
"Crystal, mau naik matanya kota London gak?" Tanya Arletta kepada putrinya itu setelah Crystal puas main di Sea Life London Aquarium.
"Matanya London? Maksudnya apa mami?" Tanya Crystal yang bingung dengan ajakan maminya. Dia takut maminya sakit, kok mami ngomongnya ngelantur gitu sih pikirnya. "Papa, papa. Mami aneh deh masa kata mami London punya mata dan bisa ditaikkin."
Delon tertawa, dia meraih putirnya itu ke dalam pangkuannya.
"Apa sih neng? Maksud mami itu salah satu kincir terbesar di dunia, namanya London Eye." Jelas Arletta sambil tertawa gemas yang melihat anak itu langsung ngadu ke papanya. Dia membelai rambut Crystal yang sedang berada di pangkuan Delon.
"Ohhhhh." Jawab Crystal dengan mulut yang dimanyun-manyun, lalu tertawa. "Naik kincir ya mi? Mau atuh." Katanya lagi dengan malu-malu manja.
Arletta dan Delon tertawa.
"Papa mau kan?" Tanya Crystal kepada Delon.
"Hmm liat nanti aja ya sayang, kalo kamu sama mami mau naik sok aja." Jawab Delon ragu karena takut ketinggian. Dia yang sebenarnya ingin menemani putrinya bermain, tapi kalo dipikir lagi London Eye itu pasti tinggi banget dan bisa lihat kebawah. Gak kaya pesawat yang tertutup awan. "Papa mah liat dulu aja yah." Lanjutnya
Arletta tahu bahwa suaminya sebenarnya takut, dan dia berniat untuk menjahili Delon.
"Yah neng, kalo papa gak mau mah kita cari makan malam aja ya lalu pulang ke hotel." Arletta memanasi putrinya. "Kan gak asyik kita main berdua, papi engga."
Delon yang tahu niat Arletta, melirik tajam istrinya itu.
"Awas ya kamu nanti malam!" Katanya berbisik, yang hanya dibalas senyuman nakal oleh Arletta.
"Yaaaa papa tuh kan hayu naik!" Rajuk Crystal ke papanya. "Nanti mainnya gak jadi."
"Oke-oke hayu." Delon mengalah untuk putrinya itu. Dia tak habis pikir putrinya masih aja pengen main dan gak ngerasa capek, padahal udah seharian jalan bulak-balik ngelilingin Sea Life London Aquarium.
Mereka masuk ke dalam mobil.
"Please take us to Millennium Wheel sir." Pinta Arletta kepada sopir yang akan menemani mereka selama di London.
"Yes Ma'am"
__ADS_1
~
Sesampainya di London eye, Delon panik melihat begitu tingginya kincir yang akan mereka naiki.
Sedangkan Crystal menganga kagum sambil memandangi kincir raksasa yang berada di hadapannya. Dia baru pernah lihat kincir raksasa sebesar ini, nyala lagi.
"Mi ini gak akan bahaya mi?" Tanya Delon kepada Arletta. Dia yang takut berharap anak, istrinya akan membatalkan niat mereka untuk naik kincir raksasa itu.
Diluar harapannya, putrinya malah melompat-lompat kegirangan.
"Yeaaaayyyyyy. Papa, mami indah banget. Papa liat kincirnya besar, nyala lagi." Katanya sambil lompat-lompat.
Mampuslah aku, kata Delon dalam hati.
"Gak akan pa, asyik loh dari atas pemandangan kota London kelihatan jelas semua." Arletta tersenyum sambil menggenggam tangan Delon, menenangkan suaminya.
"Ayo mami cepetannnn, nanti diatas mami harus ceritain ke Crystal dan papa kenapa kincirnya bisa sebesar ini dan kenapa namanya Mata London." Pinta Crystal semangat, tanpa menghiraukan papanya yang ketakutan.
"Iya, iya. Hayu naik." Ajak Arletta kepada suami dan putrinya.
"Oh udah rencana ya mau kesini?" Sindir Delon yang menyadari istrinya sudah punya tiket tanpa harus beli.
Arletta tersenyum dan menarik tangan Delon untuk masuk kedalam kincir.
Di dalam kincir mereka berdiri berpegangan tangan. Arletta yang melihat wisata ini sedang sepi, meminta agar bisa satu kincir hanya bertiga saja dan diijinkan.
"Mi ini muternya berapa lama?" Tanya Delon dengankeringat dingin mulai membasahi tubuhnya.
"Kurang lebih 30 menit." Jawab Arletta santai.
"Mamiii keren. Kicirnya gede ya, aku bisa lari-lari." Crystal jahil dia tahu papanya takut, jadi dia lari-lari dalam kincir yang emang luas.
"Ehhhh Crystal diem dong, jangan lari-lari gitu!" Kata Delon lemas. Ya Tuhan cepetan dong jalannya, doa Delon dalam hati.
__ADS_1
"Hihihihi, papa sini gak usah takut." Kata Crystal memegang tangan papanya. "Kincirnya gede pasti kuat, iya kan mi?"
"Iya neng." Jawab Arletta.
Delon tersenyum, dia senang bahwa sifatnya yang penakut tidak menurun ke putrinya.
Arletta mendekati telinga suaminya yang sedang menggengam tangan Crystal.
"Pa, I love You!" Bisiknya sambil menggenggam tangan suaminya, mereka sudah berada di puncak kincir dan pemandangan kota London tampak jelas dihadapan mereka.
"Mari kita beri Crystal pengertian agar dia mau punya adik." Lanjut Arletta membuat suaminya itu kaget.
Ya semalam memang Arletta berpikir, rasanya tidak adil bagi Delon jika dia menolak untuk punya anak lagi.
Tapi karena dia tidak mau membuat Crystal sakit hati, maka dia memutuskan untuk mengajak Delon memberikan Crystal pengertian sebelum mereka punya anak lagi.
Delon menatap Arletta dengan bahagia, sejenak rasa takut ketinggian yang sedang dirasakannya menghilang digantikan oleh perasaan bahagia.
"Mamiiiii katanya mau cerita soal Mata London." Teriak Arletta yang kesal melihat kedua orang tuanya tatap-tatapan dan mengacuhkan dirinya.
"Iya sayang, jangan teriak-teriak gitu ah!"
"Abisnya asik duaan, aku dicuekin!" Rengek Crystal.
"Kayanya susah deh." Timpal Delon pada Arletta, sambil tertawa mengelus kepala putrinya.
Maksudnya susah bikin Crystal mengerti untuk mau punya adik.
Arletta menanggapi ucapan suaminya dengan mengangkat bahu.
"Iya maaf, nah kincir ini dikasih nama Energy London Eye, yang artinya mata London." Arletta mulai bercerita sambil mengangkat Crystal ke dalam pangkuannya. "Namanya kaya gitu soalnya dari sini kita bisa lihat semua pemandangan kota London. Seperti Big Ben, Houses of Parliament, Buckingham Palace dan St. Paul's Cathedral."
Setelah bercerita panjang lebar, Arletta mendapati bahwa Crystal tertidur dipangkuannya.
__ADS_1
"Sabar ya sayang, anak kamu emang jadi sangat manja sejak kehadiran kamu." Kata Arletta pada Delon.
"Iya aku sebenernga udah ga mempermasalahin mau punya anak lagi atau gak, lagian aku juga sadar bahwa selama ini aku gak ada buat Crystal. Jadi aku juga kepikiran buat fokus sepenuhnya ke Crystal." Jelas Delon, dengan wajah yang kembali pucat. "Yang sekarang jadi masalah adalah kapan kita turun?" Lanjutnya yang membuat Arletta tertawa.