
Edward..
Turun dari bandara aku langsung bergegas ke rumah sakit, pagi itu benar-benar rasanya panas, yang membasahi ku dengan seribu kekhawatiran akan wanita itu, wanita yang entah darimana, yang baru kutemui di Solo sekali, Ibeth.
Aku sampai di rumah sakit, menuju resepsionis,
"Pasien atas nama Ibeth" ucapku.
"Maaf pak, nggak ada yang nama nya Ibeth." jawab resepsionis nya.
Aku bingung dan khawatir campur aduk, ku ambil telepon dan ku telepon asisten ku, Doni.
"Kamu dimana? Kenapa nggak ada nama nya?" Tanya ku khawatir.
Setelah mendapat jawaban aku langsung bergegas ke ruangan nya, aku berlari menyusuri lorong yang penuh dengan pintu kamar, dan aku melihat Doni.
"Pagi tuan." sapa nya di depan ruangan.
"Kenapa nama nya Ibeth nggak ada?" Tanya ku.
"Nama nya mengikuti KTP tuan, Elisabeth Anna" jawabnya.
__ADS_1
"Oh, terus bagaimana keadaannya?" Tanya ku yang penasaran.
"Dia, tuan, nona hamil 5minggu." Jawabnya yang benar-benar membuat ku terkejut. Hingga tak bisa berkata-kata.
"Dia sudah telepon pacarnya, tapi karena mereka seperti nya sudah putus, pacarnya nggak mau bertanggung jawab." Ucapnya lagi.
"Br*ngs*k ! Pria macam apa yang berani berbuat tapi nggak berani mempertanggung jawab kan perbuatannya !" Marahku.
"Nona di dalam tuan, mungkin sudah bangun." Ucapnya.
Tanpa basa basi aku langsung masuk ke dalam ruangan, meninggalkan Doni dan beberapa asisten yang mengikutiku.
"Kamu baik-baik aja?" Tanya ku.
"Kamu siapa?" Tanya Ibeth yang seakan sepertinya telah melupakan ku.
"Kita pernah dinner loh, di hotel Solo." Jawab ku lembut.
"Oh maaf aku lupa, gimana kamu tau aku disini?" Tanya nya lagi.
"Aku selalu tau, apapun tentang kamu." kataku sambil duduk di bangku sebelahnya.
__ADS_1
"Kamu stalker in aku?" Tanya ku.
"Bukan aku, pegawai ku." Kataku lagi.
"Beth, mau nggak kamu menikah sama aku? Ikut aku pergi dari sini, dan memulai hidup baru mu?" Tanya ku yang entah kenapa aku menawarinya, yang aku tau, aku hanya ingin menolongnya, dan nggak berharap melihat nya dalam susah lagi.
"Hah? Kamu tau aku hamil? Kamu mau mengasihani aku? Nggak, aku nggak butuh di kasihani, aku bisa mengurus diriku sendiri dan anak ku dengan baik. kamu nggak usah repot-repot" Jawabnya yang membuat ku kesal.
"Kamu tau, entah kenapa aku ingin membantu, aku tau kamu ikut lagi mempersiapkan les bahasa untuk ke Jerman, aku bahkan sudah menyiapkan tempat magang, tapi kamu harus tau, wanita hamil nggak akan pernah berangkat." kataku kesal.
"Dan aku bukan mengasihani kamu, tapi aku cuman berpikir apa nggak menjadi aib buat anak mu kalau dia lahir tanpa ayah? Apa kamu bahkan nggak berpikir seperti itu?" Kata ku lagi dengan kesalnya.
"Itu bukan urusanmu." jawab nya yang semakin membuat ku kesal.
"Aku kasih kamu waktu untuk berpikir, akan lebih baik juga buat keluarga mu, jika kamu hamil dan menikah dari pada menjadi single parent." Kataku dengan kesal dan langsung pergi keluar.
Entah apa yang terjadi, dia perempuan yang bahkan nggak pernah terlintas, aku akan menikahi perempuan yang mengandung anak pria lain, tapi aku malah menawarinya, dan aku kesal dengan penolakannya, seakan-akan aku hanya merasa ingin menjaganya. Dan nggak ingin melihat hidupnya di dalam keterpurukan. Entah apa yang terjadi sama aku.
Aku tau dia tidur dengan pria lain, tapi aku merasa tetap ingin menjaganya.
Bersambung..
__ADS_1