Karena Aku Mencintaimu

Karena Aku Mencintaimu
Chapter 44


__ADS_3

Sesuai dengan saran dari Hari, Crystal akhirnya memutuskan untuk tidak memberi tahukan kedua orang tuanya soal Thalia dan Dika sebelum mereka benar-benar yakin bahwa Dika membawa bahaya untuk Thalia. Hal itu mereka sepakati dengan pertimbangan tidak mau membuat kedua orang tua Crystal khawatir untuk hal yang belum pasti, terutama papanya Crystal yang sudah tua.


"Kita selidiki dulu aja deh Ta, maksud gue ya kita lebih perhatiin Thalia. Kalau ternyata Dika orang baik dan gak ngebahayain Thalia, ya kita biarin aja." Saran Hari. "Emang sih kesannya kaya Fedofil, tapi kalau gue hitung dari umur, Dika kelas satu SMA berarti dia paling tua juga umur enam belas tahun, adik lu umur sepuluh tahun kan ya? Cuma beda enam tahun Ta, lagian kalau kita ngomong ke orang tua lu juga malah bikin khawatir mereka, belum tentu juga ada apa-apa."


"Iya sih tapi gak usah ngomongin statistika umur juga kali!" Tukas Crystal kesal, pasalnya hal itu membuat dia teringat akan papanya yang memiliki perbedaan usia lima belas tahun dengan maminya, walau Crystal tau kalau Hari emang gak ada maksud kesana.


"Upss.. Iya, iya maaf. Gak maksud gue Ta, gak inget kesana malahan." Ucap Hari yang merasa gak enak, tapi beneran sih dia gak kepikiran ke sana. "Udah lu tenang aja, gue bakal nemenin lu ngawasin Thalia! Sana gih pulang udah malem, gue juga mau pulang." Ucap Hari menepuk bahu Crystal sambil menampilkan senyum yang paling menawan di wajahnya.


"Iya gue tau kok, bay the way makasih ya udah mau nemenin dan bantuin gue Har. Lu emang my best friend yang selalu ada buat gue, gue pulang ya." Pamit Crystal membalas senyuman Hari.


"Iya hati-hati."

__ADS_1


"Lu juga!" Kata Crystal sambil berlalu.


"Huftt.. Ternyata sampai sekarang gue cuma lu anggap best friend doang Ta. Mungkin emang selamanya gue cuma berarti temen buat lu." Gumam Hari kecewa sambil membereskan barang-barangnya sebelum pulang.


~


"Crystal kamu kenapa sayang? Ada masalah di rumah sakit?" Tanya Arletta kepada putrinya yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu, disaat mereka sedang makan malam bersama.


"Makanan kamu belum habis sayang." Tegur Delon.


"Udah kenyang pa." Jawab Crystal tersenyum ke papanya lalu beranjak dari meja makan.

__ADS_1


Delon dan Arletta saling memandang, lalu mereka sama-sama melihat ke arah Thalia yang masih menundukkan wajahnya dan dari situ mereka menyimpulkan bahwa Thalia melakukan kesalahan yang membuat Crystal marah . Delon menarik nafas panjang, sungguh sangat melelahkan diusianya yang sudah menginjak 61 tahun ini dia masih harus sering menyaksikan keributan antara kedua putrinya yang memiliki perbedaan usia cukup jauh itu.


"Papa nyusul Crystal dulu ke kamarnya ya ma." Kata Delon yang dianggukki oleh Arletta. "Thalia, makanan kamu habiskan!" Titahnya yang dijawab dengan anggukkan oleh Thalia.


"Kamu kenapa lagi Tha?" Tanya Arletta pelan-pelan kepada putri bungsunya yang sudah mulai memakan makanannya kembali.


"Thalia bikin kaka kesal mi, tadi sekolah dipulangin cepet soalnya guru-guru ada rapat terus karena nunggu kaka lama Thalia pergi ke mini market depan sekolah beli ice cream." Jawab Thalia jujur tanpa memberitahukan dengan siapa dia pergi, karena sepulang kakanya dari rumah sakit Crystal telah memberitahunya supaya jangan menceritakan soal Dika kepada orang tuanya, supaya orang tuanya terutama papanya yang sudah tua tidak khawatir. "Terus kaka panik soalnya pas dia datang Crystal gak ada." Lanjutnya sambil kembali menundukkan kepala, Arletta tersenyum mendekati putri bungsunya dan membelai sayang kepala putrinya itu.


"Iyalah kaka panik, kaka takut kamu kenapa-kenapa. Lain kali jangan diulangi lagi ya? Kalau mau jajan di kantin aja, kamu udah minta maaf ke kaka?"


"Udah mi, tapi kaka masih diemin Thalia." Adunya dengan nada sedih.

__ADS_1


"Biarin aja, kaka masih kesal. Nanti juga biasa lagi, kamunya deketin aja." Saran Arletta diangguki Thalia.


__ADS_2