
"Pa, aku ingin membicarakan sesuatu kepadamu."
Arletta dan Delon sedang berduaan di kamar mereka setelah menidurkan Crystal. Sudah dua hari berlalu semenjak resepsi pernikahan mereka.
"Apa mi?" Tanya delon sambil mengelus-elus rambut Arletta yang ada dipelukannya.
"Jika aku berbuat suatu kesalahan yang sangat besar, apakah kau akan meninggalkanku?" Tanya Arletta menatap Delon.
Delon terdiam sesaat, lalu dia tersenyum.
"Katakanlah, aku tidak akan meninggalkanmu. Kesalahanku kepadamu yang sangat besarpun tidak membuatmu membenciku." Jawab Delon sambil mengenggam tangan Arletta.
"Apakah papa sudah tahu?" Tanya Arletta curiga, ketika melihat respon suaminya itu.
"Soal Bella?"
"Hmm."
"Ya aku sudah mengetahuinya. Dari awal aku sudah curiga karena kamu adalah direktur di rumah sakit CMC yang merupakan kepanjangan dari Chemical Medical Center. Tapi waktu itu aku tidak mau membahasnya denganmu, karena saat itu aku memang sudah tidak perduli dengan Bella dan aku lebih ingin untuk mempertahankan pekerjaanku serta mencoba untuk memperbaiki hubungan kita."
"Andi yang memberitahumu?" Tanya Arletta.
__ADS_1
Delon menggeleng.
"Novi. Dia merasa tidak adil bagi Andi karena kau lebih memilihku dibanding Andi yang telah berkorban begitu banyak untukmu."
Arletta terkejut mendengarnya.
"Novi tau?" Tanya Arletta kaget. Dia tidak pernah menyangka bahwa sekertarisnya itu mengetahui perbuatan Andi dan dirinya terhadap Bella.
"Dia tahu bahwa Andi telah membuat Bella koma, tapi dia tahunya bahwa Andi melakukan itu kepada Bella untukmu." Jelas Delon. "Aku sudah mengkonfirmasikan kebenarannya kepada Andi. Andi sudah menceritakan semuanya kepadaku. Sepertinya dia juga sudah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Novi, bagaimana paman dan papanya bisa mengalami kecelakaan hingga meninggal." Lanjut Delon.
"Maafkan aku, aku telah meminta Delon melepas ventilator Bella." Ucap Arletta sungguh-sungguh. "Awalnya aku takut kau akan membenciku dan Andi atas apa yang kami lakukan selama ini kepada Bella, jika suatu saat kau mengetahuinya."
"Lalu kenapa sekarang kau menceritakannya kepadaku?" Goda Delon.
"Apa yang Andi dan kau lakukan sehingga membuat Bella berada dalam kondisi koma seperti itu memang jahat." Ucap Delon dengan tegas sambil melepas rangkulannya kepada Arletta.
Dia ingin menjahili istrinya itu.
Arletta yang ketakutan dengan reaksi Delon matanya mulai berkaca-kaca.
Delon tertawa melihat ekspresi Arletta yang berkaca-kaca seperti itu.
__ADS_1
"Kenapa? Mi, Bella bagaimanapun juga memang tidak akan bisa kembali hidup normal." Seru Andi menghibur istrinya. "Papa bercanda. Papa gak menyalahkan mami atas permintaan mami untuk mencabut ventilatornya Bella. Yang salah itu sebenarnya adalah keputusan awal Andi yang mami dukung, tapi ya sudah papa gak mau peduliin itu."
"Papa marah pada Andi?"
"Gak, papa mengerti alasan kalian melakukan itu." Delon lagi-lagi tersenyum menanggapi pertanyaan istrinya.
"Yang terpenting sekarang kita semua belajar dari kesalahan kita di masa lalu dan tidak mengulanginya lagi.
"Terimakasih pa." Arletta memeluk Delon.
"Nah sekarang giliran papa bertanya. Apakah mami marah kepada Novi?" Tanya Delon penasaran.
"Gak lah. Mami malah berterimakasih dia telah mewakili mami duluan untuk jujur ke papa." Jawab Arletta sungguh-sungguh.
"Tapi sebenarnya ada sesuatu yang mengusik pikiran mami, darimana Novi bisa tahu?"
"Maksudnya?" Tanya Delon.
"Andi sudah membuat Bella seperti itu jauh sebelum Novi bekerja denganku. Makanya aku bingung kenapa dia bisa tahu." Jelas Arletta.
"Hmm.. Entahlah, lebih baik kita lupakan saja masalah itu! Sekarang kita hanya perlu fokus merawat dan membahagiakan Crystal."
__ADS_1
Arletta mengangguk tersenyum, tapi dalam hatinya dia tidak bisa tenang.
Sepertinya ada hal yang dia dan Andi tidak ketahui tentang Novi.