
"Dek inget ya kamu kalau mau jajan di kantin aja, jangan keluar dari area sekolahan! Kalau ada yang gangguin kamu bilang ke kaka!" Ucap Crystal memberikan nasihat kepada adiknya sebelum adiknya turun dari mobil.
"Iya kaka cerewet amat sih!" Gerutu Thalia sambil mengambil tangan Crystal untuk disaliminya. "Aku sekolah dulu, kaka hati-hati ya, asallamualaikum"
"Waalaikumsalam, belajar yang bener!"
"Iyaaaaahhhh." Teriak Thalia kesal, membuat Crystal tersenyum gemas.
Crystal melajukan mobilnya meninggalkan pelataran sekolahan adiknya menuju rumah sakit.
~
"Har.." Panggil Crystal
"Hmm?" Balas Hari, saat ini mereka sedang berjalan untuk melakukan visite bersama grup mereka.
"Keluarga gue rencananya mau liburan ke Bali akhir bulan ini, Uncle Ndi dan bokap gue nyuruh ngajakin lu." Ucap Crystal dengan nada pelan agar tidak di dengar oleh rekan-rekan grupnya yang lain.
__ADS_1
Hari menatap Crystal terkejut, dia tidak menyangka kalau Dokte Andi dan Om Delon akan mengajaknya liburan. Hari memang mengenal keluarga Crystal dari kecil, orang tuanya merupakan rekan dari ibunya Crystal dan Dokter Andi, keluarganya juga sudah cukup sering makan bersama dengan keluarga Delon dan Andi tapi dia tidak merasa bahwa dirinya cukup dekat dengan keluarga itu sehingga bisa diajak jalan-jalan.
"Serius Ta?" Tanyanya tak percaya.
"Iyalah, ngapain gue bohong."
"Terus kerjaan kita?"
"Mami dan Dr Andi akan mengurus ijin kita kalau kamu mau ikut."
"Mau Ta, mau banget! Asyik, sampein makasih gue ya Ta ke orang tua lu."
"Banget lah Ta, kira berapa hari di sana Ta?"
"Katanya sih seminggu Har, ngomong-ngomong Dokter Samuel bakal ngijinin gak?"
"Tenang aja Ta, bokap pasti ngininin kok. Ya kali dia gak ngijinin, gue kan pergi sama keluarga lu dan lagian gue udah gede kali Ta, masa iya masih di larang-larang?"
__ADS_1
"Ya kali aja Har!" Ucap Crystal sambil tertawa. "Udah ah nanti kedengeran yang lain gak enak gue! Walau mereka nanti pasti tau sih kita cuti duaan."
~
"Pa, Dokter Andi sama Om Delon ngajakin Hari buat liburan ke bali selama satu minggu akhir bulan ini." Ucap Hari ragu-ragu kepada papanya saat mereka sedang makan malam. "Hari boleh ikut kan pa?" Tanyanya lagi.
Samuel menghentikan kegiatan makannya dan menatap putra sulungnya yang sedang menatap takut-takut ke arahnya.
Hari dan Samuel memang tidak terlalu dekat hubungannya karena Samuel selama ini selalu menyibukkan diri dengan pekerjaannya sebagai dokter setelah mendiang istrinya meninggal ketika melahirkan Hari.
Hari selama ini diasuh oleh asisten rumah tangga paruh baya yang sudah setia bekerja dengan keluarga ayahnya sejak ayahnya remaja, dia hanya menghabiskan waktu dengan ayahnya jika ada pertemuan keluarga atau acara makan-makan bersama kolega ayahnya.
Bukan Samuel tidak menyayangi Hari, tapi untuk waktu yang cukup lama dia sangat terpuruk dengan kematian istrinya dan setiap melihat Hari dia akan selalu teringat dengan mendiang istrinya itu makanya dia memilih untuk menghindar dari anaknya itu.
Tapi seiring berjalannya waktu dia menyadari bahwa kelakuannya kepada Hari itu salah dan saat dia ingin mencoba untuk bisa dekat dengan putranya semua sudah terlambat, karena Hari sudah terlanjur membentengi dirinya dari Samuel.
"Tentu saja kamu boleh pergi nak, bahkan mereka juga mengajak papa." Jawab Samuel sambil tersenyum, membuat Hari terbelalak.
__ADS_1
"Ada apa ini sebenernya?" Gumamnya yang masih dapat di dengar oleh Samuel.
"Nanti juga kalian tau!" Ucap Samuel sambil melanjutkan makannya.