
Rapat Komisi Etika rumah sakit yang dilaksanakan untuk memutuskan pencabutan ventilator Bella berlangsung sesuai harapan Arletta.
"Tekanan darah Bu Bella sudah sejak kemarin naik turun, oksimeter serebralnya jatuh dan EEG.nya negatif." Arletta menjelaskan kondisi Bella kepada anggota komisi etika rumah sakit CMC.
Dia memberi penjelasan yang memang mendukung untuk melepas ventilator Bella.
Seluruh anggota komisi etika rumah sakit mempertimbangkan penjelasan Arletta dan memutuskan bahwa memang lebih baik untuk melepas ventilator Bella karena jika tidak dilepaspun itu bukan memperpanjang hidupnya, tetapi penderitaannya.
Andi yang harus menyetujui pelaksaan keputusan itu bersandiwara sedih sebelum menyetujui pelepasan ventilator Bella. Proses pengurusan jasad Bella berlangsung singkat, jasadanya hanya disemayamkan satu hari di rumah duka sebelum di kremasi, tamu yang datang hanyalah rekan-rekan Andi di rumah sakit dan PT. Chemical.
~
Selama sebulan setelah meninggalnya Bella, Andi memposisikan dirinya dalam masa berkabung didepan rekan-rekan kerjanya. Di lain waktu dia juga banyak menghabiskan waktu dengan Arletta, Delon dan Crystal.
"Lon, lu gak apa-apa gue sering ikut kalian jalan gini?" Tanya Andi suatu kali ketika mereka sedang makan malam di restaurant sebuah mall pada akhir pekan.
"Ya gak apa-apa Ndi, malah makasih lu gak ninggalin Arletta dan Crystal karena kehadiran gue. Arletta udah nganggap lu kaya sodaranya Ndi, Crystal juga deket banget sama lu." Jawab Delon tulus. "Gue gak mau mereka kehilangan sosok yang selama ini udah ada buat mereka ketika mereka susah dan gue gak ada." Tambah Delon.
"Boleh gue nanya satu hal ke lu?" Tanya Andi yang ingin menanyakan suatu kepastian dari Delon.
__ADS_1
"Apa?"
"Lu kali ini bener-bener mencintai Arletta kan? Lu gak akan melakukan kesalahan yang sama lagi kan?" Tanya Andi menuntut kepastian. "Lu bakal menyayangi Arletta dan Crystal apapun yang terjadi? Maaf sebelumnya gue tau ini bukan urusan gue, gue mungkin gak ada hak buat nanya kaya gini sama lu. Tapi kalo boleh jujur sebenernya gue juga sayang sama Arletta dan Crystal, tapi gue lebih bahagia kalo ngeliat mereka bahagia dan gue tau kebahagiaan mereka ada pada lu."
"Makasih Ndi lu udah jujur soal perasaan lu ke Arletta." Jawab Delon tersenyum mendengar pengakuan Andi.
"Arletta memang bukan perempuan yang gue cinta, tapi gue tau hanya dia satu-satunya perempuan yang bisa nerima apa adanya gue. Gue sekarang sadar bahwa gue juga sayang sama dia, terutama gue sayang banget sama Crystal Ndi. Dia malaikat kecil yang gak pernah gue impikan, yang Tuhan kasih buat gue lewat Arletta."
Delon tertawa melihat Andi yang masih menatapnya dengan tatapan penuh tanya.
"Hahaha. Tenang aja Ndi, gue janji gak akan nyia-nyiain pengorbanan lu." Lanjut Delon.
"Thank's, gue lega ngedengernya." Kata Andi berterimakasih. "Jadi kapan lu dan Arletta mau meresmikan hubungan kalian ke pernikahan?"
"Mami dan papa mau nikah?" Tanya Crystal dengan polos.
"Hahahaha segera sayang, kamu setuju kan?" Tanya Delon kepada anaknya. Dia melirik Arletta dan melihat wajah Arletta yang memerah.
"Hore-Hore, kapan papa?" Tanya Crystal gembira.
__ADS_1
"Udah-udah ayo lanjut makan." Kata Arletta mengalihkan pembicaraan.
Delon dan Andi tertawa.
"Ih mami malu-malu." Crystal tertawa mengejek maminya. Ya Crystal memang anak yang jahil.
"Bukan Crystal, kan kita masih mau jalan-jalan jadi hayu makan biar gak kemalaman." Jelas Arletta gemas kepada putrinya itu.
"Gapapa dong Let, kalian kan memang udah sepakat mau menikah lagi." Kata Andi yang tidak mau kalah menggoda sahabatnya. "Bagaimana kalau kalian segera menentukan tanggal?" Lanjut Andi yang diiringi anggukan Crystal dan Delon.
Arletta menarik nafas sambil tersenyum.
"Ya silahkan, wanita mah mengikuti pria." Tantangnya kepada Delon.
"Oke! Sekarang bulan Januari, cukup bagi kita menyiapkan pernikahan dalam waktu sembilan bulan kan?" Delon menjawab tantangan Arletta.
"Maksudmu?"
"20 Oktober, bagaimana Crys?" Tanya Delon kepada anaknya. "Kita rayakan ulang tahunmu dan pernikahan papa, mami."
__ADS_1
"Asyikkkkkkk makasih papa, Crystal setuju." Crystal beranjak dari kursinya dan memeluk Delon.
Arletta dan Andi tersenyum.