dalam bahaya kalau sampai air ketuban kering atau minum air ketubannya."
"Ayo Bang, anak kita harus di keluarkan."
*****
Tomi sangat panik, tidak dengan Maudy yang santai. Saat dokter sedang USG, Maudy hanya tersenyum ke arah layar monitor sambil melihat bayinya.
"Ketubannya sudah pecah ya, Alhamdulillah anaknya sehat, tapi harus segera lahir ini. Tapi posisi bayi sungsang, jadi harus cesar."ucap dokter.
" Cesar dok!" ucap Maudy kaget.
"Ya bu, posisi bayi sungsang. Kalau untuk normal tidak memungkinkan, apalagi ketuban sudah pecah."
"Lakukan dok, saya akan tanda tangani untuk persetujuan operasi cesar nya."
__ADS_1
"Baik Pak, kalau begitu saya siapkan semuanya, dan Bapak silahkan ke bagian administrasi untuk segera mengurus administrasinya."
"Baik dok."
"Bang, saya takut."
"Nggak apa - apa sayang, tidak sakit kok kamu akan di bius lokal, demi anak kita."
"Bang."
"Bismillah."
*****
"Jadi Maudy melahirkan hari ini?" ucap Papah Hadi.
"Iya Pah, sekarang Maudy sudah berada di ruang operasi." ucap Tomi dari seberang.
"Kalau begitu, Papah besok kesana sama nenek. Nanti sering berkabar saja, jangan putus komunikasi."
"Baik Pah, kalau begitu saya mau kesana lagi. Takut sudah selesai operasinya, soalnya saya keluar dulu."
"Iya cepat kabari."
"Maudy melahirkan?" tanya Ibu Rita.
"Benar Bu, besok kita berangkat kesana." jawab Papah Hadi.
"Kalau begitu, ibu siapkan pakaian untuk besok. Kita naik pesawat saja, biar cepat jangan kapal laut."
****
Terdengar suara tangisan bayi, Tomi langsung berjalan mendekat ke arah pintu ruang operasi. Pintu pun terbuka, dokter tersenyum pada Tomi, dan seorang suster menggendong seorang bayi mungil yang lucu.
"Selamat Pak, anak Bapak perempuan."
"Alhamdulillah ya Allah." ucap Tomi langsung menggendong putri pertamanya.
"Alhamdulillah nak, kamu akhirnya lahir juga. Dan istri saya bagaimana?" ucap Tomi kembali.
"Alhamdulillah, istri Bapak sekarang mau di bawa ke kamar rawatnya. Tubuhnya masih dalam pengaruh obat bius, kalau sudah hilang pasti akan ada rasa berbeda."
"Iya dok makasih."
*****
"Abang."
"Sayang, lihat anak kita." ucap Tomi sambil menunjukkan putri pertama mereka.
"Cantik sekali Bang, lucu." ucap Maudy sambil membelai pipinya.
"Makasih sayang, makasih ya."
"Saya tidak menyangka Bang, saya jadi seorang ibu."
__ADS_1
"Sama Abang juga, jadi seorang Ayah. Alhamdulillah sayang, rumah tangga kita lengkap. Ada anak, yang akan selalu mewarnai hari - hari kita."
"Iya Bang, sayang semoga kamu menjadi anak yang berbakti sama orang tua, dan menjadi anak yang sholehah." ucap Maudy.
"Amin!! " ucap Tomi.
"Besok, Papah sama Nenek kesini."
"Sekarang sudah di kasih tahu? kalau sudah lahir cucunya?"
"Abang tadi chat, dan belum di baca."
****
"Bu, Alhamdulillah sudah lahir perempuan." ucap Papah Hadi setelah membaca pesan dari Tomi.
"Alhamdulillah, perempuan Hadi. Namanya siapa?"ucap Ibu Rita.
"Belum di kasih nama."
"Aduh, Ibu ingin cepat besok. Biar bisa lihat cucu buyut, sudah nggak sabar."
"Sabar Bu, 8 jam lagi."
*****
Papah Hadi dan Ibu Rita sudah datang, mereka langsung ke rumah sakit. Ibu Rita menggendong cucu buyutnya, bayi mungil yang masih berwarna merah itu tampak tertidur pulas.
"Wajahnya seperti Tomi, tidak ada yang di buang. Hanya bibirnya saja, seperti Maudy." ucap Papah Hadi.
"Eh namanya siapa?" tanya Ibu Rita.
"Andini Maula Tomiko." jawab Tomi.
"Panggilnya Maula." ucap Maudy.
"Nama yang cantik, seperti kamu." ucap Ibu Rita.
Maudy dan Tomi tersenyum bahagia, saat melihat kebahagiaannya begitu terasa lengkap.
"Makasih sayang, Abang tidak bisa mengungkapkannya."
"Saya juga makasih, Abang yang sudah sabar, menghadapi istri seperti saya. Dengan lahirnya Maula, saya akan belajar menjadi lebih dewasa lagi."
"Kita akan sama - sama, merawat dan mendidik Maula, hingga menjadi pribadi yang baik, dan menjadi anak yang berguna bagi nusa dan bangsa."
"Semoga, rumah tangga kita, bahagia selalu hingga akhir waktu."
"Amin!! "
.
.
.
__ADS_1