
Aku tersadar dalam lelap ku, yang pertama aku lihat adalah langit-langit yang cerah dengan lampu putih, aku melihat sekeliling, dan rasanya aku sudah nggak di tempat les ku. Tiba-tiba dari sisi kiri ku aku melihat seseorang berjas membelakangi ku, lalu dia melihat ke arah ku.
"Nona sudah sadar?" Tanya orang asing itu yang entah aku nggak pernah lihat dia sama sekali.
"Iya, ini dimana ya?" Tanya ku.
"Di rumah sakit, tadi nona pingsan." Jawabnya.
"Oh kamu yang menolong ku ya? Terima kasih." ucapku sopan.
"Ini sudah pekerjaan saya." katanya yang membuat ku bingung, ya mungkin dia manajer tempat les ku.
"Aku sakit apa ya?" Tanya ku.
"Eh.. itu.." jawabnya tampak gagap. Aku terus memperhatikannya menunggu jawaban atas alasan kenapa aku pingsan, mungkin karena aku terlalu stres. Menunggu dia yang nggak kunjung memberi jawaban, seorang dokter masuk ke ruangan ku.
"Halo Elisabeth, bagaimana rasanya? Apa badannya sudah enak?" Tanya dokternya.
"Sudah lumayan, hanya agak lemas saja." jawabku dengan sopan.
"Oh itu sih wajar." Jawab dokter itu.
"Wajar? Memang saya sakit apa ya dok?" Tanya ku dengan bingung.
__ADS_1
"Kamu nggak sakit. Selamat ya kamu hamil, masuk 5minggu, harus benar-benar di jaga karena rawan sekali, kendalikan emosinya ya." Jawab dokter itu yang seketika membuat ku terkejut bahkan nggak bisa berkata apapun.
"Apa?!!! Aku hamil??!!!!" Teriak ku.
"Iya, apa ada masalah?" tanya dokter itu.
"Nggak." jawabku sambil memalingkan pandangan ku..
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu, di jaga ya kandungannya." Ucap dokter tersebut lalu berjalan pergi.
Aku yang hanya diam bahkan nggak bisa berkata apapun. Air mata terus mengalir di pipiku.
Aku ingin lepas dari Frans, tapi kenapa takdir sejahat itu.
"Gimana aku bisa baik-baik saja?" Ucapku sambil menahan tangis. "hp ku dimana?" Tanya ku lagi.
"Ini nona" jawabnya sambil memberikan hp nya padaku.
Entah apa yang aku pikirkan, aku langsung menelepon Frans.
"Halo" Terdengar suara Frans sudah menjawab.
"Frans, aku hamil !" Ucapku.
__ADS_1
"Terus?" Tanya nya dengan santai.
"Terus? Ini anakmu, apa kamu nggak mau tanggung jawab?" Tanya ku dengan air mata terus mengalir di pipiku.
"Anakku? Kamu yakin? Aku nggak merasa keluar di dalam kok, kan aku keluarinnya di luar." Jawab nya dengan enteng.
"Tapi aku cuman ngelakuin sama kamu, pasti kamu kebobolan kan?!" Ucapku dengan semakin emosi.
"Menurut ku aku keluarin di luar kok, jadi itu bukan anakku, kan aku juga nggak tau, selama ini kamu sudah ngelakuin sama siapa aja." Jawab nya.
"Hah? Menurutmu, jadi kalau menurut mu begitu, berarti ini bukan anak mu gitu? Kamu bilang aku sudah ngelakuin sama siapa aja? Bahkan kamu tau sendiri kamu orang yang ambil perawanku kenapa kamu bisa mandang aku serendah itu?!" Teriakku sambil menangis.
"Ya terserah pokoknya aku merasa aku keluar di luar, berarti itu bukan anakku dan aku nggak akan tanggung jawab. Jadi kamu urus sendiri aja, toh kita juga sudah putus." Katanya dengan enteng.
"Heh br*ngs*k ! Kamu benar-benar nggak tanggung jawab ! Kamu cuman ambil keuntungan dari aku, aku memang salah dulu pernah maafin kamu !" Teriakku dan langsung menutup teleponnya.
"Nona, baik-baik saja kan? Tolong tenang nona, kasihan janinnya." Ucap orang berjas hitam tersebut.
"KELUAR !" Teriak ku kepadanya dengan emosi, dan air mata. Hatiku rasanya sesak.
"Baik nona, tolong jaga diri anda." Jawab nya dan langsung berjalan keluar.
Sambil melihat nya melangkah keluar aku nangis dan berteriak sejadi-jadinya, beberapa saat orang itu kembali dengan dokter dan suster, menyuntikkan ku obat penenang, perlahan aku mulai tertidur dengan perasaan sakit, emosi, dan sesak.
__ADS_1
Bersambung..