
"Kenapa wajahmu pucat?" Tanya Arletta kepada suaminya.
Delon, Arletta dan Crystal akan berlibur ke London, mereka berencana melaksanakan bulan madu yang tertunda dan merayakan tahun baru disana.
"Gimana sih rasanya naik pesawat?" Tanya Delon takut. Dia memang belum pernah naik pesawat selama hidupnya.
"Rasanya kaya naik roller coaster papa." Crystal yang jahil menjawab pertanyaan papanya dengan nada serius.
Arletta geleng-geleng sambil tertawa melihat ulah anaknya yang jahil itu.
"Hmm. Awas jail kamu ya ke papa!" Delon menggelitiki Crystal.
"Hihihihihi. Ampun papa! Abisnya papa lucu. Naik pesawat mah gak ada rasanya papa, gak usah takut! Kan papa sama Crystal."
"Okelah, papa gak takut kok. Crystal jagain papa ya?"
"Pasti papa. pasti!" Jawab anak itu sambil mengacungkan kedua jempolnya.
Ya ampun lucunya Crystal, semakin hari aku semakin sayang kepadanya dan semakin hari juga rasa penyesalanku karena telah mengusir Arletta dulu terasa semakin besar. Renung Delon dalam hati.
~
Di dalam pesawat Crystal duduk di kursi tengah-tengah antara Delon dan Arletta. Anak itu sangat antusias menjelaskan peraturan-peraturan yang ada di dalam pesawat.
"Sini Crystal bantuin papa pasang sabuk pengaman." Kata Crystal sambil memasangkan sabuk pengaman Delon.
__ADS_1
Setelah berceloteh panjang lebar dan pesawat sudah lepas landas, tidak lama kemudian pramugari dan pramugara membagikan makan malam.
Mereka memang mengambil penerbangan malam agar bisa tidur di pesawat dan sampai di London pagi-pagi keesokan harinya.
"Papa mau makan apa?" Tanya Crystal ketika pramugari menawarkan pilihan makanan utama yang terdiri dari salmon steak, mac and cheese dan tuna sandwich.
"Emm, Crystal mau apa? Papa ikut Crystal aja." Jawab Delon, dia tidak terlalu suka dengan makanan Barat.
"Mac and Cheese yuk?" Tanya Crystal.
Delon mengangguk.
"Two mac and cheese and one tuna sandwich." Pinta Arletta kepada pramugari setelah Delon dan Crystal memutuskan mau makan apa.
"Pa, mami udah sempet bicara sama Andi." Arletta yang belum bisa tidur mengajak ngobrol Delon. " Dia setuju papa kerja di rumah sakit sebagai sekretarisku. Novi akan dipindahkan menjadi sekretaris Andi."
"Mi, papa gak ngerti apa-apa soal kerjaan di rumah sakit. Udahlah papa tetep nganter jemput mami dan Crystal aja ya, jadi papa juga punya banyak waktu untuk dihabisakan bersama Crystal."
"Papa gak perlu ngerjain apa-apa. Lagian selama ini juga Novi emang gak punya kerjaan yang penting juga, itu cuma buat formalitas aja pa." Bujuk Arletta. "Iya mami ngerti kalau papa pengen punya banyak waktu sama Crystal. Tapi gak pantes kan kalo papa terus-terusan jadi tukang anter jemput mami dan Crystal. Mami gak mau papa dihina."
"Bodo amat sama kata-kata orang lain mi."
"Ya emang pa, tapi kan tetep gak enak kalo kedenger."
"Oke. Oke. tapi papa tetep pengen bisa antar jemput Crystal ya?"
__ADS_1
Arletta mengangguk.
"Crystal boleh kok main di ruangan mami, sama papa setiap harinya" Arletta meyakinkan Delon bahwa Delon tidak akan kehilangan waktu kebersamaan dengan putri mereka itu.
"Jadi kapan papa mulai kerja?"
"Pulang kita berlibur ya pa. Mami pastiin lagi ke Andi baiknya kapan, soalnya kita juga belum bilang ke Novi." Arletta tersenyum. "Makasih papa."
Delon yang tidak berani melepas sabuk pengaman kursinya hanya memanyunkan bibir, minta dicium.
"Berdiri dong sini." Goda Arletta.
"Pengen pipis aja ditahan ini mi."
Arletta tertawa sambil berdiri mengecup pipi Delon.
"Bibir dong." Rajuk Delon.
"Ahh nanti aja, udah sana pergi pipis jangan ditahan-tahan."
"Gak apa-apa gitu kalo aku jalan-jalan?"
"Itu pramugari, pramugara juga pada jalan-jalan!" Kata Arletta gemas.
"Ya maklum atuh mi, papa kan belum pernah naik pesawat." Kata Delon sambil tertawa malu.
__ADS_1