
Saat aku dan Edward sudah di pintu pesawat, tiba-tiba,
"Beth ! Aku janji aku nggak akan memanfaatkan mu lagi, aku benar-benar ingin bersamamu, aku nggak mau kamu pergi, plis Beth, aku akan membiayai semua kebutuhan mu, aku janji, aku janji" katanya.
Mendengar ucapannya aku melepaskan gandengan Edward, turun menghampiri Ibeth, aku sedikit menunduk mendekatkan kepala ku dengan kepalanya, dia yang sedang berlutut,
"Kamu pikir, apa aku butuh di biayai sama orang seperti kamu? Kamu pikir, apa aku semiskin kamu? Walaupun Edward nggak ada, kamu pikir aku butuh di bantu sama kamu? Orang yang bahkan menjadi parasit ku selama beberapa tahun ini?" Ujarku.
Dan dia hanya terdiam, setelah itu aku kembali menghampiri Edward, dia terlihat tersenyum saat aku mengatakan ucapan itu.
"Jangan pernah ganggu aku, dan jangan pernah berharap mendapatkan maaf dari aku, dan jangan terlalu banyak membual membiayai aku, karena aku nggak butuh uang mu yang sedikit itu" ujar ku lalu masuk ke dalam pesawat.
Pesawat VIP milik Edward benar-benar nyaman, duduk di kursi yang enak dan di depan kursi ada meja, Edward duduk di sebrang ku.
Melihat ke jendela aku masih bisa melihat Frans yang masih berlutut disana dan hanya diam, lalu dia melihat ku di jendela dan aku pun menutup jendela, kali ini aku akan menutup semua hal tentang Frans, sudah nggak ada lagi dia dalam hidupku, saat ini memulai hidup baru dan hanya ada aku dan pria di depan ku ini, Edward.
"Kamu nggak menyesal?" Tanya Edward.
"Menyesal kenapa?" Tanyaku.
"Menyesal karena berbicara seperti itu dengannya" Ujar Edward sambil melihat ke arah Frans melalui jendela nya.
__ADS_1
"Nggak, karena hal yang paling aku sesali seumur hidup ini adalah percaya dengannya, dan menghianatimu, suamiku" Ujar ku.
"Heh.." ujarnya yang tanpa mengatakan apapun.
"Apa kamu masih marah?" Tanyaku.
"Nggak, karena aku hanya berpikir untuk membantu kamu sekarang, dan kamu membantu aku." Ujar Edward.
"Kenapa begitu?" Tanyaku.
"Aku sudah cukup sabar denganmu sampai kamu berinisiatif menceraikanku, kali ini aku nggak akan berbaik hati memberikan hatiku ke kamu" Ujar Edward yang membuat aku cukup terkejut. Tapi itu wajar karena kesalahanku padanya nggak bisa menyalahkan dia jadi keras hati padaku. Kali ini biar aku yang mengalah.
Aku membuka jendela ku melihat awan dan menikmati jus ku, Edward sama sekali nggak mau berbicara denganku. Dia hanya menikmati bukunya.
Tanpa terasa jus ku habis, aku meletakkan gelas nya di atas meja, dan terus memandangi ke arah jendela melihat indah nya awan, perjalanan yang panjang tanpa pembicaraan ini, membuat aku benar-benar mengantuk, tanpa sadar aku terlelap dalam tidur ku.
Edward..
Saat membaca sedikit ku lihat ke arahnya dia tengah tertidur.
"Pelayan" Panggil ku,
__ADS_1
"Bagaimana tuan?" Ujar pelayan tersebut,
"Tolong di bawa kebelakang dan bawakan selimut" Ujarku sambil menyodorkan gelas.
"Baik tuan" Ujarnya.
Nggak membutuhkan waktu yang lama pelayan membawakan selimut, aku berdiri menghampiri Elisha, dan menyelimutinya, aku duduk di sebelah nya, entah kenapa aku nggak akan membiarkannya pergi lagi meskipun aku kecewa, tapi bagi aku dia lah yang bisa melunakkan ku.
Bersambung..
Extra :
HAI READERS !!
Pertama kalinya aku kasih extra.
Maaf banget author lagi nggak bisa sering-sering update nih, karena benar-benar sibuk banget, tapi akan aku usahakan untuk update terus yaa, maaf banget, author sibuk dari pagi sampai malam.
Semoga author dapat pengertian dari kalian yaa...
Terimakasih ! Danke schön !
__ADS_1