Kapten Tom

Kapten Tom
Positif


__ADS_3

Hoek.. hoek...


"Ya Allah Maudy, kamu salah makan ya? atau masuk angin." ucap Kirana sambil memijat tengkuk leher Maudy.


Hoek.. hoek..


"Sumpah ini perut nggak enak banget." ucap Maudy.


Maudy membasuh wajahnya, dan melihat ke arah cermin. Wajah yang terlihat lemas, dan sedikit pucat. Biar terlihat cerah dan segar, Maudy memoles kembali wajahnya.


"Ada satu jam mata kuliah lagi, kamu main ijin atau lanjut?"


"Ijin saja, pulang ke rumah nenek. Pulang ke rumah sendiri percuma, Bang Tomi masih dinas."


"Mau di antar?"


"Ribet lah, kamu bolak balik lagi."


"Nggak apa - apa, saya ikut ijin."


"Ijin apa?"


"Nganter kamu pulang."


"Dasar." ucap Maudy tersenyum.


*****


"Nenek buatkan minuman buat kamu ya? biar tidak enek." ucap Ibu Rita.


"Nggak Nek, mau tidur." ucap Maudy yang sudah membaringkan tubuhnya.


"Kamu katanya mual? pusing tidak?"


"Sekarang agak berat."


"Mau di kerok?"


"Nggak ah, nggak biasa di kerok."


"Atau jangan - jangan kamu hamil ya?"


"Ah.. hamil Nek! " ucap Maudy langsung membuka kedua matanya.


"Iya, kamu kan sudah punya suami, tidur sama - sama. Barangkali hamil, kamu merasa telat nggak?"


Maudy mengingatnya, dan mengecek tanggal di aplikasi menstruasi, dan ternyata sudah terlewat dari tanggal.


"Telat dua minggu Nek."


"Iya, jangan - jangan kamu hamil. Coba deh kamu cek, atau nanti minta Tante Novi kesini, biar cek kandungan kamu. Dia kan bidan, biar nggak penasaran. "


"Boleh nek."


*****


"Bunda Maudy hamil ya?" tanya Kirana pada Bundanya, yang merupakan adik dari Papah Hadi.


"Bunda kan belum tahu, Maudy hamil atau tidak. Kamu cek, sama alat ini." ucap Ibu Novi sambil menyerahkan sebuah testpack pada Maudy.


"Ini pakainya gimana?" tanya Maudy.


"Cek Urine kamu, masukan kedalam cawan itu." jawab Ibu Novi.


"Terus?"


"Alatnya celupin, kalau garis warna merah satu artinya negatif kamu tidak hamil, kalau warna merahnya garis dua itu artinya positif kamu hamil."


"Iya paham." ucap Intan langsung masuk kedalam kamar mandi.


"Bu, saya mikirnya gini, kalau hamil anak masih belum mengerti apa - apa, itu gimana ya?"


"Ya kalau sudah punya anak mah, dia pasti paham."


"Cara pakai testpack saja tidak tahu, padahal kebanyakan umur segitu mengerti lah."


"Kamu seperti tidak tahu Abang kamu, anak kamu kemana - mana di kawal. Makannya, dapat si Tomi. Ponakan kamu sama suami kamu, lebih muda suami kamu."


"Sudah jodohnya bu."

__ADS_1


Maudy keluar, sambil menyerahkan testpack pada Tantenya. Ibu Novi langsung melihat hasilnya, begitu juga Ibu Rita langsung tersenyum.


"Gimana?" tanya Maudy.


"Kamu sudah tahu kan?" tanya kembali Ibu Novi.


"Garis dua." jawab Maudy.


"Selamat cucu nenek." peluk Ibu Rita.


"Selamat sayang." ucap Ibu Novi.


"Aaaaaaaa saya hamil!!! " ucap Maudy senang.


"Yeeeeeee.. ada anggota baru." ucap Kirana.


"Ingat, kamu itu sekarang sedang hamil. Jangan sering capek - capek, jangan olahraga yang berat dulu takut nanti kenapa - napa sama janin kamu."


"Siap Tante."


****


"Abang....!!! " teriak Maudy sambil berlari dan langsung Tomi menangkap Maudy, kini Maudy gendong ala koala.


"Kenapa sih? main teriak - teriak terus."


"Ada kabar bahagia?"


"Kabar bahagia apa?"


"Tebak apa coba?"


" Nggak mau tebak, malas main tebak - tebakannya."


"Nggak asik."


Tomi menurunkan tubuh Maudy, dan mereka berjalan ke arah sofa. Ibu Rita tersenyum, saat melihat cucu dan cucu menantunya.


"Bang, tebak dong."


"Malas ah, Abang malas main tebak - tebakannya."


"Apa sih?"


"Tutup mata dulu."


"Ok, Abang tutup mata." ucap Tomi dengan menutup kedua matanya.


"Taraaaaa...!! " ucap Maudy sambil menunjukkan testpack pada Tomi.


Tomi mempertajam penjelasannya, lalu mengambilnya dari tangan Maudy. Sebuah garis dua warna merah, terukir sebuah senyuman pada Maudy.


"I - ini punya kamu sayang?"


"Iyalah, ini punya saya Bang."


"Alhamdulillah ya Allah." ucap Tomi memeluk tubuh Maudy.


"Alhamdulillah ya Allah, Abang akan jadi Ayah, kita jadi orang tua sayang."


"Iya Bang, didalam perut Maudy. Ada calon anak kita, saya akan jadi ibu."


"Abang senang dengarnya."


****


"Alhamdulillah, Papah mau jadi kakek." ucap Papah Hadi, setelah pulang dari Ibu Rita, keduanya mampir ke rumah Papah Hadi.


"Maudy nggak menyangka Pah, bahkan seperti mimpi kalau Maudy mau jadi seorang ibu." ucap Maudy.


"Kamu akan merasakan, bagaimana nanti menjadi orang tua. Dan kamu akan merasakan, seperti Almarhumah mamah kamu saat mengandung kamu itu bagaimana perjuangannya."


"Maudy sudah merasakannya Pah." ucap Maudy.


"Tomi, ingat. Istri kamu jangan sampai kerja yang berat - berat, karena ada calon cucu Papah."


"Siap Pah, Tomi akan menjadi suami siaga untuk anak Papah." ucap Tomi.


"Abang tidak pernah kasih yang berat - berat Pah, bahkan seringnya pekerjaan rumah Bang Tomi yang mengerjakan."

__ADS_1


"Terus kamu kerjanya ngapain?" tanya Papah Hadi.


"Kerjanya, makan tidur." jawab Maudy.


"Astagfirullah, mulai sekarang berubah sikap kamu, agar lebih dewasa sedikit."


*****


Hoek... hoek...


Maudy kembali memuntahkan isi perutnya, saat sedang tidur nyenyak, maudy mual. Tomi bangun saat mendengar istrinya di kamar mandi, sedang muntah langsung membantu memijat tengkuk lehernya.


"Bang, mual." rengek Maudy.


"Namanya juga sedang hamil Yank, kebanyakan begitu."


"Capek muntah terus."


"Wajar, itu nikmatnya ketika hamil. Jangan suka mengeluh ya, ini ibarat bumbu."ucap Tomi.


****


"Selamat ya, kamu jadi seorang ibu." ucap Susanti.


"Makasih." ucap Maudy.


"Eh kasus Axel gimana?" tanya Susanti.


"Belum ada panggilan tuh, kalau ada siap datang, kalau nggak yaudah."jawab Maudy.


" Heran ya sama orang tuanya, sudah tahu anaknya yang salah, malah mau perpanjang kasusnya, merugikan waktu."


"Biarkan saja, yang rugi waktunya mereka, kalau saya sih sama suami, tidak rugi apa - apa. Karena dari keputusan awal saja sudah jelas, jadi ngapain harus sampai pengadilan. Hakim juga sebelum ketuk palu, pelajari kasusnya pasti tertawa."


"Ladenin saja, sampai mana." ucap Susanti.


"Iya kita ladenin."


****


"Nih mangga mudanya."


"Makasih Bang." ucap Maudy sambil makan, mangga muda yang di ambil dari pohon belakang rumah.


"Sama - sama sayang, itu apa tidak asam?" ucap Tomi.


"Enak kok, apalagi sambal rujaknya yang pedas begini. Abang mau nggak?"


"Nggak aku, pedas banget itu. Abang nggak mau sakit perut."


"Yaudah."


"Awas nanti kalau sakit perut."


Tok.. Tok..


Tomi langsung berjalan ke arah pintu, saat mendengar suara ketukan. Saat di buka, salah satu anggota menyerahkan sebuah amplop cokelat.


"Makasih ya. "


"Sama - sama Kapten."


Tomi melihat undangan dari pengadilan negeri, dan langsung memberikan pada Maudy.


"Pengadilan!! "


"Iya, nama kamu dan Abang."


"Gimana Bang?"


"Ya hadir, sebagai warga yang taat, harus hadir tidak boleh mangkir." ucap Tomi.


"Kita pakai pengacara juga?" tanya Maudy.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2