
"Ada apa Nov?" Tanya Arletta di balik telepon.
Arletta yang baru bangun dari tidurnya dan memeriksa teleponnya kaget melihat banyak missed call dari Novi.
"Mba, Andi mba." Seru Novi sambil menangis.
"Kenapa sama Andi, Nov?"
"Dia kecelakaan!" Kata Novi sambil menangis tersedu-sedu.
"Hah? Gimana ceritanya?" Tanya Arletta kaget.
Delon yang mendengar percakapan mereka langsung ikut bertanya ada apa. Arletta menloudspeakerkan handphonenya.
"Andi ketabrak mobil mba dan sekarang kondisinya kritis."
Delon dan Crystal yang mendengar hal itu terkejut, Crystal menangis sejadi-jadinya.
"Paapaa uncle Ndi." Crystal menangis sejadi-jadinya, sambil memeluk papanya.
Delon menenangkan putrinya, mengajaknya keluar untuk jalan-jalan. Sedangkan Arletta melanjutkan percakapannya dengan Novi.
"Nov maaf kepotong, saya harus bujuk Crystal dulu supaya mau ikut Delon ke luar."
"Maaf ganggu liburan mba dan keluarga, saya ketakutan. Sekarang Andi sedang berada di ruang operasi, katanya ada pendarahan di otaknya."
__ADS_1
"Siapa dokter penanggung jawabnya?"
"Dokter Samuel mba."
"Suruh dia telepon saya kalau udah selesai operasi ya, saya akan bicara dengan Delon untuk mempercepat kepulangan kami."
"Makasih banyak mba, makasih banyak." Seru Novi yang sedikit merasa bersalah karena telah mengganggu liburan keluarga Arletta.
"Sama-sama Novi, kalau ada apa-apa hubungi saya segera ya." Pinta Arletta.
"Baik mba."
~
"Hallo Dr. Sam, gimana kondisi Andi?"
mata dikelilingi lingkaran “biru”, rusaknya Nervus Olfactorius sehingga terjadi hyposmia
sampai anosmia)." Jelas Dr. Samuel.
"Kondisinya?"
"Masa kritisnya sudah terlewati, tapi kita tetap masih harus menunggu sampai tiga hari kedepan."
"Tolong pantau terus kondisinya dok, saya usahakan bisa segera pulang." Pinta Arletta.
__ADS_1
"Pati Dr. Arletta, tidak usah khawatir."
~
"Mi bagaimana kalau kepulangan kita dipercepat?" Tanya Delon pada istrinya.
Arletta melirik suaminya. Dari tadi dia sebenarnya ingin membicarakan hal itu kepada Delon, tapi dia takut suaminya itu akan merasa tidak enak.
"Papa seriusan?" Tanya Angella kepada Delon yang dijawab anggukkan oleh Delon. "Mami minta maaf pa."
"Untuk apa?" Tanya Delon bingung.
"Karena mami ingin pulang disaat liburan keluarga peetama kita, mami khawatir sama Andi pi." Jawab Arletta sambil mulai menangis. "Maafin mami bukan maksud mami masih mikirin laki-laki lain, tapi Andi udah kaya saudara buat mami."
Delon yang dari tadi khawatir melihat Arletta yang sama sekali tidak menangis, akhirnya tenang.
"Mi bukan cuma mami yang khawatir sama Andi, tapi Crystal dan papa juga." Ucap Delon tulus. "Lihat anak kita mi, betapa sayangnya dia pada Andi. Betapa banyak hal yang udah Andi lakukan buat Crystal dan mami di saat papa ga bisa ngasih semua itu? Mami memang harus pulang dan wajib khawatir, karena papa juga ingin pulang dan menemani Andi."
Angella mengecup pipi Delon dan memeluknya.
"Makasih papa, makasih banyak."
"Papa juga khawatir mi. Apakah dia bisa sadar kembali mi?" Tanya Delon sambil terus memeluk Arletta.
Bagaimana perasaan putri kecilnya dan Arletta jika sampai ada sesuatu yang buruk terjadi pada Delon? Batinnya.
__ADS_1
"Mami gak tahu pi, semoga aja Andi bisa segera sadar." Harap Arletta. "Karena kalau sampai tiga hari dia belum sadar juga, dia akan dinyatakan koma."
"Tenang mi, papa yakin Andi akan sadar. Dia laki-laki kuat." Ucap Delon berusaha menenangkan hatinya dan istrinya.