
Selesai bersiap-siap, kita memutuskan untuk pergi jalan-jalan sekalian check out, karena besok aku harus berangkat sama suami ku ke Jerman, dan berusaha untuk melepaskan semuanya. Karena aku sudah menikah dengan nya, maka aku bertekad untuk melupakan segala kejadian yang menyakitkan, dan memulai hidup baruku dengannya, dan dengan cabang bayi di perutku, karena aku percaya apa yang telah di satukan oleh Tuhan, nggak boleh di pisahkan oleh manusia. Sambil menatap Edward yang sedang duduk disamping ku dengan dalam aku berharap, Edward aku mempercayai hidupku dan anakku di tanganmu, aku berharap kamu bisa mencintai dan menjaga kita seumur hidupmu. Tapi apa harapan ku ini egois?
"Hai kenapa?" Tanya Edward yang seketika memecahkan lamunanku.
"Nggak apa-apa" jawabku.
"Aku tau aku terlalu tampan, sampai kamu melihatku sampai seperti itu." Ujar nya dengan sangat percaya diri.
"Ya kamu memang tampan, jadi aku menatap mu, biar anakku kelak bisa mirip 100% sama kamu." Jawabku tersenyum.
"Oke, tiap hari kamu harus lihat aku terus menerus dengan tatapan dalam biar sih baby mirip aku, oke?" Katanya dengan tersenyum.
"Oke" jawabku.
"Yaudah yuk, semua sudah selesai di bereskan, kita jalan-jalan?" Tanya nya.
__ADS_1
"Berangkat." Jawabku langsung berdiri dan bersiap pergi.
Saat kita melangkah ke luar, di depan pintu bertemu seorang perempuan, yang mungkin adalah salah satu tamu undangan kita, dan mungkin dia teman dari Edward, yang kalau nggak salah bernama Dyana.
"Edward, ayo kita pergi keluar jalan-jalan (dalam bahasa Jerman)" Ujar Dyana sambil tiba-tiba memeluk Edward.
"Tolong jaga sikapmu, disini ada istri ku, dan aku sudah menikah, jadi tolong jaga sikapmu (dalam bahasa Jerman)" ujar Edward sambil mendorong Dyana menjauh.
Aku yang nggak begitu paham apa yang mereka bicara kan, aku langsung melangkah pergi dari hadapan mereka yang ribut sendiri.
"Sa, jangan pergi." Ujar Edward sambil memanggilku, namun aku sama sekali nggak meresponnya.
"Kamu kira dengan begitu aku akan menyerah? Jangan bermimpi (dalam bahasa Jerman)" Ujar Dyana dengan kesal.
Edward sama sekali nggk mempedulikan Dyana dan terus menerus mengejarku.
__ADS_1
"Sa, jalan pelan-pelan inget bayi nya." Ujar Edward yang langsung menggenggam tanganku persis di depan lift.
"Iya" Jawabku singkat.
"Ayolah, aku sudah memperingati dia untuk menjaga jarak" Ujarnya menjelaskan.
"Aku tau posisiku kok, aku tau kamu cuman menolongku jadi aku nggak berhak untuk meminta apapun apa lagi marah" Ujarku.
"Nggak gitu Sa, kamu istri ku." Ujarnya, dan aku hanya tersenyum kecil.
Nggak beberapa lama pintu lift terbuka, dan yang membuat ku terkejut di dalam lift ada Frans dan temannya. Kami pun tetap masuk ke dalam lift.
Frans mendekatiku, dan berkata "Selamat ya, sudah mendapatkan pria hebat, dan termasuk cabang bayinya".
Mendengar itu Edward terlihat kesal dan hampir marah, aku menggenggam tangan Edward.
__ADS_1
"Terima kasih ya, semoga kamu bisa mendapatkan karma yang setimpal atas perbuatanmu." Ujarku ketus sambil menatap mata nya dengan tajam, lalu membuang muka, rasanya nggak mau berhadapan dengannya lebih lama lagi.
Bersambung..