
"Hai Nov." Sapa Andi kepada Novi. Dia mengampiri Novi ke mejanya dan berniat mengajak perempuan itu makan malam untuk menebus rasa bersalahnya kemarin karena telah membuat perempuan itu merasa kecewa.
"Iya dok ada apa?" Novi yang sebenarnya dari pagi memang mengharapkan kedatangan Andi ke mejanya, berlagak cuek menutupi perasaannya yang sebenarnya.
"Malam ini ada acara gak?" Tanya Andi sambil tersenyum, dia tahu Novi masih kesal atas kejadian kemarin.
"Gak dok. Kenapa gitu? Tanya Novi sok jual mahal.
"Makan malam yuk?"
"Saya rasa kita gak terlalu cukup dekat dok untuk makan malam setiap hari." Sindir Novi.
"Lah gimana mau jadi dekat kalau gak sering menghabiskan waktu bersama?" Balas Andi.
"Dokter ngajak saya makan untuk tujuan apa?" Tanya Novi iseng, dia ingin membuat Andi kesal.
"Loh emangnya ngajak kamu makan harus ada tujuannya ya? Kalo emang harus ada, ya tujuan kita makan." Alih-alih kesal, Andi malah menjawab Novi dengan nyeleneh.
Mau tak mau Novi tersenyum juga mendengar jawaban Andi yang nyeleneh seperti itu.
"Dok, dokter serius mau ngajakin saya ke pesta ulang tahun temen dokter?" Tanya Novi yang sudah mulai meluluh.
"Aku serius asal kamu berhenti manggil aku dokter terus." Kata Andi kepada Novi yang kelihatan sudah tidak marah lagi padanya. Andi tidak tahu kalau sebenarnya memang dari tadi perempuan itu sudah tidak marah padanya, dia hanya mencoba jual mahal.
"Iya. Iya, Andi."
"Nah gitu dong kan lebih enak didengernya."
"Lah perasaan katanya manggil namanya kalau lagi di luar rumah sakit aja." Dumel Novi teringat. "Ini kan rumah sakit dok!"
Novi dan Andi tertawa.
"Jadi kamu mau kan ikut aku ke pesta ulang tahun Luna?" Tanya Andi memastikan.
__ADS_1
Novi mengangguk.
"Asal ajakannya tulus."
"Kalau makan malam?" Tanya Andi lagi, hampir saja dia terlupa soal niat awalnya menemui Novi.
"Iya kita makan malam bareng hari ini. Tapi kita makan di mall aja ya? Sekalian nyari kado gimana?"
Andi tersenyum sambil mengacungkan kedua jempolnya.
~
Mereka memutuskan untuk pergi ke Mall Grand Indonesia dan makan di restaurant korea Ojju K-food atas rekomendasi Novi.
"Kamu sering makan disini ya?" Tanya Andi setelah mereka memesan makanan. Dia penasaran kenapa Novi mengajaknya makan disini.
Novi menggeleng.
"Terus kenapa ngajakin aku makan disini?"
"Saya kan penggemar korea, jadi sering searching hal-hal yang berbau korea gitu. Nah kata anak-anak Jakarta Ojju K-food ini adalah salah satu restaurant Korea yang enak di Jakarta."
Andi mengangguk, dikiranya Novi sering makan kesini.
Selesai makan mereka jalan-jalan di dalam mall, mencari hadiah untuk Luna. Waktu baru menunjukkan pukul tujuh malam.
"Ndi, kamu mau ngasih tas gak?" Tanya Novi.
"Soalnya kan kalo sepatu harus tau ukurannya, baju juga. Ya yang paling mungkin kalo gak tas ya parfume, tapi jujur aja sih aku lebih milih tas karena kepake terus kalo parfume kan bisa abis." Lanjut Novi cerewet ala ibu-ibu.
"Gimana kamu aja deh non. Pilihin dong yang kira-kira pantes buat dikadoin ke temen perempuan, aku kan selama ini gak pernah ngado barang ke perempuan kecuali Arletta." Cerita Andi jujur. "Ya tapi kalo Arletta sih aku tanya langsung maunya apa, atau kadang kalau gak ditanya juga dia mah minta sendiri."
Novi tertawa.
__ADS_1
"Pasti kebanyakan yang dipintanya barang buat Crystal ya?" Tebak Novi yang tepat sekali .
"Kok tahu?" Tanya Andi bingung. Jangan-jangan si Novi ini emang udah mata-matain kita dari dulu nih, pikir Andi.
"Aku pernah ngasih kado ulang tahun tas buat buat Dr. Arletta pas tahun pertama aku kerja sama dia dan dia bilang terimakasih banyak tapi lain kali kalo mau ngasih tolong beliin barang buat Crystal aja ya, gitu katanya. Aku sampai sempet nyangka dia gak suka sama pemberian aku, karena emang sih itu tas murah biasa. Tapi lama kelamaan karena aku sering lihat dia pakai tas pemberianku, berarti dia bukan tidak suka dan mempermasalahkan harga tas dariku."
"Dia bukan pemilih Nov." Jelas Andi. "Dulu dia cuma ngerasa kalau dia sendiri gak akan sanggup ngebahagiain Crystal yang gak mengenal sosok ayah dari kecil, makanya dia berusaha sebisa mungkin membuat Crystal merasakan kalau dia diperhatikan sama banyak orang."
Novi mengangguk mengerti.
"Ya memang sulit hidupnya Dr. Arletta." Ucap Novi sungguh-sungguh.
Andi menatap Novi, kalau Andi tak salah lihat ada setitik penyesalan yang menghiasi wajah Novi.
"Tapi sekarang kalau kamu kasih dia hadiah, dia pasti seneng dan gak akan minta buat Crystal." Canda Andi.
"Hahahaha. Iya, syukurlah Crystal sekarang udah sama kumpul sama mami dan papanya lagi." Ucap Novi tulus. " Jadi kita beli hadiah apa nih Ndi?" Tanya Novi yang teringat ini sudah pukul setengah sembilan dan mall akan segera tutup.
"Tas aja ya, tapi jangan yang mahal banget." Putus Andi.
"Dasar pelit." Ejek Novi sambil tertawa.
"Ya bukannya pelit juga. Ngapain ngasih yang mahal-mahal, bukan siapa-siapa juga."
"Yakin bukan siapa-siapa? Kenapa atuh pulang ke Jakarta dia langsung ngehubungin kamu?" Selidik Novi.
"Dulu sih emang kita cukup dekat karena sekelompok, tapi kan udah lama banget gak komunikasi apalagi ketemu semenjak dia pindah ke paris. Lagian semurah-murahnya barang disini tetep aja mahal atuh."
Iya juga sih, pikir Novi dalam hati.
"Kate and spade aja atuh ya?" Tanya Novi.
"Boleh lah, tapi pilihin modelnya jangan yang terlalu kaya anak muda ya." Pinta Andi.
__ADS_1