Karena Pergaulan Bebas

Karena Pergaulan Bebas
#16


__ADS_3

Jam pulang kantor pun tiba, teman-teman kantor memberikan ucapan perpisahan untukku.


Kita foto-foto dan bercanda, setelah itu aku pun membereskan barang-barangku.


Cencen lah yang membantu ku membereskan barang-barang ku, karena dia cukup khawatir dengan aku yang sedang isi ini.


"Beth, kamu harus inget, sedalam apapun cinta kamu ke Frans, kamu harus tau, orang yang benar-benar mencintaimu, nggak akan pernah meninggalkan mu. Dan Edward yang meskipun menurutmu kalian baru kenal, tapi dia benar-benar nggak pernah meninggalkan kamu. Kamu harus mulai belajar menerima orang baru, dia akan kelak menjadi suamimu." Nasehat Cencen.


"Thanks ya Cen, setelah ini aku pasti akan sangat amat merindukan kamu, dari awal kamu masuk kamu yang benar-benar paling baik dan peduli sama aku." Ucapku dengan nada lembut.


"Haha.. sama-sama aku juga pasti kangen kamu. Yah karena dari awal datang, kamu lah yang memperlakukan aku dengan baik, dan bahkan selalu berusaha untuk menjaga perasaan ku, sudah sekian lama, sekarang gantian kamu bahagia, yang kuat ya." Ucap Cencen.


Selesai beres-beres, kita berjalan keluar kantor, Cencen membantu membawakan dus ku, dan saat keluar dari kantor, terparkir mobil sedan hitam di depan, dan pintu mobil itu terbuka dan tidak disangka yang keluar adalah Edward.


"Sudah pulang? Ayo ikut aku." Katanya.


"Siapa ini Beth?" Tanya Cencen dengan tampang bingung nya hingga melongo.


"Ini Edward." Jawabku.


"Wah Edward, halo gue Cencen temannya Ibeth." Kata Cencen dengan wajah senyum penuh kagum.

__ADS_1


"Halo gue Edward, ini?" ujar Edward sambil melihat dus yang di pegang oleh Cencen.


"Oh ini barang-barang nya Ibeth, karena gue tau kondisi nya, jadi gue yang bawain." Jawab Cencen cepat.


"Oh gitu oke makasih ya, bisa taro disini." Ujar Edward sambil berjalan membuka bagasinya.


"Oke" Jawab Cencen sambil menaruh barang ku ke dalam bagasi.


"Cen, mau bareng?" Tanyaku dengan cepat.


"Hah? Nggak usah, gue bentar lagi di jemput cowo gue." Jawab Cencen. "Yaudah kalian duluan aja." Ujar nya lagi.


Dari sini aku tau kalau Edward nggak banyak bicara dengan orang lain. Begitu juga dengan ku. Bahkan dari aku menyimpan kontak nya di rumah sakit hingga sekarang, aku sama sekali belum pernah teleponan dan chatting dengan nya.


"Kamu mau makan apa?" Tanya Edward sambil menyetir.


"Terserah" Kataku.


"Mau sushi?" Tanya Edward lagi.


"Aku nggak suka sushi." Jawab ku terang-terangan.

__ADS_1


"Terus mau sate?" tanyanya lagi.


"Nggak lah sate nggak bikin kenyang." jawabku.


"Terus mau apa? Mau JFC?" tanyanya lagi.


"Nggak, terlalu banyak makan fastfood nggak baik tau." Jawabku sok menceramahi.


"Terus mau makan apa?" Tanya nya yang terlihat mulai kesal.


"Terserah." Jawabku.


"Terserah, terserah, ditawarin ini itu nggak mau, kamu lagi mau makan apa? Jangan jawab terserah kalau nggak kamu yang aku makan." Jawab nya kesal, sontak membuat ku terkejut, karena baru pertama kali melihat nya kesal.


"Steak aku mau steak sapi." Jawabku dengan cepat.


"Nah gitu dong, memang wanita itu sulit di mengerti, bilang terserah berharap sih cowo bisa mengerti keinginannya." Keluh nya kesal.


Yang membuat aku dengan heran tersenyum lucu.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2