Karena Pergaulan Bebas

Karena Pergaulan Bebas
#34


__ADS_3

Hari ini kita semua bersiap untuk berangkat ke Jerman, tempat dimana Edward tinggal.


Kita sudah menginap tiga hari, tapi Edward sudah nggak memperlakukan ku seperti pertama ia datang, hanya saja dia terus diam dan bahkan dua hari ini dia membuka kamar untuk dirinya sendiri. Ya kita nggak tidur bersama. Aku paham dia kecewa.


"Permisi nyonya saya bantukan membawa barang-barang nya" Ujar Doni.


"Baiklah" ujar ku.


Doni pun membawa barang-barang ku keluar.


Aku kira Edward yang akan datang, tapi siapa sangka bahkan melihatku pun dia nggak mau.


Beberapa saat sebelumnya..


Edward..


Berdiri di depan kamarnya melihat nya dari jauh, entah apa yang dia pikirkan, apakah benar-benar dia merasa bersalah? Dari tadi membereskan barang nya seperti sedang memikirikan sesuatu, setelah selesai pun masih seperti itu.

__ADS_1


"Tuan, kenapa tidak masuk?" Tanya Doni yang membuat ku terkejut.


"Tidak, bawakan semua barang nyonya, dan jangan memberitahu dia aku disini." Perintahku tegas.


"Baik tuan." Ucap Doni dan langsung melenggang pergi menuju kamarnya.


Aku melihat dia tersenyum seperti benar-benar di paksa, dan dia mengalihkan pandangannya lagi ke tempat lain, dan perlahan aku melihatnya menangis, menangis tanpa suara, menangis tanpa mengeluh, lalu merebahkan dirinya di atas kasur.


Aku benar-benar nggak kuat melihatnya menangis, lalu aku memutuskan untuk pergi.


Aku merasa seperti ada yang lewat dari depan, aku langsung berdiri dan melihat kedepan namun nggak ada siapapun, mungkin hanya perasaanku saja.


Aku pun mengambil tas kecil ku dan memeriksa semua barang untuk memastikan tidak ada yang ketinggalan, lalu aku meninggalkan ruangan ku, dan berjalan keluar.


Sesampai ya di lobby hanya tersisa satu mobil dan Doni yang menungguku.


"Silahkan nyonya" Ujar Doni sambil membukakan pintu mobil untukku.

__ADS_1


Tanpa berkata apapun aku masuk ke dalam mobil, karena aku tau dia pasti suda berangkat dan meninggalkan ku sendiri. Aku benar-benar bodoh, aku sudah merenungi kesalahanku, kenapa bahkan suamiku pun enggan melihat ku sama sekali.


Aku terus melamun sepanjang perjalanan, dan tanpa terasa sudah sampai di bandara, dan kita terbang menggunakan pesawat pribadi milik Edward, saat aku berjalan ke pesawat aku melihat Edward baru akan naik ke pesawat, melangkahkan kaki di tangga perlahan, tapi aku terlalu takut untuk menyapanya, aku berjalan di belakang nya, tiba-tiba.


"Ibeth !" Suara yang sepertinya aku kenal memanggilku, aku membalikkan badan dan melihat ke belakang, dan itu benar-benar dia, Frans disini dan berlutut, terlihat dua bodyguard Edward menghalangi Frans untuk maju lebih dekat lagi.


"Beth, aku mohon maafin aku, aku tau aku salah, aku salah selama ini, aku mohon tolong maafin aku, aku sudah kehilangan semuanya, aku kehilangan pekerjaan, bahkan keluarga ku pun kehilangan pekerjaannya, Beth tolong jangan pergi aku mohon dengan setulus hati." Ujarnya memohon kepadaku.


Aku menuruni anak tangga dan berhenti tepat di anak tangga kedua.


"Sudah sekarat kamu baru mohon ampun sama aku? Kamu tau betapa memuakkannya manusia seperti kamu yang hidup hanya untuk menjadi beban dan masalah bagi semua orang, dan jangan pernah panggil aku Ibeth lagi, karena sekarang aku Elisha nggak akan pernah memaafkan sampah seperti kamu sampai seumur hidupku. Karena kamu pantas mendapatkan nya, kamu tau? Pembalasan dua kali lipat lebih sadis daripada apa yang sudah kamu lakukan" Ujarku dan langsung berbalik badan, saat aku membalikkan badan ternyata Edward berdiri di belakang ku melihat kejadian tadi, dan dia tersenyum kepadaku.


"Ayo masuk" Ujarnya kepadaku dan dia menuruni anak tangga menghampiriku, dan menggandengku masuk ke dalam pesawat.


Apakah dia benar-benar sudah nggak marah lagi?.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2